September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“GALUNGAN MEMENANGKAN DHARMA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Minggu, 25 Pebruari 2024).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Riuh, riang, terseok-seok, diragukan, dipinggirkan bahkan dimiringkan isu-isu menghentak kebangkitan dharma saat ini, dalam berbagai dimensi gerak jiwa dan karma bagi orang-orang akibat tersentuh dan teraliri energi suci semesta tanpa disadari. Gerak aliran energi suci semesta itu bergelora terselubung dalam jiwa-jiwa orang-orang yang tersentuh. Akibat dari semua gelora energi itu, menggerakkan pikiran dan membuat badan jasmani gelisah merindukan “Jawaban”. Upaya hingga menemukan jawaban itulah sifat-sifat dharma menembus kegelapan situasi duniawi. Ketika sudah demikian sifat-sifat suci dharma telah membawa manusia pada jalan “Kemenangan”, hingga saatnya tahap-tahap kemenangan tercapai

Kegelisan itu menjadi “Masalah” membangkitkan berbagai pertanyaan lalu memerlukan jawaban-jawaban. Itu artinya “Misteri” hadir meresapi jiwa, pikiran hingga benih-benih “Pengetahuan” muncul bergerak mencari jawaban di ruang-ruang “Pertemuan”, meresapi makna lalu misteri terbuka. Saat “Pertemuan” itu pertautan antara subyek-subyek pribadi tertuju pada obyek-obyek sasaran, yang tiada lain adalah “Penyebab” kegelisahan itu sendiri yaitu “Penyebab Yang Kekal Abadi”.

Realisasi kebenaran ini menjadi semakin jelas perlahan oleh pancaran “Subyek-Nya”, yang terberkati ini menjadi Guru Penuntun (Sad Guru). Artinya Subyek yang terpilih oleh Obyek atas Kuasa-Nya sendiri (Sat Guru). Menjadikan aliran kasih yang perlahan meresapi subyek-subyek pribadi itu. Kebenaran inilah amat sulit dipahami bagi kebanyakan orang, karena dilatari kualitas pengalaman hidup atas ketentuan karma menjadi bekal hidup yang berbeda-beda

Hubungan antara subyek dan obyek ini bersama-sama bergerak antara yang “Dibina” dengan “Pembina”. Semua itu bergerak melalui jalan bhakti, didukung oleh pengetahuan suci dan energi semesta, mengalirkan rasa damai dalam diri pribadi dan masyarakat yang semakin meluas. Ketika sudah demikian energi dharma telah meresapi diri sendiri dan bervibrasi pada lingkungan

Gelombang vibrasi ini bergerak dijiwai ketulusan, menjadikan energi dharma bagi selalu terhubung dengan sumber-Nya. Bagi pengusung-pengusungnya mengakibatkan jarak jauh bukan sebagai penghalang, tetapi justru menjadi pembangkit semangat, menghapus kerinduan jiwa untuk “Bertemu” dan “Menemukan”.

Bagaikan yatra atau perjalanan suci Sri Ganesha dan Kartikeya di bumi untuk menemukan percikan abu suci, Ibunya Dewi Sathi, ketika membakar diri-Nya saat suaminya Dewa Shiva dihina oleh ayah-Nya Prabu Dhaksa. Upaya ini dimaknai sebagai kewajiban dan pelayanan tulus kepada Dewa Shiva ayah-Nya sendiri, agar Dewi Mahakali bisa lahir di bumi dalam wujud wanita muda nan suci. Perjalan dan perjuangan suci ini, untuk membinasakan keangkuhan Banaasura sesuai janji tapanya yang diberkati oleh Mahadewa, yaitu dia akan bisa terbunuh oleh “Seorang Anak Kecil” Berkat ini disalah gunakan, dia membunuh seluruh anak-anak, demi kekuasaannya di bumi.

Gelora semangat, keberanian dan keyakinan Sri Ganesha, dan Dewa Kartikeya ini, tidak bisa dibayangkan dan tidak bisa diukur oleh logika kecerdasan berpikir, justru pikiran tertuntuk pada “kuasa kebenaran itu”. Saat itu jiwa yang murni sebagai pengendali prilaku. Kebenaran ini pula digambarkan dalam isi Bhagawad-Gita, bahwa Arjuna dibebaskan keraguannya atas ikatan hukum duniawi, agar siap melaksanakan kewajiban utama, sebagai seorang kesatria memerangi adharma di bumi. Dasar-dasar pengetahuan ini patut dipelajari, dihayati dan dilaksanakan dengan baik dan bersungguh-sungguh. Ketika sudah demikian dharma menjadi satu kesatuan antara keyakinan dan tindakan

Misteri ini “Membuka ruang” kebekuan mental, akibatnya terbukalah realitas baru berenergi baru yang segar membahagiakan. Realitas kebenaran ini menyadarkan bahwa dihadapan kita, ada realitas konvensional positifistik yang terukur untung dan rugi saja, kemudian menjadi dogma-dogma. Kebenaran dan kesucian, dapat membebaskan jiwa dari belengguan kebekuan konvensional dan dogma-dogma itu. Ketika sudah demikian energi suci dharma mencerdaskan dan menembus kegelapan maya

Realitas sosialnya, apabila muncul niat dan upaya baru untuk kemajuan tertentu, mereka berdalih “Merusak tatanan” atau tradisi tertentu. Kecerdasan memahami realitas kini dan angan-angan baru memerlukan kecerdasan metodologis nan psikologis. Agar hamonisasi antara nilai nan esensi dalam keragaman wujud (wiswarupam) tumbuh semakin harmonis

Sadar terhadap dua realitas itu, menggerakkan energi posotif dan negatif dalam diri sendiri menjadi energi yang berguna menjadi energi dharma menuju pencapaian hidup sejati. Ketika sudah demikian Dharma menyeimbangkan sifat dualitas dan mengangkat serta menyempurnakannya

Gelora gerak energi dharma ini sedang berproses semakin hari semakin besar dalam lubuk hati manusia, disadari atau tidak itu terjadi. Barang siapa yang telah menyadari, siap membangkitkan dan memelihara dengan pelayanan kebajikan tertentu, maka energi itu akan semakin besar menyelamatkan umat manusia dari kemunafikan dan kemerosotan moral yang semakin menggerus saat ini.

Ketika keyakinan ini ditempatkan sepenuhnya dalam diri sendiri, maka “Dialah Sang Jati diri” yang siap memberi sesuatu pada nusa dan bangsa. Itulah makna sesungguhnya “Kemenangan dharma”, yang selalu diperjuangkan selama hidup. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi dharma kebajikan, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!