September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SANYASINI, KETELADANAN SEORANG WANITA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Sabtu 02 Maret 2024).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Setelah Sri Rama dan Laksamana membebaskan Raksasa Kadamba dari kutukan Dewa Indra. Sesungguhnya dia adalah makhluk sorgawi, karena kesombongannya dikutuk oleh Dewa Indra menjadi raksasa yang sangat menakutkan. Mulut bertaring panjang, berambut gimbal, berlengan panjang tak berbadan. Dia memangsa binatang apa saja yang lewat di sekitarnya. Kutukan itu akan berakhir setelah Sri Rama memotong tangan lalu membakarnya, demikian pesan Dewa Indra kepadanya. Setelah melakukan permohonan, lalu Sri Rama merestui permohonan raksasa itu, keluarlah wujud aslinya, lalu memberi pesan kepada Sri Rama agar menemui Raja Sugriwa di hutan Rasyamuka, untuk membantu pencarian dan menemukan Dewi Sitha. Lalu wujud asli Raksasa Kadamba kembali ke Sorga.

Dalam perjalanan menuju Kerajaan Sugriwa, Sri Rama mengunjungi Ashram pertapaan Rsi Matanga yang amat suci. Rsi Matanga telah mencapai “Alam pembebasan”. Saat itu murid setianya seorang perempuan bernama Sabari, ingin ikut bersama pergi ke alam keabadian. Namun sebelumnya Rsi Matanga tidak mengijinkan, dan menyuruh Sabari untuk merawat ashram pertapaan ini, hingga Sri Rama datang untuk membebaskannya.

Perintah dan sekaligus dimaknai sebagai anugrah oleh Sabari dengan penuh keikhlasan dan keyakinan. Setiap hari dia menyiapkan bunga-bunga warna-warni menghias jalan pintu masuk ke ashramnya, berdoa membayangkan Sri Rama hadir. Sambil merawat ashram, memelihari tanaman buah-buahan, memberi makanan kepada binatang-binatang hutan yang selalu bersahabat penuh kasih.

Kegiatan memasang dan menghias jalan pintu masuk dengan bunga warna warni nan indah setiap hari itu, mengakibatkan para pertapa lain di sekitarnya menganggap Sabari sebagai nenek gila, melakukan pekerjaan sia-sia. Tetapi cibiran dan hinaan itu sedikitpun tidak menggoyahkan iman keyakinan Sabari, walaupun belum jelas sampai kapan sadhana itu mesti dilakukannya. Sabari si wanita tua keriput berwajah cemerlang itu, tetap meyakini dan melaksanakan perintah dan petunjuk Gurunya.

Kini Sang Waktu telah menjawabnya, tibalah Sri Rama di Ashram Pertapaan Rsi Matanga di tepi sungai Pampa yang amat indah nan suci mendamaikan itu. Betapa bahagianya Nenek Sabari menyambut kehadiran Sri Rama dan Laksamana. Kucuran air mata mengalir deras membasahi pipi nenek Sabari, menetes mengalir membasahi tubuh. Bagaikan amritham sanjiwani yang membasuh seluruh tubuh dan menyucikannya. Lalu mempersilahkan Sri Rama memasuki ashram, lalu Nenek Sabari menghidangkan buah-buahan segar yang tumbuh subur di sekitar ashram. Setelah menyambut dengan penuh kasih dan cerita-cerita singkat tentang keberadaan ashra, sambil melepaskan kerinduan panjangnya. Lalu Nenek Sabari mengajak Sri Rama menuju ke tempat Rsi Matanga melakukan pertapaan.

Saat itu Sri Rama sangat kagum merasakan getar energi suci pertapaan itu, masih hidup dan bersinar cerah terang benerang. Semuanya itu terjadi akibat ketulusan bhakti Sang Pertapa. Saat itulah Nenek Sabari mohon kepada Sri Rama, untuk menjelaskan hakekat dan esensi bhakti yang sesungguhnya. Sri Rama kemudian menjelaskan hakekat dan penyerahan diri melalui bhakti dan pengabdian yang sesungguhnya. Kebenaran inilah yang telah terlaksana dengan penuh ketulusan di ashrama ini.

Mendengar wejangan suci Sri Rama itu, nenek Sabari merasa sangat bahagia. Seluruh dosa-dosa kegelapan terbakar habis oleh kuasa pencerahan yang amat suci. Nenek Sabari sontak sujud di kaki Sri Rama, dan berpesan serta menunjukkan tempat Raja Sugriwa. Lalu Nenek Sabari terbebas dari ikatan jasmani duniawi, menyatu dalam sifat-sifat Nirguna Brahman.

Narasi kisah Nenek Sabari ini, memberikan makna serta spirit keimanan yang kuat dan tangguh, sebagai bhakti Guru, Guru Sad yang ada di luar dirinya dan Guru Swadyaya yaitu Guru Atman yang ada di dalam dirinya. Semuanya itu adalah swadharma menuju dharma sejati. Penggambaran Sri Rama sebagai Awatara yang menjawab doa-doa dan pengabdian tulus nan suci. Perjalan atau yatra orang-orang suci penegak dharma di bumi, membangkitkan jiwa-jiwa yang tenggelam dalam kegelapan dan menjawab serta membebaskan menuju kedamaian abadi. Pengetahuan memuliakan diri inilah yang diajarkan Rsi Walmiki kepada umat manusia di dunia.

Betapa pentingnya memahami dan belajar melaksanakan nilai-nilai kebenaran di zaman Kaliyuga ini. Realitas menunjukkan bahwa nilai-nilai kesucian wanita sekarang ini sedang dirontokkan oleh dirinya sendiri bersahabat dengan lawan jenis, terkendali sifat asura dengan tujuan-tujuan napsu nikmat sesaat, berdalih-dalih dalam pembenaran. Lalu amat beresiko dalam kontek sosial, hingga menjadi beban sosial yang amat mengerikan. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!