News

“AURA KASIH”

“NYEPI”…. “Sepi Dalam Kesadaran Mulatsarira”

Oleh:  I Ketut Murdana (Minggu, 10 Maret 2024).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Melaksanakan sadhana Catur Brata Penyepian, adalah upaya inspiratif menata pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Kaya Parisudha), yang menempatkan pemberdayaan dan penguatan terus menerus pada masing-masing individu terkondisi kesadaran. Menguatkan kemeriahan ritual dan budaya, melalui tattwa dan prilaku kebajikan yang mampu menembus segala bentuk kegelapan, menuju jalan terang yang berpengetahuan inteletual dan spiritual (material dan spiritual). Sudah seharusnya pembangunan mentalitas kerohanian seperti ini, menjadi prioritas di tengah-tengah arus jaman Kaliyuga seperti sekarang ini.

Untuk mencapai keseimbangan keduanya, maka sudah seharusnya seluruh umat Hindu belajar penguatan sastra dan sarada bhakti yang sungguh-sungguh. Keengganan untuk belajar dan bersadhana mesti dibangkitkan dan didorong oleh para tokoh, para suci, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan seterusnya.  Bukan dibiarkan melorot dan meredup menjauh dari esensi ajarannya, hingga menjadi kebiasaan lalu dianggap sebagai “kebenaran”. Akibat dari semua itu melahirkan sikap dogmatis yang tidak sehat dan mencerdaskan. Kebekuan masalah besar ini, mesti dicairkan dengan perbuat baik, benar, jujur dan tulus ikhlas (Karma Kanda) serta sadar terkendali menuju jalan pembebasan (Karma Jnana).

Regulasi dan proses edukasi ke arah itu mesti terlaksana secara sungguh-sungguh terorganisasi dan terpimpin. Institusi formal dan non formal telah menjawab sebagian masalah, tetapi masih banyak menyisakan masalah yang patut dikerjakan bersama-sama. Sisa masalah inilah memerlukan kesadaran umat utuk melakukan pelayanan (seva), sebagai tahapan bhakti yang sesungguhnya, mulai dari dalam diri sendiri, dan pada saatnya akan bervibrasi kepada lingkungan sekitar. Jiwa dan rasa kebenaran ini merelefleksikan rasa damai, yang membahagiakan bagi siapa saja yang tersentuh.

Konstruksi dan konfigurasi nilai-nilai keluhuran ini telah diwariskan oleh prilaku luhur para leluhur kita, hingga telah dirasakan kebenarannya bagi orang-orang di seluruh dunia yang datang ke Bali. Merenungi, meresapi, memaknai lalu membangkitkan kesadaran terhadap keteladan suci itu, lalu merumuskan prilaku berbudaya yang bermartabat demi masa kini  menuju masa depan yang lebih cemerlang adalah penghormatan sesungguhnya kepada “Keluhuran para Leluhur”.

Bukan sebaliknya terus menerus mencemari nilai-nilai kesucian alam dan pengetahuan suci penyeimbang kehidupan dengan berbagai dalih, dan kerusakannya hanya dipoles dengan konsep politis lemah komitmen. Ajaran puasa dan tapa brata yang tersaji dalam Catur Brata Penyepian banyak diplesetkan menjadi, kepuasan indriya-indriya dan pemuasan hawa napsu. Oleh karena itu betapa pentingnya edukasi dan penyadaran praksis menghabitus hingga tumbuh sikap prilaku yang “membiasakan kebenaran dan kebajikan”

Menyepi dalam sepi, mulatsarira berniat mengatasi segala kekurangan, kesalahan mohon pengampunan, mohon petunjuk serta tuntunan-Nya adalah jalan para widya berorientasi duniawi dan cara membebaskan ikatannya mencapai kebebasan sejati, hingga “hari Raya Nyepi benar-benar sepi hening dalam upaya penyucian diri”. Penghormatan dunia terhadap upaya yang luar biasa ini, mesti menjadi konstruksi dan konfigurasi nilai-nilai dan kepatutan rasa hormat. Artinya penghormatan dunia terhadap prilaku nilai-nilai keluhuran benar-benar menjadi satu kesatuan utuh. Kehormatan bagi “yang” dihormati dan kehormatan bagi “yang” menghormati bersatu padu memvibrasikan kebajikan nan suci, untuk kedamaian seluruh alam beserta segala isinya. *** Semoga menjadi renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments