September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PERJUANGAN DAN PENGORBANAN”

Oleh : I Ketut Murdana (Senin, 15 April 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Dewi Kunti terisak sedih menangisi cucunya Abhimanyu yang gugur dalam perang Bratayudha, yang dibunuh beramai-ramai akibat tidak bisa keluar dari jeratan Cakrawayu, strategi Guru Drona memenangkan perang. Di hadapan Sri Krishna, Dewi Kunthi memohon perlindungan keselamatan para Pandawa menghadapi perang. Saat itu Sri Krishna menjawab: Ibu, setiap perjuangan, apalagi perjuangan menegakkan dharma memerlukan pengorbanan yang sangat besar.

Pengorbanan besar ini telah Ibu lakukan, melalui pengorbanan jiwa dan raga cucu-mu Ibu Abhimanyu tersayang. Namanya akan dikenal sepanjang waktu, sebagai seorang Kesatriya hebat. Akibat keberaniannya dia akan dikenal dan diharumkan melalui pengorbanannya, yang telah memberi andil besar terhadap dharma itu sendiri. Itu artinya dharma mengangkat dan membuka jalan menyatukan jiwa suci pengabdiannya kepada dharma itu sendiri. Tidak semua orang memperoleh kesempatan baik dalam pengabdian dharma seperti ini Ibu.

Aku tidak ingin Ibu menangisi pengorbanan mulia itu, lalu larut dalam kesedihan, yang dapat mengubah nilai kasih sayang itu, menjadi kabut yang menutupi kemuliaan pengorbanannya. Ketika dibandingkan pengorbanan nyawa putra-putra Dhrestaratha dan Ibu Dewi Gandhari pengorbanan Ibu belum sebanding. Karena mereka berada di pihak adharma. Itu artinya Ibu telah memberi andil besar siap berkorban untuk negara menegakkan dharma. Betapa malunya apabila itu tidak terjadi, Ibu sebagai Ratu Asthina Pura, tentu tidak akan dihormati oleh seluruh rakyat.

Sedangkan bala tentara rakyat rela mengorbankan diri demi Asthina Pura dan kemenangan dharma yang lebih besar. Saat itu Dewi Kunti terperanjat sadar akan keberadaannya sebagai seorang Ibu Ratu Asthina Pura lalu menghapus air matanya, lalu memohon kepada Sri Krishna agar selalu melindungi putra-putranya dalam perang Bratha Yudha. Sifat-sifat kesatriya seperti ini sangat diperlukan oleh negeri Nusantara saat ini, bukan hanya berharap.

Tetapi bangkit dan bangunlah jiwa-jiwa patriotik negeri ini, yang sedang digoyang-goyang ideologi “Beraneka wajah” yang ingin merorong persatuan dan kesatuan untuk dikuasai. Berpura-pura bernaung, berkedok humanis mengusung spirit, lalu menjadi parasit yang menyedot dan mematikan perlahan energi pohon yang ditumpangi, lalu menguasai. Tentu perjalanan historik mesti menjadi pelajaran berharga, terutama bagi pemimpin-pemimpin bangsa yang telah menawarkan diri lalu telah diberi kesempatan untuk itu. Jadikankanlah kekuasaan dan kekuatan serta kesucian hati nurani bangsa ini, untuk bersatu padu, selalu sadar dan berjuang mensejahterakan rakyat.

Bukan menggunakan kekuatan asura untuk menguasai negeri ini demi memperkaya diri, menyengsarakan rakyat. Tetapi ingatlah alam semesta dengan kuasa-Nya tidak buta, seperti orang-orang yang dikuasai napsu yang membutakan dirinya. Kebesaran kuasa-Nya yang tak terbatas selalu menyaksikan, hingga dalam waktu sekejapun bisa dihancurkan. Walaupun demikian jiwa-jiwa pemimpin bangsa yang dikuasai sifat-sifat asura tidak pernah jera ataupun takut sedikitpun. Mereka selalu merencakan strategi baru dengan kecerdasan dan kekuatannya untuk menguasai.

Dalam menghadapi posisi jaman yang didominasi kekuasaan asura inilah, perjuangan berat baik secara fisik maupun mental psikologis meresapi hati nurani, bisa konsentrasi tertuju kepada doa permohonanan yang tulus suci kepada Yang Maha Kuasa, agar abdi-abdi atau kesatria-kesatria dharma diberkati kekuatan untuk menembus kegelapan jiwa-jiwa asura yang menggelapkan atmosfir duniawi ini.

Merenungi dan memaknai purana itihasa salah satu cara membangkitkan semangat pengabdian untuk kesejahteraan dunia, hingga esensinya tidak sekedar menjadi tontonan dan tuntunan tetapi menjadi prilaku nyata dalam kehidupan. Menempatkan dan menyiapkan diri dalam kesadaran seperti itulah sesungguhnya kesiapan menawarkan diri sebagai pemimpin.

Bukan sekadar mengganti suara rakyat dengan kuasa material dengan berbagai cara. Lalu menimbun kekayaan berbeda-beda nama untuk mendongkrak kekuatan kekuasaan berikutnya. Apabila sudah demikian esensinya telah meresapi jiwa dan hidup menjadi dharma kesatria dalam penyempurnaan hidup mencapai kedamaian abadi. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!