September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SPIRITUAL DI DUNIA MATERIAL”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rabu, 24 April 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Terkadang terasa aneh, ketika orang-orang sibuk memikirkan bahkan menghabiskan semua waktunya untuk meraup rejeki. Jasa dan pelayanan yang tiada henti non stop dua puluh empat jam terisi kesibukan mengeruk material duniawi. Keberhasilan di ranah ini dimaknai sebagai suatu keberkahan. Realitasnya memang nyata bahkan berlimpah seperti itu. Lalu melahirkan sikap dan memvibrasikan sikap kebenaran “subyektif” itu, bahwa apabila “tidak ada uang, tidak ada berkat”. Lalu  para pencerah jiwa keimanan membangun sarada bhakti, “tidak perlu diikuti dan cepat-cepat ditinggalkan”. Demikianlah seloroh penekun spiritual pemuja material.

Seloroh bahkan pendapat seperti ini memang juga ada benarnya, apabila tidak ada uang tidak bisa berbuat apa-apa. Ingatlah juga bahwa uang atau material kebendaan, bila teledor dan salah guna, tidak tepat sangat cepat menghancurkan diri sendiri, keluarga anak cucu dan lingkungan sekitarnya. Setumpuk bukti masalah terbentang dihadapan semua orang, diingatkan oleh Yang Maha Kuasa agar bisa sadar bahwa dibalik manfaat uang adalah segala-galanya, tetapi uang juga bukan segala-galanya, sebagai sisi gelap maya yang melekat terkondisi di dalamnya. Seenak apapun buah-buahan itu, apa bila tidak mengenal efek negatifnya, serta tak terkendali saat memakannya pasti menimbulkan penyakit.

Ketika seseorang berlimpah uang tetapi bila tidak siap dikerumuni oleh orang-orang miskin peminta-minta, juga sangat menyusahkan. Sakit tak kunjung sembuh, lalu tidak bisa menikmati makanan dengan baik, keluarga, anak cucuk selalu berebut dan bertengkar berebut warisan, tikam menikam, bunuh membunuh dan seterusnya. Dapatkan kebahagiaan itu dibeli dengan uang dan kelimpahan materi seperti itu. Tentu amatlah sulit. Itu artinya uang atupun material duniawi hanyalah sebagai kebahagiaan semu, yang selalu datang dan pergi. Maka uraian sloka kitab suci menyatakan material itu akan sangat berguna ketika digunakan untuk melayani tujuan kebajikan penyempurnaan diri mencapai kesejatian diri. Saat itulah rasa kebahagiaan terjadi karena orang lain ikut menikmati. Bagaikan pohon beringin yang rimbun banyak makhluk hidup bisa berlindung dan berteduh termasuk makhluk astral lainnya. Oleh karena itu pohon beringin disayangi banyak orang, walaupun mengambil ruang yang cukup luas untuk hidup.

Dalam tattwa filsafat digambarkan oleh orang-orang suci Nandhi wujud sapi jantan berwarna putih, selalu mengabdi kepada Dewa Shiva. Itu artinya sikap kejantanan (Kesatria) yang sejati mengabdi kepada Dewa Shiva, hingga digambarkan dalam simbolik agar mudah dipahami bahwa Nandhi sebagai wahana Dewa Shiva.  Nandhi ditemani Nandhini berwujud sapi betina berwarna hitam melambangkan sifat-sifat gelap (maya) material duniawi, yang mesti dibebeskan dan ditulus ikhlaskan dalam pengabdian dharma kebajikan mencapai kedamaian.

Oleh karena demikian bergerak di dunia material duniawi mesti memahami etika dan sopan santun, agar bisa memperolehnya dengan baik menjadi swadharma yang dilandasi sifat-sifat kebajikan dharma untuk dharma itu sendiri. Bukan hanya sibuk menggilakan diri dalam kesombongan material duniawi yang justru memeras tenaga  dan pikiran orang lain untuk kebesaran sendiri. Akibat dari semua itu lahirlah doa-doa negatif, doa-doa setan yang menghancurkan bagi orang-orang yang diperas dan dirugikan. Realitas inilah sifat gelap maya yang menggelapkan rohani manusia dalam keasyikan tersendiri, lalu “lupa segala etika” hingga dalam waktu singkatpun kehancuran terjadi.

Oleh karena itu mengikuti betapa pentingnya memahami, memaknai, meresapi lalu melaksanakan petunjuk suci yang menyelamatkan secara baik dan teratur dan tertuntun oleh kasih-Nya yang mendamaikan, hingga akhirnya “kedamaian” menjadi anugrah yang sejati. *** Semoga menjadi renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!