Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

 

“SEKILAS TENTANG KEESAAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 24 Mei 2024).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Kepercayaan akan keesaan Tuhan, dapat menciptakan kesatuan dan komunikasi, menggabungkan, menghubungkan dan mendamaikan. Semakin kuat kepercayaan tentang keesaan Tuhan itu, semakin kuat juga kesatuannya. Makin kuat pula hubungan manusia itu dengan asal muasal yang satu itu, demikian pula integrasinya sendiri. Demikian pandangan Karl Jaspers seorang filosuf eksistensi yang ditulis kembali oleh Harry Hamersma.

Dalam kontek ini dipahami sebagai kesatuan yang bersifat vertikal dan horisontal. Kesatuan ini menempatkan kesadaran tentang keberadaan diri sendiri dan keberadaan sifat keesaan-Nya. memposisikan kesadaran yang meresapi jiwa menuntun cara berpikir, bernalar dan berperilaku, menjadi kesatuan kuantitatif meningkat menjadi kesatuan kualitatif, dalam artian penggabungan yang harmoni ragam identitas dengan segala keunikannya. Menyatu dalam pandangan rasa persaudaraan satu kosmik, menjadi kesadaran kosmologis.

Akibat  dari kesadaran semua itu menjadi kualitas-kualitas unggulan yang dilandasi prinsip-prinsip “Keselarasan”, misalnya percaya terhadap “Kebenaran tertinggi”, “Kebenaran mutlak”, “Peradaban mulia”, Obyek dan Subyek Kemuliaan,  dan lain sejenisnya. “Kebenaran tertinggi”  merupakan nilai-nilai yang terwujud melalui proses panjang karma prilaku, melahirkan pengalaman jasmani dan rohani yang berhubungan, bersentuhan dalam memahami sifat-sifatnya, hingga menemukan serta mencapai nilai kebenaran-kebenarannya. Nilai-nilai kebenaran ini dapat dirasakan memberi jawaban terhadap semua harapan hidup dalam proses ruang dan waktunya sendiri.

Akankah pandangan kebenaran tertinggi ini bergulir menempati posisinya?. Secara predikat kata kebenaran tertinggi ini, merupakan konstruksi bernalar yang disepakati menjadi teks gugus pengetahuan sebagai konfigurasi, atau juga seringkali disebut “Candi-candi pengetahuan”, bergerak dalam ruang dan waktunya. Artinya konfigurasi atau gugus itu pasti berkembang dan berubah setiap saat, mencair bahkan bisa menyatu kembali. Gerak kosmologis ini melahirkan  “Dunianya masing-masing”, misalnya dunia seni, dunia ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Tentu kualitas isi dan keberagamannya berkembang, bergulir mengisinya, menjadi kualitas jamannya.

Saat inilah “Ruang berpikir konvensional menghadapi perubahan. Saat inilah gesekan bahkan konflik-konflikpun yang bersekala kecil dan besarpun seringkali terjadi.  Selanjutnya “Arus agresif terbuka membuka pembaharuan” saling menempati alurnya masing-masing. Kedua kutub alur perjalanan itu, melahirkan artefak-artefak yang bersifat fisik yang mengakomodasi prinsip dasar prilaku hidup dalam kehidupan jamannya. Maksudnya kesadaran terhadap kebutuhan yang berkembang, dan kesadaran terhadap penetapkan pola-pola  hidup konvensional. Realitas dan pandangan hidup inilah mengisi ruang duniawi.

Panatisme terhadap prinsif-prinsif keesaan yang dipahami sebagai kebenaran tertinggi, dalam dunianya masing-masing, lalu menjadi kultus berakibat despotisme terhadap pembenaran tindakan dan upaya-upaya “Pengukuhan” yang mengakibatkan kebenaran yang dipandang sebagai kebenaran tertinggi, bahkan pandangan keesaan Tuhan menjadi tindakan eksklusif. Akibatnya prilaku beragama dan berbudaya yang semestinya meluhurkan martabat manusia, berubah menjadi tindakan kekerasan yang meresahkan. Dinamikika ini sekarang sedang berkembang melanda dunia, sebagai ego-ego yang ingin saling menguasai. Itu artinya kesadaran humanis berubah menjadi kesadaran asura.

Demikian pula apa yang digambarkan Maha Rsi Walmiki dalam Cerita Ramayana bahwa, Rahwana menjadi pemuja Shiva yang terbaik. Akibat meresa menjadi pemuja terbaik, keinginan dan napsu egonya, melampaui batas toleransi. Memohon kepada Dewa Shiva agar diberkarti memindahkan dan membawa Linggam-Nya ke Kerajaan Alengka. Dewa Shiva yang penuh kasih kepada pemuja-Nya memberkati. Tetapi Dewa Ganesha diberikan signal membangkitkan kepekaannya, untuk menyelesaikan masalah itu. Melalui tipu daya yang amat cerdik Dewa Ganesha berhasil menggagalkan niat egoistik Rahwana yang ingin menguasai anugrah Dewa Shiva hanya untuk kesejahteraan rakyatnya saja.

Upaya dan penguatan pandangan keesaan yang humanis religius itu, memerlukan edukasi, pertahanan dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Mulai dari pemegang-pemegang kendali pengetahuan spiritual dan material dalam bidang dan ruangnya masing-masing. Edukasi ragam karakter dalam berbagai tingkat menjadi persoalan besar yang mesti dilakoni oleh bangsa ini.

Sadar terhadap kehidupan berbangsa dengan pemahaman prinsip-prinsip keesaan Tuhan, adalah kesatuan kosmologis nan suci, menciptakan rasa damai. Pembangunan dan perjuangan bersama ke arah itulah refleksi karmanya. Semuanya itu tugas besar Guru-guru Wisesa memuliakan kewajibannya, mengedukasi dan mengayomi rakyat, bersama, bukan hanya berebut hak kemewahannya saja, hingga mengakibatkan penderitaan rakyat yang semakin kelam. . *** Semoga menjadi renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments