
“AURA KASIH”
“JIWA-JIWA YANG TERSENTUH KASIH-NYA”
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu, 13 Oktober 2024).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Jiwa-jiwa yang terbuka, dibuka oleh kasih-Nya menjadi semakin sadar akan tugas dan kewajiban mengemban swadharma. Menempatkan kesadaran diri, yang selalu dahaga energi suci yang mengalir dari pengetahuan suci. Melahirkan hasrat berdedikasi karma jnana menjadi Karma Yoga sebagai “yadnya” penyempurnaan.
Saat itulah kebekuan mental (kegelapan dosa) terhapus perlahan, menjadi semakin cerah saatnya mencapai kecemerlangan itulah “kepastian” yang lahir bergerak terus meyakini. Bagaikan penggali sumur di bawah tanah pasti ada air. Ada realitas pasti juga ada dibalik realitas tersembunyi yang menjadi “Penyebabnya”. Oleh karena itu DIA adalah Sebab dan DIA adalah Penyebabnya.
Merasakan, memaknai mencapai guna adalah upaya merefleksikan totalitas inheren nan vital pengetahuan material dan spiritual. Semuanya itu terjadi melalui aliran kasih-Nya yang disebut anugrah dari proses karma yang panjang tiada henti. “Itulah kehidupan”, berhentinya masalah berhentilah hidup dalam kehidupan. Terbatasnya hidup dalam kehidupan ini, DIA menempatkan DIRINYA sebagai Sang Waktu yang mengatur agar ciptaan-Nya teratur. Awidya atau ketidaksadaran (Acettana) ini membuat manusia tidak bisa diatur, lalu bergerak ingin menguasai keteraturan dialah sifat asura yang ingin selalu berkuasa. Lalu memerangi, mencari kelemahan dan kelengahan untuk menyerang dan menundukkan.
Pergerakan semuanya itu ada dalam diri setiap insan manusia. Oleh karena itu “eling ring raga”, adalah kesadaran untuk berada dalam keteraturan energi semestà menuju kesejatian diri. Walaupun semuanya itu belum, sedang dan sudah terbuka secara baik dan benar, disinilah renungan kesadaran beredukasi mencapai kebijaksanaan. Agar terlepas dari kungkungan ego emosional berubah menjadi kesadaran diri yang sejati….
Disinilah perjuangan. keberhasilan dan kualitasnya dibatasi ruang dan waktu…oleh karenanya betapa pentingnya mengisi dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk penyempurnaan diri. Walaupun sahabat pendukung gerak kesadaran ini, masih sedikit, masih bermasalah dalam ragam ikatan yang dianggap benar atau dibenar-benarkan, hingga sulit melepaskan diri. Sehingga bayangan dan realitas menjauh. Menciptakan kebingungan yang semakin panjang. Oleh karena itu, sadari ikatan agar tidak menjerat lalu menjadi kekuatan toleransi, yang tumbuh bekembang dalam diri seleras bangkit berenergi suci. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments