September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“PENGETAHUAN MERESAPI PRILAKU”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 01 Januari 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Dunia infomasi yang amat canggih dan konfrehenship, sangat mudah untuk mengetahui sesuatu, yang diminati ataupun yang disukai. Lalu dipahami, dimaknai agar bisa menghasilkan sesuatu yang bersifat material, lalu bisa berkembang menjadi profesi. Dalam kontek ini pengetahuan yang diawali upaya ingin mengetahui lalu bisa mewujudkan melalui gagasan praksis untuk memperlancar kebutuhan manusia meningkatkan tarap dan martabat hidupnya lahir dan bhatin. Ketika sudah demikian pengetahuan telah medeterminasi dan dideterminasi sifatnya, meresapi subyek menemukan wujudnya yang “berguna” untuk kesejahteraan umat manusia. Itu artinya pengetahuan telah mempribadi memasuki subyek, lalu bisa bervibrasi untuk masyarakat luas.

Ketika berbicara pemahaman pengetahuan dan wujud rupanya merupakan satu kesatuan untuk mencapai “guna”. Wujud rupa yang berguna itu memiliki dua sifat yaitu bersifat material yang “menyenangkan” dan bersifat spiritual yang “membahagiakan”. Pengetahuan material bersifat terindrawi, wujudnya selalu berubah, berkembang sesuai kebutuhan. Akibatnya wujud ragam cipta, selalu berganti-ganti meninggalkan wujud lamanya, mencari dan menemukan wujud baru, memenuhi selera mode jamannya. Proses menemukan ini disebut dunia kreatifitas dan inovatif.

Dalam dunia desain disebut “mode”. Mode berpakaian, mode rumah, peralatan, tranfortasi angkutan udara, laut, sungai, daratan dan lain-lainnya, dari jaman ke jaman dalam berbagai suku selalu berubah. Tetapi esensi dasarnya adalah “kebutuhan” yang beragam substansi tak berubah, tetapi berkembang dan meningkat kualitasnya, yang disebut “perubahan yang menyempurnakan”. Menyempurnakan dalam kontek ini berarti telah tersenyuh sifat Sang Maha Karya, hingga sadar terus menerus meningkatkan, kualitas martabatnya. Semua itu ditentukan oleh kualitas berpikir dan berprilaku.

Berpakaian adalah menutupi hal-hal yang patut dirahasiakan, karena manusia berakal kepatutan normatif yang disebut budi hingga “memiliki rasa malu”. Semua itu dilakukan dengan cara memperindah gaya sesuai selera kultur. Sekarang berubah menjadi selera minimalis, yang konon agar tidak meribetkan. Ada yang benar-benar menutupi, ada yang menutupi tetapi samar-samar menampakkan wujudnya. Dan ada pula yang menutupi bagian tertentu saja dan yang lain terbuka luas.

Semuanya itu tercipta dari gagasan tertentu dengan tujuan tertentu sesuai kultur dan juga anti kultur yang disebut “kebebasan” dalam artian penguatan hak asasi manusia, hingga juga menjadi “kultur baru”. Dari selera dan kultur berinteraksi menghasilkan rancangan baru, menempatkan desainer dan pemakainya berwawasan luas. Akibatnya terciptalah “merk” yang mendulang “gensi sosial” yang mempribadi. Berbeda dengan masa lalu seni budaya tercipta di masa lalu tanpa merk pribadi tetapi menjadi kultur komunitas yang mengagumkan. Untuk menguatkan identitas penciptaan pribadi itu, dikuatkan oleh hak cipta dan perlindungan undang-undang.

Itu artinya pengetahuan yang menyentuh, mengalir menjadi ide, gagasan, proses penciptaan, penyempurnaan, serta hubungan relasi yang apresiatif. Itu artinya pengetahuan telah lebur menjadi kesatuan wujud manunggal dan berguna. Guna yang dimaksud bahwa pengetahuan material telah dialiri dan dijiwai serta dikuatkan oleh pengetahuan spiritual, menjadi spiritual di ranah sosial duniawi.

Ketika kesadaran ini menguatkan jiwa insan-insan kreator duniawi, maka hubungan pribadi dengan sumber pengetahuan itu sendiri terjadi dengan sendirinya, hingga sadar menghormati dan memuliakan kebesaran-Nya terjadi dalam setiap ciptaannya. Itu artinya kuasa dan esensi penciptaan-Nya, mengalir dan meresap dalam dirinya, menjadi sarana atau wahana sifat kuasa penciptaan-Nya.

Kerja apapun sesungguhnya ketika disadari atas hubungan itu (karma-yoga) akan menghasilkan sesuatu yang baik dan berguna.  Insan-insan yang menyadari kebenaran itu disempurnakan oleh sifat Maha Karya menjiwai kerja materialnya, menjiwai kesadaran spiritualnya. Menjadi prilaku pelayanan sesungguhnya. Realitas kebenaran inilah di dunia saat ini, sedang menghadapi kepincangan besar (patholigy sosial). Sebagian besar masih luput dari upaya menyadari realitas esensialnya, bahwa rumah besar (alam semesta) itu memerlukan keseimbangan kerja dan bhakti, melalui gagasan yang terorganisasi di rumah kecil tubuh dan jiwa kita masing-masing.

Menyeibangkan gagasan dan prilaku suci melalui rumah kecil ini. Walaupun sesungguhnya telah diajarkan secara formal maupun non formal, diundangkan dan dilindungi, tetap menjadi masalah yang tak terselesaikan, itulah realitas kehidupan. Realitas dan dinamika masalah yang tersedia inilah ruang edukasi, sebagai proses penyempurnaan. Tidak semua insan siap memandang “kebenaran” seperti itu, tetapi terbalik sebagai pemuasan napsu dan kesenangan, hingga melawan pengendalian diri menjadi terobosan penguat napsu.

Tugas kewajiban penyempurnaan ini memang tidak mudah, untuk diwujudkan, karena diredam oleh keterbatasan serta kemalasan berpikir dan berprilaku yang dikuasai napsu. Saat-saat inilah kesadaran berpengetahuan dan berguru menjadi esensial nan vital. Karena edukasi adalah sifat-Nya sebagai penyempurna mengembalikan sifat-sifat suci yang mengalir meresapi insan-insan ciptaan-Nya. Akibat kuasa itu, maka para suci menyebut Bhatara Hyang Guru. Ketika keluhuran ini meresapi jiwa insan-insan manusia, lalu bervibrasi membangkitkan dan menggerakkan perlahan mencapai kesadaran spiritual, maka Dialah Leluhur yang diluhurkan oleh pengetahuan suci dan pengabdiannya.

Bukan semata-mata keturunan biologis tetapi berkat sejati dari upaya penyempurnaan hidup dan jasa pelayanan kepada-Nya. Tetapi secara biologis tetap menjadi catatan historik atas jasa-jasanya. Pemahaman kedua persoalan inilah sekarang menjadi masalah di dunia material, karena jasa keluhuran lebih dimaknai sebagai penguasaan material, dari pada membebaskan kuasa material mencapai kedamaian duniawi dan kedamaian sorgawi. Ciri-ciri suasana ini menempatkan pemahaman teks pengetahuan dan esensi suci-Nya, memerlukan pemahaman esensial diranah material dan sadar penyempurnaan di ranah spiritual.

Bukan berbalik hingga menimbulkan disvalue yang menimbulkan kegoncangan sosial yang tak pernah berakhir. Dinamika ini justru membebani bangsa dan negara, pengetahuan spiritual yang seharus mencerdaskan dan mendamaikan justru bebalik membodohi dan menindas rakyat menjadi semakin kabur dan buta kebenaran sejati. Oleh karena itu waspada dan terus belajar yang baik, benar dan suci, agar tak terjajah oleh penjajahan spirit, bagaikan Pedanda Baka dalam ceritera Tantri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!