September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEMULIAAN DOA SEORANG IBU MELAHIRKAN PUTRA PENEGAK DHARMA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin, 17 Maret 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Konon ribuan tahun yang lalu pada jaman Treta Yuga, ada seorang Brahmana bernama Rsi Kasyapa, ayah dari para dewa termasuk Dewa Indra dan para Asura. Rsi Kasyapa menikahi dua orang Dewi yaitu: Dewi Adhiti dan Dewi Dhiti, putri Prabu Dhaksa. Dewi Adhiti melahirkan para dewa (Adhitya) dan Dewi Dhiti melahirkan para asura (Detya atau para dhiti). Para asura memiliki seorang raja yang amat sakti mandraguna bernama Vali, putra Raja Waerochana, cucu dari Raja Prahlada. Para asura dan para dewa hidupnya selalu bersebrangan dan berperang. Akibat kesaktian Raja Asura Vali, berhasil mengalahkan para dewa dan menguasai seluruh dunia. Karena sudah mampu menguasai dunia, Raja Vali ingin menguasai Surga.

Dalam upaya mewujudkan keinginannya itu dia menyusun strategi penyerangan, yang dilakukan bersama dua orang mentrinya bernama Kumbhanda dan Kupakarna. Ke seratus (100) putranya ikut bersama-sama melakukan penyerangan, diiringi oleh pasukan asura yang amat ganas, bringas mengerikan siapapun melihatnya.

Putra Raja Vali yang tertua bernama Vana memimpin pasukan asura, menteror dan mepropokasi para dewa surgawi itu. Merasa mendapat teror, intimidasi dan ancaman, para dewa keluar dengan persenjataan lengkap berperang menghadapi para asura itu. Tak lama berseleng terjadi gemuruh perang dahsyat di kedua belah pihak, mengakibatkan tak terhitung jumlah tentara dari ke dua belah pihak yang gugur. Darah akibat peperangan itu mengalir bagaikan lautan membasahi medan perang.

Peperangan dahsyat itu berlansung hingga 1000 tahun. Para asura berhasil memenangkan perang itu, akibatnya para dewa tersingkir dari surga. Akibat kekalahan itu Dewi Adhiti ibu para dewa sangat sedih, melihat putra-putranya tersingkir dari surga. Dari kesedihan itu Dewi Adhiti menginginkan Dewa Indra dan para dewa lainnya agar kembali ke surga, melindungi dunia. Mengingat kesaktian para asura dibawah kendali Raja Vali yang amat sakti, tentu tak mudah membalasnya.

Lalu Dewi Adhiti pergi ke gunung Himalaya memohon perlindungan kepada Dewa Wisnu (Narayana). Lalu melakukan tapa brata yang sangat hebat, dengan berbagai cara disertai keteguhan iman yang amat kuat. Berpuasa hanya minun seteguk air saja setiap hari. Lalu bertapa memuliakan Dewa Wisnu, hingga ratusan tahun lamanya. Raja Vali yang amat sakti itu, mengetahui pertapaan Dewi Adhiti. Lalu mengirim utusan penggoda yang menyamar seperti Dewa Wisnu, untuk menghentikan dan menggagalkan tapanya.

Tetapi Dewi Adhiti tak tergoda oleh rayuan palsu itu, lalu terus menguatkan konsentrasi tapanya. Tak sedikitpun api yang digunakan untuk membakar tapa Dewi Adhiti itu mampu menyentuh vibrasi sucinya. Akibatnya terjadi kebakaran hutan sekitarnya dan banyak para asura yang hangus terbakar dari kecerobohan utusan asura itu. Akibat kesungguhan tapanya itu Dewa Wisnu berkenan hadir lalu bersabda: “Aku berkenan dengan tapa mu yang sungguh pada Ku, anugrah apa yang engkau inginkan”. Demikian konon sabda suci Dewa Wisnu itu.

Menyaksikan dan mendengar kehadiran Dewa Wisnu yang sangat dinantikan. Debaran jantungnya terasa memuncak merasakan kebahagiaan tak terhingga atas kehadiran-Nya. Lalu menarik napas perlahan menenangkan diri, lalu dengan kata terbata-bata menjawab wejangan itu. Oh Dewa Yang Amat Mulia, “berkatilah hamba perlindungan dari para asura”, demikian doa permohonannya. Dewa Wisnu menjawab, “Aku akan memenuhi permohonan mu. Aku akan lahir sebagai putra mu.

Dalam wujud itulah Aku akan menyelamatkan putra-putra mu”. Mendengar anugrah itu, lalu Dewi Adhiti menghaturkan sembah sujud sebagai ungkapan rasa syukur atas anugrah-Nya. Kemudian Dewa Wisnu menghilang dihadapannya. Lalu Dewi Adhiti dengan rasa bahagia kembali ke rumah. Menceriterakan kembali anugrah itu kepada suaminya. Rsi Kasyapa sangat senang dan bahagia mendengarkan anugrah itu. Tak selang berapa lama Dewi Adhiti hamil, sesuai hukum alamnya maka lahirlah putranya yang diberi nama “Vamana” berbadan cebol, berkulit hitam.

Sejalan dengan pertumbuhan jasmani dan rohaninya yang amat mengagumkan itu. Vamana menjadi pemuda Brahmana yang amat cerdas. Mendengar keadaan ini membuat Raja Vali amat khawatir dengan kekuasaannya. Lalu mengadakan yadnya besar untuk menguatkan kekuasanya. Raja Vali memohon kepada Brahmana Sukracarya, guru para asura yang akan memimpin yadnya itu. Beberapa Brahmana dan Brahmana Vamana ikut hadir dalam acara itu. Brahmana Sukracarya telah mengetahui bahwa Dewa Wisnu telah bereingkarnasi dalam wujud manusia cebol yang diberi nama Vamana itu. Lalu mengingatkan kepada Raja Vali agar tak menghiraukan permintaannya.

Setelah upacara yadnya berlangsung merupakan suatu tradisi dikalangan raja-raja untuk bersedekah. Kemudian Raja Vali mendekati Vamana, dan berkata oh tuan Brahmana hamba merasa terberkati atas kehadiran tuan dalam yadnya ini. Apa yang dapat aku lakukan sebagai persembahkan kepada mu. Mendengar kata-kata bijak Raja Vali itu, Vawana merasa senang dan menjawab, Oh raja yang amat bijaksana, perkataanmu amat menyejukkan hati ku. “hamba membutuhkan tanah seluas tiga langkah yang terjangkau langkah kaki hamba, untuk tempat suci pertapan ku”, demikian Vamana menjawab. Melihat permohonan yang amat sederhana, dan melihat Brahmana itu orangnya cebol tentu amat mudah membayangkan kekuatannya melangkah. Tanpa pikir panjang lagi Raja Vali menganugrahi permohonan Brahmana cebol itu.

Setelah dikabulkan Vamana membesarkan dirinya seolah-olah menembus alam semesta. Vamana mulai menapakkan langkah pertamanya di surga alam atas (Swah loka) lalu alam tengah bumi (bwah loka). Dan yang ketiga tak ada lagi tempat menapakkan kakinya, lalu diarahkan ke Brahma loka.

Ketika proses menapakkan kakinya itu, bumi seketika itu terbelah menjadi dua, memancarkan air, lalu membasuh kaki padma Dewa Wisnu. Menyaksikan keadaan itu, membuat Raja Vali amat kaget dan terkesima, karena tak ada lagi tempat baginya. Akibat kedermawanan Raja Vali, Vamana (titisan Dewa Wisnu) memberkatinya untuk tinggal dan menghuni dunia bawah.

Menyimak narasi kisah dewata di atas, mengisyaratka makna bahwa, ketika peran para dewa untuk berjuang mempertahan hak dan kewajiban yang menjadi kuasanya tak berdaya, saat itu peran penting para dewi,   bangkit memerankan kewajibannya. Dalam kontek ini  “doa” dan perjuangan seorang Ibu (dewi) yang sangat kuat,  penuh kasih mencintai anak-anaknya. Akibat kesungguhan itu memperoleh berkat kesejahteraan lahir dan bhatin yang menjadi esensi dasar, tujuan dari setiap perjuangan. Bukan saja untuk dirinya tetapi untuk menegakkan dharma menundukkan adharma.

Menjadi “Vamana Awatara” yang menegakkan dharma di bumi. Pertapaan panjang penuh keyakinan dan ketulusan, cerdas menghadapi godaan, mengalirkan berkat yang utama. Bukan menyayangi putra dan putrinya atas dasar egoistik balas dendam, memanjakan napsu dan keserakahan, menciptakan jiwa-jiwa pembangkang yang menghancurkan nilai-nilai moral, hak dan kewajiban masing-masing, mengakibatkan penderitaan rakyat, yang diajarkan Ibu Asura Dewi Dhiti kepada putra-putranya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!