
Kunjungi Hutan Raya Desa Selat, Wamen Pariwisata RI Dorong Pengembangan Wisata Alam Berkelanjutan Tanpa Merusak Alam
SINGARAJA (CAHAYAMASNEWS.COM). Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Ni Luh Puspa mengunjungi Hutan Raya Desa Selat, Sukasada, Buleleng, Bali, dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata berbasis alam yang ramah lingkungan Minggu (30 Maret 2025). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung potensi wisata alam yang dimiliki, dan apa-apa saja yang bakal dikembangkan. Kawasan hutan Desa Selat dikenal memiliki daya tarik alam yang luar biasa dan beragam flora serta fauna. Dalam kunjungan yang sangat singkat itu, Wamen Pariwisata menekankan pentingnya pengelolaan hutan dan alam secara berkelanjutan, memastikan bahwa upaya pemanfaatan untuk pariwisata dengan tidak merusak ekosistem yang ada.
Dalam kunjungan tersebut Wamen disambut oleh Kepala Desa Selat, I Putu Mara dan Ketua Pokdarwis berserta anggota, dan sejumlah Satlinmas (Satuan Perlindungan Masyarakat) Desa Selat dan tokoh masyarakat lainnya. Desa Selat menyimpan potensi wisata alam yang sangat bagus dengan luasan hutan 500-an hektar lebih. Dimana ini bisa dimanfaatkan untuk wisata alam sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) dan sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
Pun demikian, juga harus tetap diperhatikan keberlangsungan dan kelestarian hutan tersebut, agar tetap memberikan kebermanfaatan sesuai fungsinya. Menurutnya, hutan ini sangat penting dalam menjaga sumber-sumber mata air, mencegah bencana longsor dan banjir. Konsep yang disampaikan oleh Kepala Desa dan Ketua Pokdarwis sudah bagus yakni ‘Kembali ke Alam’ dengan tetap menjaga dan melestarikan kawasan hutan.

“Kawasan Hutan Desa Selat ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan dengan tetap mempertahankan struktur asli hutan secara utuh. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait, diharapkan kawasan ini bisa berkembang menjadi contoh wisata berkelanjutan, yang nantinya dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” ujar Wamen Ni Luh Puspa di sela-sela kunjungannya.
Dalam mendukung pengembangan wisata ini, Wamen Ni Luh Puspa juga mengingatkan penting untuk melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), sehingga bisa menciptakan lapangan kerja serta memberi dampak positif bagi perekonomian daerah.
Wakil Menteri Pariwisata RI yang juga merupakan salah satu Putri Terbaik Desa Selat ini meminta kepada Perbekel dan Pokdarwis untuk melakukan pemetaan, destinasi wisata apa saja yang bakal dikembangkan di sana, termasuk bagaimana pola dan konsep pengelolaannya, sehingga nantinya dapat berjalan sesuai yang diharapkan bersama.
“Demi tanah kelahiran, saya ingin berbuat untuk kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat. Saya berharap agar hutan ini dapat dikelola dengan sebaik mungkin dengan tetap menjaga keseimbangannya, antara pencapaian nilai ekonomi dan hutan yang tetap lestari memberikan manfaat positif. Di satu sisi kita ingin mendapatkan manfaat nilai ekonomi dari hutan ini, namun di sisi lain Kawasan hutan harus tetap terjaga dan lestari sesuai fungsinya,” tegasnya.
Lebih lanjut Wamen mengandaikan, seperti memelihara ayam, jika ingin mendapatkan telur yang banyak dan berkualitas, maka induk ayam pun harus dipelihara dengan baik, tulus, dan sepenuh hati. Ketika hutan diperlakukan dengan baik, maka hutan pun akan memberikan manfaat yang baik pula. Karenanya, pada kesempatan itu, Wamen wanti-wanti mengingatkan kepada Kepala Desa dan jajarannya, Pokdrwis, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat, agar senantiasa menjaga kelestarian hutan tersebut dengan sebaik mungkin, mengingat peran hutan sangat vital dalam menjaga sumber mata air, oksigen, dan menjaga agar tidak terjadi banjir dan tanah longsor.
Lebih lanjut Wamen Ni Putu Puspa berpesan, jika memang kawasan hutan desa ini akan dikelola dan dikembangkan menjadi destinasi wisata, maka jangan sampai merusak hutan yang kemudian akan memberikan dampak negatif kepada masyarakat. Terlebih, wilayah hutan Desa Selat ini berada di ketinggian 800-an meter dari permukaan laut dan di dalamnya terdapat tebing curam.
Manakala salah dalam melakukan pengelolaan dan pemanfaatan hutan, maka sangat riskan berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor, yang tidak saja berdampak negatif terhadap keselamatan masyarakat Desa Selat, tetapi juga keselamat masyarakat di luar Desa Selat.
“Untuk itu, kita harus betul-betul menjaga kelestariannya serta harus berhati-hati melakukan pengelolaan hutan. Jangan sampai ingin meraup keutungan malah menjadi malapetaka. Jika hutan sudah rusak, maka untuk mengembalikannya membutukan waktu dan biaya yang sangat besar, dan bahkan tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan sebelumnya,” tegasnya.
Terkait pengelolaannya, usulan harus datang dari bawah (Bottom up), karena mereka yang memahami dan mengerti potensi-potensi yang bisa dikembangkan. Dari sana baru akan diketahui apa yang dibutuhkan, maka itu yang akan dibantu.
“Kami dari dinas pariwisata akan selalu mendukung dan mensuport apa yang dibutuhkan karena yang tahu daerah itu adalah pemimpin, tokoh, dan masyarakat yang bersangkutan. Jadi silahkan dipetakan apa yang mau dikembangkan di hutan ini, tapi jangan copy paste dengan daerah lain. Kita harus mampu menggali keunikan yang ada, sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke tempat ini,” ujarnya.
Kembangkan Wisata Edukasi dan Spiritual
Menurutnya, destinasi traking sangat cocok dikembangkan, mengingat banyak terdapat tempat yang menarik, seperti air terjun Sipok Labuh dan tempat menarik lainnya. Terlebih saat ini trend yang berkembang adalah masyarakat banyak melakukan healing dengan melakukan traking ke alam bebas, seperti hutan, air terjun, sungai dan lainnya untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan dalam bekerja.
Wisata traking ini sangat cocok dikembangkan di hutan Desa Selat ini. Hanya saja kata Wamen Ni Luh Puspa, konsepnya harus dipetakan secara baik dan matang apa-apa yang bakal dikembangkan sebagai magnet bagi para wisatawan untuk berkunjung ke obyek wisata ini. Mulai jalur yang akan dilalui, apa yang bisa disuguhkan di sepanjang jalur traking tersebut dan lain sebagainya, sehingga wisatawan akan tertarik mengunjungi tempat ini, dan bahkan tertarik untuk mengajak sanak saudara, kerabat, dan teman-temannya untuk berwisata di tempat ini.

Lebih jauh Wamen Ni Putu Puspa menjelaskan, mengingat di sekitar tempat ini ada banyak tanaman hultikultura seperti cengkih dan kopi, maka bisa dirancang untuk membuat wisata edukasi bagi wisatawan yang melakukan traking. Selain dapat menikmati pesona keindahan dan kesejukan hutan, wisatawan juga mendapatkan nilai edukasi tentang tanaman dimaksud. Selain tanaman-tanaman yang sudah ada, perlu dikembangkan tanaman-tanaman lain untuk memperkaya koleksi. Bahkan, jika memungkinkan agar ditanam tanaman langka yang yang memiliki nilai lebih, baik secara ekonomi maupun spiritual yang bisa dijadikan edukasi.
Sementara itu terkait rencana membuat penangkaran, Wamen juga berpesan agar dilakukan pengkajian, pemetaan, dan dirancang dengan sebaik mungkin. Hewan apa saja yang akan dipilih, luas lahan yang diperlukan, dan sebagainya, termasuk solusi untuk menghadapi kendala yang akan timbul. Pun, dilakukan pemetaan spesies burung apa saja yang ada di hutan desa ini.
Jika harus melibatkan investor (pihak ketiga), maka harus dilakukan pola kerjasama yang baik, termasuk aturan-aturan yang jelas yang harus disepakati oleh kedua belah pihak. Investor harus tunduk dengan aturan yang dibuat oleh desa, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya.
“Intinya saya menunggu hasil pemetaan tersebut, untuk bisa mengambil langkah selanjutnya. Apa yang perlu dan bisa disuport. Merancang pariwisata tidak bisa hanya di Dinas Pariwisata, melainkan harus berkolaborasi dengan dinas-dinas lainnya seperti Dinas PU yang menangani infrastrukturnya, dan demikian juga dinas terkait lainnya,” imbuhnya.
Di akhir wawancaranya dengan media ini, Wamen Ni Putu Puspa menginginkan bagaimana menjadikan tanah kelahirannya bisa maju dan bahkan bisa menjadi desa percontohan terhadap daerah lainnya di Bali, dan bahkan di Indonesia. Untuk itu, pihakya mengajak kepada pemimpin, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat Desa Selat Pandan Banten untuk bersama-sama membangun desa mewujudkan Desa Selat yang maju, aman, damai, dan sejahtera.
Sementara itu Kepala Desa I Putu Mara di sela-sela kesibukannya mendampingi Ibu Wamen menjelaskan, mengingat di dalam hutan desa ini terdapat beberapa tempat yang memiliki aura dan vibrasi spiritual kuat, maka akan dikembangkan dikembangkan menjadi wisata spiritual yakni pengelukatan (Wisata Melukat). Yakni di Air Terjun Sipok Labuh yang kini sudah dibangun sebuah pura. Juga terdapat Pura Mengening yang diyakini memiliki vibrasi spiritual dan historis cukup menarik.
“Sesuai arahan Ibu Wamen, kami bersama Pokdarwis dan tokoh-tokoh lainnya akan segera bekerja untuk mewujudkan rencana tersebut yang diawali dengan rapat melakukan pemetaan dan lain sebagainya, sehingga bisa segera diputuskan hasilnya untuk bisa mengambil langkah selanjutnya,” ujar Perbekel Putu Mara seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu menyatukan persepsi dan membulatkan tekad membangun Desa Selat ini guna mewujudkan desa yang lebih baik, maju, dan sejahtera di segala bidang. *** CMN=Tim/Andi.









Facebook Comments