
“AURA KASIH”
“HAKEKAT SEPI YANG NYEPI”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 31 Maret 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Menyepikan diri meredakan sesaat, segala keramaian berpikir, bernalar dalam bayang-bayang imajinasi nan ilusif, ketika dilakoni memang tak mudah. Walaupun lampu mudah dimatikan, langkah didiamkam, tetapi mengkondisikan semua unsur indriya-indriya, napsu, imaji-imaji, ilusi-ilusi dan ego agar bisa berpusat, memerlukan kendali dan struktur “pelurusan” dan “penyeimbangan” konsentrasi yang baik dan terkondisi. Untuk menembus gelombang ilusi bayang-bayang kabut yang berbaur bersatu padu menutupi suasana hening yang mendamaikan. Bagaikan air bercampur limbah, memerlukan waktu menenangkannya, agar keheningannya naik ke permukaan.
Berkenaan dengan gerak realitas halus itu “menyepi” memerlukan “proses yang terlatih”, berulangkali, tekun dan sungguh-sungguh serta berkesabaran. Regulasi pengulangan setiap tahun, sesungguhnya disertai pelatihan dan pemantapan setiap hari, menyisihkan dan membiasakan diri beberapa menit atau berapa jam untuk berkonsentrasi, karena setiap hari insan-insan memerlukan “ketenangan” menghadapi keramaian serta keliaran ide-ide untuk diperjuangkan dan dipenuhi. Hingga setiap tahun mampu sampai di “puncaknya”, yaitu tercapainya ketenangan diri dan ketenangan semesta.
Karena alam secara teratur selalu menyucikan diri-Nya dari polusi yang diakibatkan oleh perbuatan manusia dan polusi alamiahnya. Semuanya itu untuk memelihara dan melindungi ciptaan-Nya. Proses penyucian melalui angin ribut, badai, hujan, panas matahari yang amat menakutkan. Hingga tenang kembali dalam “suasana nyaman kedas atau bersih”. Suasana ini dimaknai untuk melaksanakan “yadnya suci berskala utama”.
Yadnya suci nan utama bertujuan menyeimbangkan prekwensi energi suci insan-insan duniawi (terbatas) dengan kesucian semesta (tak terbatas) sebagai persembahan, penguat keseimbangan alam. Itu artinya insa-insan sadar menempatkan kewajibannya pada proses kehidupan di alam semesta.
Meresapi dan memaknai menjadi prilaku sadar sesuai kemampuan dan profesi, menjadikan insan-insan terhubung dan terkondisi dalam suasana sepi, mewujudkan nilai bhakti yang mempribadi. Koneksitas hubungan pribadi-pribadi yang diresapi kesadaran akan makna hidup dalam kehidupan berproses menjadi bukit lalu menggunung energi suci kesadaran. Gelora pertumbuhan ini sedang “hadir menyepi” bahkan “nyineb”, agar tak tersentuh polusi atau mempolusikan diri. Dalam ranah dan ruang inilah energi suci bergerak penuh rahasia nan sepi, yang terkadang amat terbalik dengan logika cerdas berpolusi yang amat besar bergerak saat ini.
Oleh karena itu belajar menghening mencapai keheningan sesungguhnya adalah suatu kesungguhan bagi insan sungguh yang ingin sungguh memaknai hidup di jaman Kali Yuga saat ini. Akibat tumbuhnya keramaian gagasan, ide-ide dalam ruang kompetisi yang amat dinamis seringkali membiarkan semua energi dan tindakan larut dalam ruang itu. Tak menyediakan sedikit ruang kosong reaksi suci kejiwaan, yang menenangkan. Akibatnya jiwa kerohanian semakin terdesak terkungkung semakin tak bersuara.
Artinya suara hening tak sempat terdengar, atau tak mau didengar oleh pikiran dan unsur-usur indriya-indriya lainnya. Walaupun terdengar lalu dikaburkan dan diabaikan oleh kebekuan logika kemasuk akalan semata. Bahwa diluar itu tersembunyi kebenaran yang tersublimasi, apabila tersentuh prekwensi jiwa insan-insan “berkesadaran”, mampu membuka wawasan dalam mengatasi keterdesakan logika berpikir dari kekelaman mental. Lalu terbuka suasana baru yang menyegarkan serta menggaerahkan prilaku hidup, untuk selalu berbuat baik dan benar.
Ruang kesadaran dengan kosmiknya sendri, sedang dan selalu berproses pada diri insan-insan yang siap berproses ke arah itu. Karena itu adalah “tat” yang “sepi”, berkuasa meramaikan, meluruskan, menenangkan, membahagiakan, mencapai kebebasan yang “sepi” menyatu mempribadi. Sebagai hakekat sepi, nyepi, yang mempribadi. Saat itu sepi menyepi merasakan kebahagiaan yang sulit dikatakan, menjadi penguat keyakinan bahwa “tat” berada, memvibrasi dan meresapi. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments