September 10, 2026
News

Budidaya Kelapa Daksina Belum Diliriik, Harga Mencuat di Pasaran

BANGLI (CAHAYAMASNEWS.COM). Tanaman upakara di Bali belum banyak dilirik oleh petani di Bali. Sebut saja, kelapa untuk pembuatan banten pejati (daksina) belakangan ini harga mencuat mencapai Rp. 15.000 sampai Rp. 20.000 di pasaran.  Namun sayangnya, pemerintah khususnya Pemprop Bali belum ada gagasan   terhadap budaya kelapa tersebut. Terbukti, sejak tahun 2020 tidak ada lagi bantuan bibit kelapa yang masuk dalam program bumi banten 2020 sampai sekarang.

Seperti yang disampaikan Kadis Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli I Wayan Sarma, saat dikonfirmasi Rabu (09/04/2025) menyebutkan sejauh ini pihaknya belum memasukan program budidaya kelapa untuk bahan upakara tersebut. Mengingat budidaya kelapa bukan masuk komuditas unggulan di wilayahnya.

“Namun sejauh ini kita memang belum secara khusus membudidayakan kelapa bahan upakara ini, padahal kebutuhan akan bahan upakara sangat tinggi,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan, sebelumnya pihaknya rutin mendapatkan pasokan bibit kelapa jenis upakara ini dari Pemprop Bali melalui program bumi banten. Yang mana, bantuan bibit tersebut langsung disalurkan ke subak-subak. Namun sayang, mulai tahun 2020  pasokan bibit kelapa tersebut macet dari Pemprop Bali.

“Kita memang tidak menganggarkan untuk pengadaan bibit kelapa ini.  Sebelumnya kita dapat bantuan dari Pemprov Bali,” ucapnya.

Sementara disinggung jenis harga kelapa daksina di Bali, harganya juga cukup mahal. Yang mana, harganya mencapai Rp. 15.000 per butir. Mungkin dalan bulan ini adanya dewasa ayu banyak melaksanakan upacara baik manusa yadnya maupun dewa yadnya dan juga menjelang hari raya Galungan.

“Harganya ini memang yang paling tinggi sebelumnya hanya dijual Rp. 5.000 hingga Rp. 7.000. Namun kali mencuat signifikan hingga Rp. 15 ribu perbutir,” ujarnya.

Lanjut disampaikan Sarma, untuk Kabupaten Bangli seperti petani di Kecamatan Tembuku, memang sudah banyak petani yang melakukan budidaya kelapa jenis ini, sudah banyak menananmnya. Cuma saja, sudah banyak petani yang menjual bungkaknya dan juga kepala mudanya, sehingga tidak sampai tua.

“Mungkin ini yang menyebabkan kelapa daksinan ini  mahal,” katanya. *** CMN=Tim-NT.

Facebook Comments

error: Content is protected !!