
“AURA KASIH”
“MEWUJUDKAN BHAKTI SUNDHARAM”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 16 April 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Menggagas mewujudkan bhakti Sundaram, memerlukan upaya menumbuhkan gagasan kreatif bernilai spirit, mendulang makna. Hingga saatnya “mencapai”. Dari Bija menuju Puja memuliakan, dari nilai menjadi bernilai. Dari Shiva menjadi Shivam. Esensi energi bergerak halus mengalir tanpa disadari menjadi “niat” lalu merefleksi menjadi gagasan kreatif. Saat itu pula energi jasmani nan material mewadahi menjadi siap dan semangat melaksanakan swadharma. Berupaya belajar membebaskan “kebekuan mental yang merasa tak mampu atau tak bisa”. Sundharam memiliki kekuatan menembus kebekuan mental itu melalui kreatifitas seni dan penyatuan energi horisontal penguatan pendakian spiritual pada kekuatan verikal.
Dari jaman ke jaman konstruksi nilai kebenaran ini terlaksana mengukuhkan iman keilahian. Maka disebut Tri Sakti yaitu: Satyam, Shivam, dan Sundaram. Merefleksikan energi tri sakti inilah perjalanan karma menjadi bhakti Sundharam, melahirkan peradaban spiritual yang terindrawi.
Dewi Parwathi dikutuk oleh Dewi Ratih agar tidak bisa memperoleh keturunan. Akibat Dewa Asmara, suaminya dibakar oleh Dewa Shiva, saat disuruh oleh Dewa Indra, untuk menggoda tapa Dewa Shiva. Dengan masud agar Dewa Shiva berkenan menikah dan melahirkan putra untuk melindungi dunia dari kekuasaan Asura.
Nampaknya jeritan insan-insan surgawi yang bertugas melindungi dunia, terdengar oleh kuasa-Nya, sesuai hukum-Nya yang sebagai waktu-Nya. Hingga pada suatu ketika Dewi Parwathi dipanggil Dewa Shiva diajak untuk menari bersama. Saat dilatih Dewi Parwathi merasa tidak mampu mengikuti tarian Dewa Shiva itu. Tetapi Dewa Shiva amat sabar menuntun, “hai Engkau Dewi bebaskanlah pikiran-Mu terhadap keinginan menghapal gerakan-Ku. Rasakan irama semesta dengan tenang, senang hati dan merasakan rasa damai. Lalu lihatlah perlahan gerakan-gerakan-Ku. Dan lakukan sesuai kemampuan-Mu merasakan. Pada saatnya engkau akan mampu dan memahami gerakan-Ku sepenuhnya.
Saat itu Dewi Parwathi perlahan membebaskan rasa takut dan perasaan tak mampunya, lalu berlatih berkali-kali, hingga enegi sundharam meresapi menjadi kekuatan ekspresi gerak tarian yang tak ternilai indahnya.
Betapa bahagianya Dewi Parwathi mampu melayani kehendak sundharam-Nya. Dari penyatuan semua itu menjadi persembahan “BHAKTI SUNDHARAM“. Akibat dari pelayanan itu, lahirlah Dewa Kartikeya yang menyelamatkan dunia dari kekuasaan “Taraka Asura”. Akhirnya Dewi Parwathi merasakan anugrah “kebenaran” mengatasi dan membebaskan kesedihan-Nya dari kutukan Dewi Ratih. Lalu melahirkan Dewa Penyelamat dunia dari kehancuran. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments