
“AURA KASIH”
“AURA KASIH”
“Bumi Menciptakan Keadilan-Nya Sendiri”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat, 18 April 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Hancurnya sistem ketatanegaraan, mengakibatkan penderitaan bagi bumi. Akibatnya memerlukan penyembuhan dalam waktu yang tak terhitung. Akibat pelayanan yang dimaknai sebagai anugrah dari bumi yang tersakiti, mengakibatkan seluruh ciptaan-Nya juga tak sehat-sehat saja. Gelisah dalam kesakitan, tapi tak dapat mengelak. Walaupun bumi tak pernah menuntut hukum di meja pengadilan di depan penegak keadilan, tetapi “bumi menciptakan pengadilannya sendiri”. Dengan berbagai reaksinya, yang amat mengerikan dan menakutkan. Walaupun berbagai teriakan doa-doa pujian kepada-Nya, saat proses penyeimbangan dan keadilan ditegakkan, dalam penghancuran bergerak terus. Tak ada yang mampu membendungnya. Orang-orang suci menyebutnya sebagai Mahakala bersamaan dengan Mahakali sebagai kekuatan sakti pelebur-Nya.
Walaupun kenyataan demi kenyataan yang mengerikan dan menakutkan itu terjadi dan selalu terjadi. Tetapi selalu juga lahir dan tumbuh insan-insan berjiwa rakus, berkekuatan dahsyat, berpengetahuan luas, berteknologi canggih ingin memuaskan diri, mengobrak-abrik memperkosa alam. Membentur memerangi sifat Kemahakuasaan-Nya, ingin “menguasai” bumi dan merusak keindahan yang mendamaikan.
Menghancurkan tatanan moralitas yang mensejahterakan dan mendamaikan, menjadi sifat kesewenang-wenangan. Orang-orang suci menyebutnya sebagai Maha Asura. Gelora dan gemuruh arus pergerakannya membutakan keimanan insan-insan dunia yang patut disadari, hingga tak mengetahui lagi mana yang salah dan mana yang benar. Apa yang diinginkan dianggap “kebenaran”, menjadi kebenarannya sendiri. Kebenarannya adalah “kekuatan” untuk menguasai. Gelora dukungan arus pergerakan ini sedang melanda bumi menjadikan diri sebagai kekuatan super power ingin menguasai yang lainnya.
Bukan saja ingin menguasai ciptaan-Nya tetapi juga ingin menundukkan “Kuasa” dari “Yang Maha Kuasa”. Dalam Shiva Purana digambarkan Asura Mala setelah menguasai dunia, selalu ingin mengawini Dewi Parwathi Sakti Dewa Shiva sebagai simbol IBU alam semesta. Dia memerankan adiknya Asura Mani untuk melakukan upaya itu dengan cara apapun, memerintahkan para asura untuk menggempur surgawi. Upayanya memanipulasi insan duniawi, menabur awan gelap di luar angkasa untuk melumpuhkan kekuatan jasmani dan kecerdasan spiritual insan-insan duniawi pumuja-Nya.
Itu artinya penggembosan dari bawah, menghancurkan insan-insan pemuja-Nya, untuk melawan dan menguasai “kuasa” dari “Yang Maha Kuasa”. Pergolakan dualitas ini menempatkan bumi atau alam semesta bekerja sistematis, mengatasi gelora maha atraktif, terkendali atas hukum kerja-Nya sendiri. Tetapi tak mudah dipahami dalam arti luas. Insan-insan terdidiklah memperoleh anugrah pesan suci ini, agar bisa dimaknai dalam kehidupan duniawi.
Diantara seluruh ciptaan-Nya, hanya manusialah memperoleh berkat pengetahuan material dan pengetahuan suci untuk menyadari realitas semesta ini. Dipahami sebagai upaya untuk mengajarkan nilai-nilai spirit penyadaran diri berada dalam bumi semesta raya ini. Pertanyaannya muncul…, anugrah pengetahuan untuk apakah itu?, inilah renungan kontemplatif yang sesungguhnya dari jaman ke jaman.
Hasil renungan dan terobosan memasuki sifat-sifat kuasa-Nya yang hakiki, para suci leluhur melahirkan pengalaman merefleksikan pengetahuan untuk hidup dalam penyempurnaan hidup dalam kehidupan. Melalui kesadaran itu insan-insan terdidik melihat, mendengar, memahami serta memaknai pergerakan dualitas hukum semesta yang bekerja tiada henti. Mengakibatkan insan-insan tercipta, dipelihara, dilebur, dimusnahkan lalu dibebaskan.
Pengetahuan yang tumbuh berkembang melahirkan kesadaran tentang hidup di bumi dan bekerja “sesuatu” yang baik dan benar sebagai kesadaran proses hidup. Melahirkan budaya yang berbasis material menempatkan kesadaran jasmani sebagai hakekat. Selanjutnya melahirkan budaya spiritual mengejar penyempurnaan diri, kesadaran terhadap sumber dan merindukan “penyatuan dalam keabadian”.
Kekuatan dan kesungguhan insan-insan diseluruh dunia itu melahirkan peradaban spiritual yang mengagumkan. Lalu dimaknai sebagai peradaban agung, yang dimaknai sebagai keajaiban dunia. Berkenaan dengan itu insan-insan dunia selalu bergerak, dalam ruangnya masing, karena bumi pun bergerak dalam arti luas tak terbatas. Substansi-substansi bergerak pada orbitnya masing-masing menjadi keteraturan semesta, merefleksikan keteraturan energi menjadi supra struktur yang maha. Orang-orang suci menyebutnya Maha Karya, dalam keabadian-Nya
Menempatkan diri dalam ketaraturan inilah sesungguhnya persoalan besar. Bergerak diantara kesadaran dan ketidak sadaran dalam gerak sekala mikro menuju kesadaran makro. Dalam persoalan inilah Kekuatan Yang Maha Sadar menuntun melului kesadaran karma kuantitatif dan kualitatif bergerak horisonntal dan vertikal, yang dilukiskan sebagai simbol garis silang (Swastika) dalam agama Hindu.
Refleksi realitas geraknya mensubstansi, meresapi jiwa insan-insan melahirkan kesadaran berkarma melalui ragam profesi, lalu menempatkan serta memperjuangkan terus menerus kualitas karma sebagai persembahan kewajiban tulus memuliakan-Nya. Dengan demikian karma yang bernilai kuantitas bersatu padu dengan upaya menjungjung tinggi pencapaian kualitas, merefleksikan keindahan yang sudharam membahagiakan.
Akibat dari semua itulah energi dualitas yang selalu bergolak tersatu padukan oleh kebijaksanaan, mencapai “kegunaanya”, mencapai keagungan dan keluhurannya. Lalu mampu merasakan kebenaran sejati yang disebut Nirguna Brahman. Kronologi pemaknaan realitas dalam kesadaran edukasi, sujud bhakti menundukkan diri atas Kuasa-Nya, adalah jalan-Nya, yang patut disadari pada setiap detik gerak pernafasan dan pergerakan karma, saat beriteraksi di bumi semesta raya. Apabila sudah demikian konsep-konsep berpikir lebur menjadi “prilaku cinta kasih yang selalu bergerak mendamaikan”. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments