
“AURA KASIH”
” MEREFLEKSIKAN GAGASAN MENCAPAI KEMENANGAN “
Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu, 24 Mei 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika terdiam sesaat merenung ke dalam diri, menginterpretasi realitas, saat itu bisa tumbuh ragam inspirasi, memerlukan ekspresi merujuk formulasi. Itu artinya benih-benih kebajikan diri teraliri atau tersirami “energi” bisa juga “energi suci” bangkit menggelora. Demikian pula tanpa disadari pada sisi yang lain bangkit pula reaksi menghadang membungkam, lalu memalaskanya, hingga reaksi dan refleksipun tumpul tak menemukan arah. Pertanyaannya apakah inspirasi yang bergerak menggelora itu, mesti ditumpulkan lalu diam dalam kemalasan?. Inilah “perlawanan” dengan tujuan memenangkan tujuan yang tumbuh berkembang dari inspirasi, yang telah berpola menjadi gagasan mencapai tujuan.
Sadar tak sadar gerak gelora energi kebangkitan ini berada dalam diri setiap insan. Tentu yang perlu disadari adalah sifat-sifat energi yang mengaliri atau yang menghinggapi. Apakah orientasi biologis kebutuhan makan atau minum atau meningkat menjadi selera dan napsu biologis lainnya ?. Karena secara wajar dalam kurun waktunya tumbuh dan berkembang. Lalu pada sisi yang lainnya mencapai pendewasaan dan penyempurnaan, yang disebut jalan spiritual, menuju penyempurnaan hidup dalam kehidupan ini. Semua itu telah digariskan oleh pengetahuan suci Keilahian-Nya
Tentu perjuangan melawan sifat-sifat penghadang tujuan untuk mencapai keberhasilan itu, semuanya mulai dari dalam diri sendiri, lalu berinteraksi semakin luas di ranah sosial, sebagai medan perjuangan luas tak terbatas. Dalam kontek perjuangan hidup ini akan selalu dan terus berhadapan dengan masalah yang semakin besar. Saat-saat seperti ini pengetahuan suci Keilahian hadir mengalir, menjadi pencerah jiwa insan-insan “pendamba kemenangan”.
Kesadaran terhadap persoalan itu, berarti tunduk dalam penyempurnaan diri, sadar berproses dalam hukum duniawi dan hukum semesta Ilahi, sesuai karakteristik kalpa-Nya. Itu artinya dominasi karakteristik sifat-sifat manusia berdasar hukum perubahan waktu itu sendiri. Guru melalui pengetahuan material dan pengetahuan suci Keilahian memberikan tuntunan serta jawaban dari setiap masalah yang sesungguhnya, merefleksi luas lalu meresapi jiwa-jiwa setiap insan membuka diri. Entahlah disadari atau tidak itulah realitas kesadaran ataupun pengaruh ketidak sadaran. Akibat pengaruh ketidak sadaran menempatkan jiwa-jiwa dikuasai ambisi keangkuhan egoistik yang membutakan hati nurani.
Akibat dari semua itu ada hakekat pilihan memperjuangkan tujuan mulia meresapi kemuliaan-Nya atau sebaliknya, menjadi budak napsu membuka pintu neraka. Pergulatan kedua ranah besar inilah menciptakan budaya spiritual kedewataan nan Ilahi dan budaya asura yang selalu bersebrangan. Dalam itihasa digambarkan dewa selalu berperang dengan asura. Keduanya ada di dalam diri dan juga berada di luar diri bersinergi halus dengan berbagai tipuan maya yang seringkali “mengaburkan kebenaran” menjadi “pembenaran” dengan pengukuhannya masing-masing. Akibatnya atmosfir dunia menjadi kacau, hukum duniawipun selalu dirubahnya untuk mencapai kekuasaan yang “ingin mensejahterakan masyarakat”. Sebagai perjuangan yang benar untuk memajukan kesejahteraan rakyat atau bisa terjadi untuk menguasai. Didukung energi kuantitas karena “kuantitaslah ukuran dari pandangan dari suatu kebenaran”, yang dihormati dalam kehidupan duniawi.
Kecerdasan berkekuatan energi material dunialah, umumnya yang mampu memainkan hukum dunia itu. Kekuasaan bukan saja lurus tetapi juga bisa bengkok, karena sengaja dan selalu dibengkokkan oleh penguasa itu sendiri. Sepanjang sejarah kebengkokan itu hadir menjadi narasi hidup yang menggerakkan dan mengendalikan hukum, menjadi kuasa hukumnya masing-masing. Disinilah persoalan besar konflik dan harmoni kehidupan duniawi, lenier dari hulu ke hilir mensubstansi. Artinya bagaikan air ketika di hulu jernih, ke hilirpun demikian. Walaupun dipertengahan gangguan penjernihanpun seringkali terjadi.
Kecerdasan spiritual melihat hakekat kesejatian diri, kedalam dan dinamisasinya di luar diri, lalu terkendali oleh kesucian, menjadikan diri memasuki struktur kebenaran kosmologis nan spiritual itu sendiri. Sekema struktur herarkhis ini, sesungguhnya menjadi perjuangan panjang tiada henti. Orang-orang yang bergerak menyempurnakan diri, melalui jalurnya masing-masing. Semua jalur adalah hakekat-Nya menjadi karakter yang meresapi, membangkitkan, yakin dan berani serta tulus bergerak dijalurnya masing-masing. Karena disitulah proses dan energi suci mengalir hingga mampu merasakan kebenarannya.
Kesadaran terhadap ruang atau jalur berproses inilah seringkali keyakinan diuji dan teruji kemantapannya atau keraguan yang meragukan, lalu terbungkus beku dalam keraguan itu sendiri. Akibat dari semua itu kejernihan rohani redup dalam kebisuan mayanya sendiri. Memerlukan pengulangan waktu panjang penebusan mencapai penjernihannya. Oleh karena itu berbagai tanda dan signyal menyentuh panca indra dimunculkan oleh Ibu Alam Semesta, mengingatkan agar insan-insan duniawi tak terperosok akibat salah pilih jalan kehidupannya. Perjalanan panjang inilah proses edukasi penyempurnaan mencapai kemenangan yang membahagiakan dan mendamaikan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments