
“AURA KASIH”
“SANTHI SUNDHARAM”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 26 Mei 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Sesorang dapat disebut “dwijatama”, merasa berbahagia dan mampu menciptakan serta mempersembahkan sesuatu yang uttama. Merefleksikan pengetahuan sejati menjadi santhi sundharam yang membahagiakan kehidupan lainnya. Jiwa-jiwa itu terbangun dari kesadaran diri tertuntun oleh kasih-Nya, mewujudkan kebijaksanaan, yang terpelajar menuju kesejatian diri.
“Sadar” menempatkan diri dalam gelombang dan prekuensi jiwa terhadap jiwa-jiwa kehidupan insan lainnya dalam suasana riang gembira dan santhi. Karena jiwa-jiwa itu telah memberi “segalanya dan selamanya”. Oleh karenanya sadar penyelerasan adalah “yudha harmoni” yang bergerak dinamis mendamaikan. Berdimensi horisontal mengukuhkan penguatan vertikal keyakinan “menyandarkan diri” melalui harapan, merefleksi doa-doa puja memuliakan-Nya.
Realitas konstruktif ini, adalah esensial membutuhkan perjuangan panjang. Bukan dekonstruktif penjegal kemajuan, nyinyir irihati menebar racun kata-kata, merendahkan dan menghina keberadaan dan prestasi orang lain, menyebar kebohongan. Demikianlah barangkali Sisuphala hadir menyusupinya, selalu merasa benar menghina Sri Krishna. Akibatnya harus terpotong lehernya oleh Cakra Sudarsana, sebagai penyelamatan kebenaran sejati, agar insan-insan penyinyir pembuli segera sadar diri.
Ragam ekspresi dualitas semua itu, saat ini sedang bergerak meresapi jiwa insan-insan tersentuh dan terpanggil memaknai gerak energi semesta naturalistik, penuh rahasia. Terutama bagi orang-orang yang belum atau tak tersentuh esensi kebenaran-Nya. Disitulah dan begitulah barangkali semesta bekerja, tak pernah salah melaksanakan arah sasaran-Nya. Demikian pula tak pernah salah pilih menentukan dan menjawab pahala bagi insan-insan yang telah berkarma kebajikan melakukan pelayanan pada penyempurnaan dirinya atau juga sebaliknya. Serangan pembulian, penjegalan, penghinaan dikonstruksi hingga membingungkan masyarakat, hingga kebenaran semakin dikaburkan. Gelora ini sedang menggema mengukuhkan diri yang patut diwaspadai secara cermat, agar tak terjebak kegelapannya.
Kebenaran itu amat sulit dipahami, akibatnya sering diartikan bermacam-macam bagi orang-orang yang ingin bebas bertingkah polah macam-macam meliarkan napsu dan egonya. Bertopeng kecerdasan, selalu bergerak mencari celah untuk mengaburkan kebenaran yang membingungkan masyarakat. Keberhasilan membingungkan itulah, tempatnya mengkonstruksi opini merongrong struktur kehidupan berbangsa dan bernegara. Ingin menciptakan rumah baru, menghancurkan rumah lama yang telah dijiwai semangat persatuan dan kesatuan.
Narasi kisah ini senada dengan skenario cerita yang disusun Sangkhuni untuk mengukuhkan Duryodhana agar bisa menjadi raja Asthina Pura, menggantikan ayahnya Maharaja Drestharata. Saat itu Bhagawan Bisma berkata, hai engkau Sangkhuni jangan kau racuni terus menerus pikiran Duryodhana dengan strategi licikmu. Apabila Negeri Asthinapura ini hancur kemana kamu akan hidup dan berlindung. Mendengar hal itu Sangkhuni diam membisu, cengar cengir, senyum sinis, lalu pergi meninggalkan Bisma.
Karena semuanya mulai dari intrik dan akal licik, tentu kemenangan tak berpihak padanya. Walaupun menang tak akan bertahan lama. Karena menjauh dari kebenaran, hingga anugrahpun tak mengalirinya. Itu artinya kemenangan yang tak berpondasi kuat, secara vertikal dan hirisontal sesuai dengan garis-garis dan jiwa kebenaran. Narasi kebenaran hukum semesta ini, barangkali belum atau tak mau dimaknai secara naturalistik kosmologisnya, melewati batas, hingga harus dilibas oleh kekuatan penyeimbang-Nya.
Oleh karena itu Sang Pengatur semestapun menyediakan banyak jalan untuk mewadahi seluruh aktifitas, mengedukasi laku penyadaran demi penyadaran dan tahap-tahapan pengampunan dalam kurun waktu panjang kehidupan, dalam hidup yang berganti-ganti. Seperti itulah wujud kasih-Nya yang mengalir, agar insan-insan duniawi sadar diri, tak menenggelamkan diri dalam neraka dunia.
Pengulangan demi pengulangan dari tanda-tanda hingga musibah dan tragedi besar, belum mampu menjadi edukasi spirit penyadaran kepada seluruh insan duniawi, hingga kehadiran-Nya berwujud orang-orang suci dan orang-orang berjiwa besar mengkonfigurasi bergerak bersama-sama menjadi “Penyelamat dunia” (Awatara).
Akibat dari semua itu kekacauanpun tak terhindarkan. Karena proses pralina atau peleburan dari sifat-sifat jahat agar menjadi sifat-sifat baik yang berguna bagi kedamaian semua ciptaan-Nya. Membumi hidup dalam ruangnya masing, menjadi hidup rukun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Alur perjuangan nilai-nilai kemanusiaan ini, sedang berdinamika dalam gelombang pasang surut.
Memvibrasikan sifat-sifat penyadaran langsung maupun tak langsung, agar insan-insan semakin peka dan ikut berperan di dalamnya. Kepekaan rohani menyaksikan realitas itu adalah refleksi diri yang disebut dura darsana, mampu melihat dan merasakan apa yang sesungguhnya patut dilaksanakan dalam upaya melibatkan diri dalam kerja semesta menyempurnakan diri mendamaikan seluruh ciptaan-Nya.
Ketika kesadaran ini telah bangkit merefleksi bergerak pada kebenaran itu, maka insan-insan telah terkondisi bergerak di jalan dharma kebenaran menyempurnakan diri. Dengan demikian Guru Sat selalu hadir, bagaikan Arjuna selalu dituntun dan diselamatkan oleh Sri Kreshna. Demikianlah seorang pemuja menjadi dekat dengan yang dipujanya, selalu dialiri energi kasih yang menyelamatkan dan membahagiakan (“santhi sundharam”).*** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments