
“AURA KASIH”
“RACUN KATA-KATA”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 28 Mei 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Begitu cerdas dan bijaksana Rsi Wyasa, menarasikan kekuatan sifat-sifat culas, nyinyir dengki irihati digambarkan sebagai seorang tokoh yang bernama Si Suphala, seorang raja di Kerajaan Cedi. Karakteristik sifatnya yang selalu menghina Sri Krishna yang sesungguhnya telah menolongnya membebaskan penderitaannya. Membebaskan kelebihan tangan dan matanya, serta berlengan empat dan bermata tiga (3). Keanehan fisik ini membuat ibunya bingung, lalu berdoa terus menerus memohon petunjuk-Nya. Akhirnya muncul suara gaib dari semesta yang didengar oleh Ibunya, mengatakan bahwa; siapapun yang mampu membebaskannya dari kelebihan yang tak dianggap normal itu, dialah yang akan membunuhnya.
Pada suatu saat Sri Krishna masih anak-anak, berkunjung ke rumah Si Suphala, saat disentuh kelebihan tangan dan matanya, sirna seketika dan dia normal kembali. Saat itulah Ibunya memohon welas asih pengampunan kepada Sri Krishna agar tak membunuh anaknya. Sebagai akhir kata Sri Krishna menjawab, ketika itu adalah “suara semesta, maka itulah takdirnya”, Aku tak dapat merubahnya, akan tetapi Aku dapat mengampuni penghinaannya itu, hingga seratus (100) kali, ketika dilakukan di rung publik.
Berbagai upaya dan perbuatan Sri Krishna selalu dihina, hingga terakhir saat Sri Krishna dikukuhkan sebagai tamu kehormatan di Kerajaan Indraprasta, oleh Raja Yudhistira saat akan melaksanakan Upacara Raja Suya pengukuhan dan memperluas kekuasaannya. Saat itulah penghinaan Si Suphala berlanjut mencapai batasnya. Berbagai nasehat termasuk Bhagawan Bisma, Perdana Menteri Widura mengingatkan dengan nasehat yang tajam nan bijaksana. Tetapi dia tak bergeming, dan selalu merasa benar dan percaya diri atas penghinaannya itu. Dan merasa “mampu melakukan sekendak hatinya”.
Selanjutnya menyebut Sri Krishna yang keji dan tak bermoral, mempersunting istri dari suami yang masih terikat perkawinan. Selanjutnya menuduh Sri Krishna sebagai pembohong yang menipu rakyat dengan daya sihirnya. Oleh karena batas hitungan waktunya tiba Sri Krishnapun memotong lehernya dengan Cakra Sudarsana. Lalu terkapar di depan persidangan di tempat penghinaan yang dilakukannya. Akhirnya undangan kerajaan menjadi terperangah dengan berbagai persepsi dan tuduhan liar kepada Sri Krishna.
Si Suphala secara fisik bisa saja mati, tetapi kekuatan sifaf-sifatnya sekarang lahir berkembang, memperoleh kekuatan besar Jaman Kaliyuga, hingga tumbuh berkembang pesat. Akibatnya sifat-sifat itu lahir menurun dan berkembang luas meresapi jiwa insan-insan, ikut mengkonstruksi serta menguatkan karakteristik Jaman Kali Yuga ini.
Kekuatan itu bisa lahir dimana-mana, lincah, cerdas memainkan peran topeng-topeng rasional intelektualnya. Bisa saja berjubah orang-orang suci, raja, pejabat tinggi negara dan lain sebagainya. Karena bergerak amat rahasia menghinggapi kekuatan dan kepercayaan struktural nan menyeluruh. Akibat seringkali dan terus menerus digaungkan hingga bisa dianggap benar, atau terlihat benar dan masuk akal. Lalu didongkrak oleh kekuatan material kapitalis, menjadi kuat dan kokoh menguasai panggung permainannya. Tipuan-tipuan besar maya inilah yang sedang melanda segala lini kehidupan manusia saat ini. Tak terlepas juga hadir empuk pada ruang-ruang kesucian yang konon disucikan. Berubah menjadi tokoh berjubah kesucian, menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara
Menyadari realitas menyusupnya racun bahkan virus ganas ini, nampak dipermukaan berkembang menjadi racun kata-kata, yang selalu membuli, menghina, nyinyir, menjegal jalur-jalur perjuangan kebenaran yang dijiwai dharma kebajikan, mewujudkan cita-cita bangsa. Selanjutnya selalu inggin mengurung dan membendung jalur dharma kebenaran lainnya yang berbeda dengan pikirannya. Karena “pikirannya saja yang dianggap paling benar dan bermutu”, karena kekuatan material dan kapitalis, strategi politik ada menyertainya. Bagaikan kekuasaan Drestharata berkekuatan Duryodhana membungkan tokoh-tokoh bijak nan suci, hingga tak berkutik membendung napsu haus kekuasaan.
Walaupun Arjuna dan Bima termasuk Bisma, Kripacarya dan Widura sudah sangat “muak diam dalam kendali rohani” demi stabilitas kerajaan. Tetapi terikat pada kehidupan material istana, akibatnya diam seribu bahasa. Demikian pula saat Dewi Drupadi ditelanjangi tak ada satupun Pendeta istana yang berani dan turun untuk membelanya. Akibat sesobek kain yang pernah dipersembahkan kepada Sri Krishna untuk membalut telunjuknya, saat melepas Cakra Sudarsana memenggal leher Si Suphala.
Itu artinya Dewi Drupadi diselamatkan atas karma persembahannya sendiri. Oleh karena itu, kewajiban sucilah yang menyelamatkannya. Hal inilah yang perlu direnungi, ketika sadar menghormati nasehat leluhur. Bukan mengembar-gemborkan “leluhur” hanya sekedar mengkondisikan suara politik, merusak tatanan alam semesta. Dibalik itu semua penghinaan yang menjijikkan itulah yang menghancurkan saat waktunya tiba.
Saat itulah kita bersama dapat merenungi, bahwa Semesta bekerja dengan sangat halus, dengan segala kasih edukasi pengampunan-Nya agar insan-insan pembuli, penghina segera menyadari dan bertobat kembali pada jalan kebenaran. Selalu bergerak menyempurnakan diri atas tuntunan-Nya, agar tak gagal memaknai hidup dalam batas waktu yang tersedia. Saat kehidupan berjalan saling memberi, saling mengasihi dan sama-sama menyadari kekurangan adalah proses edukasi yang sesungguhnya. Bukan selalu merasa super, anti respon dan antik kritik, rakus validasi serta haus domanasi panggung. Tetapi marah-marah ketika dikritik balik, lalu menuduh dikriminalisasi.
Atmosfir gelap ini sedang melanda membungkus dan mengaburkan prestasi anak-anak dan pemimpin bangsa, yang didukung kekuatan sebagian besar rakyat. Sudah semestinya seluruh rakyat bangkit bersatu padu membangun mewujudkan kejayaan negeri, bukan ikut merongrong negeri sendiri mengikuti narasi dan ideologi tersembunyi para penjajah bangsa. Oleh karena itu mewaspadai dengan penuh keheningan hati nurani, agar “maha maya” berwujud racun kata-kata tak menyebar luas, mengaburkan keyakinan persatuan hidup berbangsa dan bernegara. “). *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments