September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KERJA YANG DIJIWAI CINTA KASIH”

Oleh:  I Ketut Murdana (Minggu, 08 Juni 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Cinta kasih bukanlah sekedar kata-kata teoritik pemanis komunikasi, diskusi, ceramah mendulang popularitas panggung, untuk kepentingan-kepentingan tertentu dan sesaat saja. Itu artinya bayang-bayang energi cinta kasih, berenergi lemah. Cinta kasih merupakan energi suci semesta yang mengalir, meresapi dan menjiwai pikiran, perkataan dan perbuatan setiap insan. Tumbuh dan berkembang dalam diri setiap insan.  Mereflesikan kesadaran, menjiwai setiap pekerjaan jasmani mendulang material sesuai potensi personal dan prilaku spiritual mendulang kedamaian. Keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh manunggal mencapai ketunggalan sejati.

Orang-orang bijaksana menyebutnya mencapai Yoga. Standarisasi pola kehidupan ini, tak terjadi dengan sendirinya, mesti menjadi perjuangan bagi setiap insan duniawi. Hingga saatnya menjadi semboyan “hidup adalah perjuangan, perjuangan adalah kehidupan”. Perjuangan menjadi sungguh-sungguh ketika tertuntun atas hakekat semesta, “sadar penyempurnaan”.

Sadar pada kebenaran itu, semesta mengedukasi lewat pelayanannya yang dapat diresapi sebagai pengetahuan, air turun dari langit menyentuh gunung, mengalir lewat sungai, hutan, menghidupi dan menyegarkan semua makhluk. Lalu terus menerus menuju dan menyatu di lautan, menyamakan rasa. Semua air sungai lebur menjadi rasa asin, tanpa kecuali. Tak ada lagi nama air sungai apapun di samudra luas itu. Ditengah-tengah proses itu kehidupan terpelihara dan berlanjut.

Edukasi proses semesta ini membangkitkan kesadaran insan-insan, lalu melahirkan pengetahuan suci, memuliakan kebesaran-Nya. Dengan demikian kesadaran bangkit dan terwadahi dalam jiwa insan-insan tertentu lalu bervibrasi kepada yang lainnya. Vibrasi-vibrasi suci yang amat rahasia ini memerlukan tranformasi logis menjadi prilaku duniawi ragam karakter

Dalam kontek inilah lahir “Sat Guru” yaitu sifat guru yang meresapi jiwa-jiwa terpilih menjadi “Sad Guru” penuntun, pembina, pembimbing dan seterusnya untuk “menyambungkan” dari rahasia yang “tak terpikirkan” menjadi sesuatu yang “nyata terpikirkan” memenuhi prinsip-prinsip kebenaran logis. Dapat dirasakan oleh seluruh panca indra, hingga bisa disebut “kebenaran”. Demikian sebaliknya dari yang terpikirkan (sekala) menuju netralitas suci, damai yang  amat rahasia itu (Niskala).

Hakekat kebenaran ini diperjuangkan dari jaman ke jaman bagi pendamba-pendamba penyempurna keluhuran. Orang-orang suci, para raja di masa lalu berguru pada Sat Guru sebagai penguasa Alam Semesta. Sad Guru menuntun proses agar pelaku tapa berhasil memperoleh anugrah untuk kesejahteraan umat manusia. Gelora edukasi yang berpusat pada alam semesta (cosmosentris) melahirkan budaya spiritual ragam cara.  Tempat-tempat suci pertapaan, Candi-candi didirikan sebagai persembahan, Guru-guru suci dihormati, alam dijaga kelestariannya, menjadi taman artefak budaya menebar di seluruh dunia. Mewariskan peradaban seni budaya spiritual mulia, hingga kini. Artefak yang terkubur, terbuka kembali oleh alam, melalui orang-orang yang “dikehendaki”.

Memahami dan memaknai kebenaran ini, bukan kembali ke masa lalu, tetapi meresapi esensinya untuk dilaksanakan saat ini. Pergeseran isme cosmologis ke spirit human value, keyakinanpun berubah. Akibatnya kemerosotan moral, etika, sopan santun, merefleksikan tindakan yang tak pernah takut pada hukum semesta, menjadi tindakan asura penghancur, membuka ruang neraka. Walaupun tontonan kejadian seperti itu, mengisi ruang publik setiap saat. Membebani pemerintah dan rakyat, tenaga, waktu, pikiran dan anggaran yang mengakibatkan kepincangan sosial, citra buruk dimata dunia. Keinginannya selalu  mengukuhkan kebenarannya sendiri, “bertopeng pahlawan kebenaran”. Dalam kontek itu, “betapa sulitnya memahami dan menemukan kebenaran”. Karena “esensi kebenaran” tak mau dirasakan dalam hatinya, tetapi selalu memainkan dengan kecerdasan olah pikir opini dan persepsional yang bisa melebar kemana-mana.

Ketika sudah demikian kecerdasan dan niat “rimbawan” menjadi semakin “merimba”. Walaupun raja rimba memangsa binatang buruannya, tetapi tetap tersisa juga bagi makhluk kecil lainnya. Tak seperti Komodo dan ular memangsa buruannya tak sedikitpun ada yang tersisa. Keadaan ini menempatkan bahwa pekerjaan atau sesuatu yang dikerjakan tanpa dijiwai cinta kasih, akhirnya kehancuran adalah jawabannya. Pertanyaannya mengapa hal itu terjadi?, jawabannya tiada lain adalah akibat krisis moral tanpa disadari, yang mengakibatkan cinta kasihpun tak tumbuh berkembang. Mengakibatkan terlahir orang-orang cerdas yang tak berguna, merusak kemajuan bangsa. Oleh karena itu pembangunan karakter humanis sudah menjadi keharusan dan prioritas utama saat ini, hingga cinta kasih mampu menjiwai kecerdasan mewujudkan dan merasakan manfaat pembangunan.

Merasa memiliki lalu mampu memelihara sebagai penghargaan bersama atas prestasi kehormatan bangsa. Bukan tumbang menumbangkan prestasi pembangunan, untuk konfigurasi figur-figur kelompok tertentu saja. Lalu negara dan bangsa menderita kerugiannya. Walaupun pada sisi yang lain dinamika ini bisa dimaknai sebagai edukasi penyemangat penyempurna, dan segera lewat dari dinamika sekarang ini. Dalam kontek inilah energi cinta kasih yang sedang meredup, mesti dibangkitkan bersama-sama. Mulai  kesadaran diri hidup berbangsa dan bernegara secara sungguh-sungguh. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!