September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Asura Maya Bisa Menyelinap Dimana Saja”.

Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 10 Juni 2025)

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Memang tak mudah melaksanakan sifat-sifat dharma kebajikan saat ini, untuk “mencapai kemenangan”. Kemenangan dharma barangkali telah dirasakan meresap dalam diri sendiri, lalu dirayakan. Itu artinya menggemakan dharma yang mesti diperjuang agar mencapai kemenangan. Pertanyaannya seberapa besar kesadaran dan keyakinan itu tumbuh memperjuangkan dharma dalam setiap langkah melalui ragam profesi?. Jawabannya adalah amat mempribadi, ada pada diri setiap insan. Karena disitu ruang kebangkitan kesadarannya, lalu memperoleh sahabat yang berprekuensi sama. Bagaikan pesawat terbang menembus kabut tebal menggunung, yang mengaburkan pandangan mencapai bandara tujuan, mengantarkan orang banyak. Pada sisi yang lain insan-insan bagaikan pilot, berjuang menyelamatkan diri agar bisa berlabuh di bandara kebahagiaan sejati.

Walaupun analogi ini tak sepenuhnya tepat, tetapi sekilas ada prinsip kesamaan esensi. Upaya-upaya penegakan dharma kebenaran ditengah-tengah, kekuatan asura maya penganut adharma yang berkuatan lebih besar. Konon saat ini dua puluh lima persen (25 %) berbanding tujuh puluh lima persen (75%). Dalam pergerakan memperjuangkan kebenaran itulah realitas dan capaiannya dapat dirasakan. Itu artinya ritual perayaan, sebagai doa mensugesti spirit perjuangan menjadi satu kesatuan yang utuh. Bukan berhenti pada pengulangan ritual semata, tanpa pengetahuan dan tindakan yang bisa meragukan kebenaran itu sendiri. Karena kebenaran adalah pahala dari perjuangan.

Ketika dharma kebajikan bergerak asurapun bertengger mencuri panggung lalu berkoar-koar membungkam menghancurkan, “bertopeng suara rakyat adalah suara Tuhan”. Masihkah rakyat percaya pada topeng-topeng itu ?, tentu patut selalu diwaspadai sebaik-baiknya. Para asura berjuang memudarkan kebajikan dharma bermain topeng hak asasi manusia, bergerak lincah mendulang kepercayaan, membangkitkan “emosi liar”, yang penting bersuara keras dan berani menentang.

Persoalannya apakah keberanian seperti itu benar-benar merupakan perwakilan kelompok tertentu atau suara-suara rakyat?. Tentu semuanya itu patut diwaspai dan ditelisik kembali esensinya, agar asura tak mudah memakai rakyat sebagai topeng, untuk memanipulasi suatu keadaan dan penyelesaian masalah. Kembalilah pada upaya terus menerus menghadirkan energi cinta kasih dalam diri sendiri, agar kekuatan suara dalam pernyataan sosial benar-benar bervibrasi damai dan meneduhkan.

Ketika sudah demikian merupakan esensi jiwa setiap insan atau rakyat yang diwakili. Bukan pandangan yang sekedar bertolak belakang, lemah argumen, lemah komitmen dan tindakan nyata terukur, menjadi teori-teori kebenaran saja. Bagaikan debat-debat diruang publik, memenangkan emosi intelektual, menghasilkan teori bertumpuk, kecerdasan silat lidah, kecerdasan membuli, tetapi mandul aktifitas yang bermanfaat bagi banyak orang.

Pormasi wacana ini amat disenangi menarik perhatian, karena bisa terjadi figurisasi “tokoh”, agar dikenal lalu populer di ruang publik. Menjadi tokoh yang ditokohkan, bukan karena ketokohannya dalam bidang tertentu, tetapi dikonstruksi lewat media.

Popularitas inilah mesti dipahami, apakah sebagai kritik sehat yang dijiwai semangat membangun atau bertopeng kritik untuk penghancuran untuk kepentingan sesaat. Dalam  kontek dinamika inilah asura meresap memainkan perannya, amat sulit dikendalikan. Walaupun sesungguhnya kebenaran dan rasa kejujuran itu, dirasakan dalam dirinya. Karena bertopeng mereka harus tunduk memainkan karakter topengnya itu. Tetapi permainan itu hanya sesaat lalu lebur kembali, lalu memainkan topeng-topeng yang lainnya.

Permainan topeng-topeng inilah “dunia permukaan yang bersifat sementara”, tetapi sangat meribetkan, lalu berubah terus, hingga akhirnya pemain-pemain itu seringkali lelah lalu kehabisan tenaga dan waktu untuk bisa merasakan kebenaran yang sesungguhnya.

Oleh karena itu menaruh topeng-topeng kemunafikan itu, lalu “memasuki permainan yang disutradarai oleh kejujuran cinta kasih”, jiwa-jiws Keilahian, berbasis pengabdian yang sesungguhnya, maka kebahagiaan yang mendamaikan tercipta dengan sendirinya. Perhelatan dinamisasi itu, mengakibatkan sifat-sifat asura bisa berubah menjadi energi besar yang bermanfaat (somya). Kesadaran hati nurani yang terus bergerak ke arah itu, merupakan energi cinta kasih yang mengalir, bagaikan air suci sungai gangga yang mampu melebur segala noda kekotoran jasmani dan rohani. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!