September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

” DOA-DOA SUCI MENJIWAI PRILAKU “

Oleh:  I Ketut Murdana (Rebo, 18 Juni 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika doa-doa permohonan untuk “menunjukkan jalan yang benar ke dunia-Mu”, menjadi kesadaran puja hingga dapat menjiwai “kecerdasan” kerja didunia material dalam arti luas. Kumandangan terus menerus doa-doa itu, secara esensial menjiwai keyakinan, mengokohkan keyakinan hidup, menuju kebenaran tertinggi. Kebenaran itu menempatkan kesadaran insan duniawi, bahwa banyak jalan untuk mencapai kebenaran itu. Diantara semuanya itu jalan mana yang “sesuai” untuk mengenal, memahami karakter personal agar terbangun potensi diri menjadi kesadaran diri yang sesungguhnya (atma-tattwa).

Semua karakter itu terwadahi oleh kuasa-Nya Yang Maha. Bagaikan lautan adalah tujuan semua sungai, lalu airnya lebur menjadi satu rasa. Itu artinya upaya yang baik dan benar (karma) untuk merasakan sinar suci Ilahi yang bersumber dari sifat suci Ilahi Yang Serba Maha itu (Brahman). Perjalanan panjang perjuangan nenek moyang dan leluhur Para suci dari jaman ke jaman, mewariskan artefak yang terindrawi menjadi bangun sejarah bertebaran di seluruh jagat raya.

Selanjutnya tersurat dan tersirat pengetahuan Ilahi yang menjiwainya. Memformulasi nilai-nilai kebenaran, kesucian dan keindahan. Ketika kesadaran historik nan Ilahi itu dipahami dan dimaknai, untuk kehidupan kini, maka aliran energi suci keilahian itupun mengalir meresap dan lenier. Semua itu terbangun dari “kesadaran” (cettana), membangkitkan ketidak sadaran (acettana) menyelaras harmoni mewujudkan nilai-nilai kebijaksanaan. Ketika sudah demikian rasa persaudaraan terbangun perlahan bervibrasi mendamaikan. Menjadi pondasi horisontal (tattwam asi) yang menempatkan hakekat esensial kehidupan.

Kebenaran yang menyelaras ini, sesungguhnya menguatkan prinsip-prinsip hubungan personal dengan Yang Maha Kuasa (vertikal). Keseimbangan dinamis horisontal mencapai keyakinan vertikal “Keilahian” ini, sedang mengalami ketidak seimbangan didalam jiwa insan-insan duniawi. Karena menempatkan kebenaran Ilahi, hanya sekedar sebagai topeng-topeng untuk panggung ketenaran sesaat, dalam segala lini kehidupan. Akibat ketidak seimbangan itu, insan-insan duniawi mengalami degradasi nilai-nilai moral yang terus merosot.

Karena semuanya itu disesatkan oleh indriya-indriya, napsu dan ego yang tak mau menempatkan dirinya dalam struktur keseimbangan semesta nan Ilahi itu. Akibatnya mengabur butakan hati nuraninya, terperangkap ketidak sadaran terhadap tujuan hidup sesungguhnya. Menyaksikan dan merasakan realitas kabur pemburaman energi suci, yang amat buruk bagi dunia ini, orang-orang suci bijaksana “memperoh job” yang hadir mengalir dari kesadaran dan keikhlasannya.

Pekerjaan besar ini, dirasakan sebagai tanggung jawab, yang diposisikan sebagai “kewajiban dan pelayanan kepada-Nya”. Walaupun sesungguhnya tanggung jawab semua insan. Dalam kontek ini mesti digerakan oleh Catur Guru. Guru Suci, Guru Wisesa, Guru Pengajian dan Guru Rupaka. Keempatnya mesti berkonsentrasi memuja dan meresapi pengetahuan yang mengalir dari Sat Guru (Bhatara Hyang Guru-Shiva menjadi Guru Swadyaya), menjadikan “jiwa-jiwa vrata jnanam”, siap mewadahi dan merefleksikan kebenaran. Menjadi kewajiban penyempurnaan diri di dunia material.

Kesadaran itu menempatkan proses yang selalu terhubung pada kebenaran sejati dan menjadi kebenaran yang hidup bergerak di dunia, tertuntun dan terkendali, dalam kehidupan sosial. Walaupun demikian masih banyak tak menghiraukan kebenaran sejati ini, lalu balik membuli, menentang, menghina dan seterusnya. Akibat dari semua itu menjadi semangat perjuangan mencapai kedamaian.

Akibat tak terkondisinya hubungan kerja material dan keilahian itu, mengakibatkan raja-raja dan pemimpin dikendalikan kekuatan asura, hingga tak ada rasa malu dan takut berdosa. Sedapat mungkin menutup dosa-dosa itu, lalu berteriak-teriak suryak siu berdalih kebenaran. Karena banyak asura yang ikut meneriakkan. Semua bentuk aktifitas napsu terkondisi baik dan tertib struktural, seolah-olah menjadi struktur kebenaran itu sendiri. Pemimpin asura seolah-olah tak tahu, walaupun tersembunyi, selalu terlibat di dalamnya. Pagar yang mesti menjaga tanaman, justru merusak tanaman.

Dasar-dasar edukasi berubah menjadi napsu yang semakin liar. Karena disana banyak suara, banyak aktor yang melindungi, agar saatnya nanti terkondisi pundi-pundi suara pendongkrak singasana. Apa yang akan diperjuangkan nanti setelah menduduki singasana, ya sudah tentu bisa dijawab karena realitas kulturnya seperti itu. Oleh karena kekuatannya demikian banyak, maka pemerintahan yang ingin berbuat baik dan maju, hanya sibuk menertibkan hutan rimba napsu dengan berbagai masalahnya.

Menyerang, menantang, bulian, serta hinaan yang tiada henti menyebabkan energi terkuras. Bagaimana upaya menumbuhkan nilai-nilai kompetitif dalam segala segi di dunia global, amat sulit, karena kehabisan waktu ngurusi pertengkaran mengukuhkan ego yang membara. Maka jawaban semuanya itu, bangsa ini harus sadar bangkit membangun diri dan bangsa agar bisa bersaing dan saatnya mampu memenangkan persaingan di segala lini. Hentikan segala bentuk pertengkaran yang tak tentu ujung pangkal, yang justru memudahkan “penjajahan masa kini” untuk menguasai.

Kapankah bisa keluar dari jeratan napsu kegelapan ini?, tentu jawabannya adalah pengendalian diri, mampu saling memaafkan dan sadar perbaikan bersama demi kemajuan bangsa mencapai keadilan dan kemakmuran. Semua ini jawabannya adalah perjuangan, persatuan adalah kekuatan. Strategi adalah pengetahuan kebijaksanaan yang mengantarkan. Bebas dari sifat-sifat asura berubah menjadi energi besar untuk membangun negeri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!