
“AURA KASIH”
“KEBENARAN”
Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu : 28 Juni 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Kebenaran yang dirasakan membahagiakan, hanya berada di jalan pengabdian kepada kebenaran itu sendiri. Manusia diberkati pengetahuan dan kekuatan energi di dunia material menjadi struktur esensial nan vital. Sebagai anugrah Ilahi yang adil bagi setiap ciptaan-Nya. Pandangan tentang kebenaran, akan sekedar menjadi teori tinggal diangan-angan. Ketika tak dijalankan dengan prinsip-prinsip kebenaran yang mampu “memuliakan harkat martabat” kemanusiaannya. Justru menciptakan kemunafikan yang sesungguhnya menggerogoti nilai-nilai kemanusiaannya. Lalu redup, erosi dan roboh perlahan tanpa disadari.
Seperti itulah hukum semesta bekerja amat halus, menyadarkan, mengampuni, lalu menghukum insan-insan agar kembali taat kepada esensi kebenaran tujuan hidupnya sendiri. Apabila batas-batas hakekat tak tercapai, maka pralinapun terjadi dengan sendirinya, tepat pada waktunya. Artinya tak terampuni lagi, harus mengulang proses kehidupan selanjutnya. Entahlah sebagai makhluk “apa” merupakan pahala dari karmanya masing-masing.
Tetapi kebenaran hukum semesta itu, amat sulit dilaksanakan, walaupun sudah dimengerti bahkan “diperdagangkan”. Walaupun sesuai perjanjian saat memperoleh kuasa penegak hukum duniawi, yang semestinya melindungi, justru membuka energi penghancurnya. Sebesar apapun bukti hukum kerja semesta yang nampak dipermukaan belum membuatnya jera. Dibalik itu semua ketika kebajikan menjiwai jiwa-jiwa para penegak hukum dunia yang taat dan jujur, terus berjuang membuka aib-aib mereka itu.
Semua upaya itu tak membuat mereka malu dan takut justru bangkit dan terus berkembang semakin cerdas. Akibatnya korban dipihak penegak kebenaranpun semakin banyak. Merekalah yang sesungguhnya menjadi “pahlawan kebenaran”. Bagaikan kisah Gatutkaca walaupun ibunya Dewi Hadimbi yang lahir pada golongan raksasa, tetapi mampu menjadi kesatria penegak kebenaran. Walaupun wafat di medan pertempuran, dibunuh oleh Karna dengan senjata dewata Brahmastra atas permintaan Duryodhana. Lalu keinginannya untuk membunuh Arjuna tak bisa tercapai karena senjata Brahmastra telah digunakan.
Karena senjata Brahmastra anugrah Dewata Dewa Indra itu hanya bisa digunakan sekali saja. Itu artinya anugrah kemenangan untuk asura terbatas dan sementara saja, tanpa keabadiannya. Oleh karena itu para asura selalu ingin menguasai dunia dan sorga. Rahasia kebenaran ini hanya diketahui oleh “Sang Penegak Kebenaran” dan dapat dirasakan kebenaran yang membahagiakan oleh pengabdi-pengabdi-Nya.
Dalam kontek inilah sesuai narasi purana, bahwa para dewa seringkali dikalahkan oleh para asura dalam mempurjuangkan kekuasaan di dunia material dan dunia rohani. Tugas dan kewajiban para dewa melalui anugrah keabadian yang melekat padanya, berjuang terus melawan asura, menyeimbangkan dunia melindungi semua ciptaan-Nya. Ketika sudah demikian perlindungan Mahadewa terjadi dengan sendirinya. Lalu abdi-abdinya terangkat menemukan kebenaran sejati, sebagai tujuan akhir dari kehidupan. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments