September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“JALAN KEMENANGAN YANG BERLIKU”

 

Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 29 Juni 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Apapun motif kebajikan yang diangankan untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan yang disebut “kemenangan”, mesti melewati suatu “perjuangan” berliku-liku. Karena “motif” itu angan-angan tersembunyi di dalam diri, menemukan koneksinya dalam kontek sosial semesta raya. Dalam istilah filsafat disebut mutiara-mutiara yang tenggelam dalam lumpur kebutaan hati nurani. Demikian juga disebut jiwa-jiwa yang tertidur lelap dalam lumpur dunia material. Dalam istilah spiritual disebut Samskara, yaitu benih-benih kebajikan yang terkubur dalam diri sendiri. Untuk menembus kabut gelap yang mengubur itu, memerlukan proses (sadhana), agar memperoleh anurah Yang Maha Kuasa, melalui “Yang dikuasakan” untuk mengkoneksi agar terhubung mencapai prekuensi energi suci yang sama.

Menyamakan prekuensi ini memerlukan perjuangan yang kuat, berani dan tulus ikhlas. Membangkitkan, memelihara, mengukuhkan, memberdayakan, keberlanjutan serta sampai pada “saatnya” mampu memancarkan energi suci agar “berpancaran”. Ketika telah “berpancaran” “Dia” bagaikan lilin-lilin kecil, sinar lampu dengan voltasenya masing-masing “bersinar menerangi kegelapan”. Saat itu makhluk-makhluk lain seperti serangga datang berhamburan, cecak-cecakpun datang untuk memangsanya.

Mencapai pancaran itu, bagaikan memproses batu intan, agar bisa menjadi cincin, giwang, kalung serta assesoris indah lainnya. Masing-masing substansi itu memiliki “ruang” perjuangan atau ruang prosesnya masing-masing. Dalam dunia perguruan disebut edukasi yang berlanjut tiada henti. Bagaikan seorang petani, membajak, menanam, memupuk, mengantisipasi hama, panen, mengolah  bahan-bahan mentah agar bisa menjadi “ragam sajian” memenuhi ragam selera yang menyehatkan konsumen. Tentu semua itu memiliki “standar proses” mencapai kualitas tertentu.

Dalam upaya mencapai standar kualitas itulah seringkali orang-orang “menghadapi kegagalan” sebelum mencapai keberhasilan. Sesungguhnya saat seperti itulah “edukasi” penguat mesti dipahami, dikaji, ditingkatkan terus untuk menemukan penyebab kegagalan itu. Saat itulah proses penyempurnaan melalui “pengorbanan” terjadi. Pengorbanan adalah reaksi proses dunia material meresap mencapai kualitas guna.

Sesungguhnya itu adalah managemen proses untuk mencapai keberhasilan. Saat inilah kesabaran dan kesadaran teruji. Saat itulah pengetahuan berkembang mencapai penyempurnaan, mengantarkan kratifitas. Apabila keyakinan lemah, maka kejenuhan terjadi lalu menghilang. Bosan dan prustrasi menghadapi proses yang dianggap sebagai kegagalan, lalu menoleh memulai yang baru di tempat lain yang memerlukan proses panjang juga.

Berkenaan dengan itu standar proses adalah penyiapan wadah (vrata), di dunia material maupun di dunia rohani untuk mewadahi anugrah agar keduanya menyatu mencapai kualitas kegunaan. Guna merupakan sifat, karakter kualitas diri yang dibentuk oleh kesucian (sattwam) yang mendamaikan sifat aktif, semangat bergerak dan menggerakkan dengan disiplin yang kuat (rajasika). Dan sifat-sifat pasif diam pemalas (tamasika). Ketika ketiganya bergerak selaras, menuju tujuan hidup maka sifat-sifat itu berguna mencapai kualitasnya.

Memahami, menggerakkan dan mengendalikan adalah proses itu sendiri. Searah dan terarah sesuai “ketentuan intisari kebenaran terpilih” sebagai bagian dari universalitas dharma, lalu menjadi jalan dharma yang diyakini. Karena sungai-sungai hanya mampu mewadahi sebagian kecil air semesta yang turun dari langit, lalu “Mengalir” menjadi “Aliran” menuju samudra kembali. Ketika sadar terhadap realitas semesta itu, semua pengetahuan mengalir dari kuasa-Nya.

Lalu melalui “aliran-Nya” yang berliku meresapi jiwa-jiwa insan yang mendambakan (vrata). Saat itulah kesadaran menerima, mensyukuri, lalu sadar dan ikut larut dalam perjalanan-Nya (yatra) menuju samudra nilai-nilai universalitas yang damai serta mendamaikan. Mencapai kemenangan yang sesungguhnya, menjadi impian bagi setiap insan rohani di dunia material. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!