
“AURA KASIH”
“Menanam Benih-benih Kebajikan”
Oleh : I Ketut Murdana (Jumat : 04 Juli 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Walaupun terasa amat berat menanam benih-benih kebajikan ditanah kering berkarang bebatuan napsu egoistik ditutupi dahan dan daun rindang pohon dalam hutan asura. Demikianlah gambaran Wibhisana menanam benih kebajikan dan memperjuangkan dharma dalam keangkeran hutan asura. Walaupun analogi ini cukup mengerikan, tetapi sesungguhnya realitas itu terasa mengerikan ditengah-tengah badai gelombang asura menerjang-nerjang tanaman kebajikan para dewa dan Para Suci saat ini.
Tetapi semua itu menjadi ringan ketika disadari sebagai “kesempatan” berkarma baik atas anugrah pelayanan kepada-Nya. Rahwana seorang Guru Wisesa mengukuhkan kecerdasan dan keangkuhannya, setelah mampu menundukkan para dewa di ketiga dunia. Dewa Shiva juga mau dikuasai untuk kesejahteraan kerajaannya saja. Tetapi Mahadewa Yang Maha Kasih membiarkan Simbol diri-Nya ingin distanakan di boyong ke Alengka.
Kecerdasan Dewa Ganesha menyaksikan kerdipan isyarat Mahadewa, lalu menyusun strategi untuk menyelamatkan kuasa universal untuk semua ciptaan-Nya itu. Ganesha mengubah diri menjadi seorang petani yang siap merayu dengan rayuan cerdiknya. Terus mengikuti perjalan Rahwana. Ketika sedang diperjalanan menuju Alengka, suatu saat tiba-tiba Rahwana ingin buang air kecil.
Lingga yang diusungnya tak boleh menyentuh tanah, demikian Anugrah Dewa Shiva. Kesempatan inilah dimanfaatkan oleh Ganesha untuk memainkan lilanya. Rahwana meminta bantuan petani samaran itu untuk mengusung sesaat hingga selesai buang air. Lalu Lingga itu diletakkan ditanah. Dewa Ganesha bergegas pergi menghilang. Sesaat kemudian melihat Lingga itu sudah melekat di tanah, Rahwana merasa tertipu oleh petani samaran itu.
Itu artinya kedekatan hati seorang pemuja, bukan berarti boleh mempolitisasi Kuasa Ilahi Yang Maha Kuasa untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya saja. Realitas kebenaran inilah diisyaratkan para suci penerima anugrah yang disebut wahyu suci itu, agar insan-insan duniawi mampu memposisikan dirinya “sebagai pemuja” dalam hubungannya kepada Tuhan, alam semesta dan tatanan etika masyarakat luas, yang semua bersandar berlindung kepada-Nya
Dalam kontek itu kekuatan Ilahi yang mesti menjadi perlindungan bagi semua ciptaan-Nya diselamatkan oleh kecerdasan yang bernilai pengabdian suci kepada seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu Ganesha diberkati gelar sebagai Dura Darsana, kemampun melihat dan menyaksikan sesuatu yang tak terjangkau oleh pengelihatan biasa, mampu memperjuangkan dan mengabdikannya untuk kesejahteraan serta kedamaian dunia. Sifat dan kemampuan melindungi kebenaran seperti itulah gambaran “sebagai anak” Ilahi atau ciptaan Ilahi. Sifat ini menjadi “gambaran” sekaligus “obyek” perjuangan bagi insan-insan duniawi memasuki dunia rohani.
Ketika meresapi narasi purana ini, menempatkan hakekat ciptaan-Nya, merefleksikan kekuatan, kecerdasan dan kebijaksanaan. Semua itu mesti disadari saat melewati proses panjang penuh liku. Ketika sebelum bernama Ganesha, “Dia” diberi nama Winayaka oleh Ibu-Nya Dewi Parwathi. Karena “Dia” hadir dari ciptaan, bukan dilahirkan. Karena Dewi Parwathi memperoleh kutukan dari Dewi Ratih, akibat kemarahannya kepada Dewa Shiva membakar suaminya Dewa Asmara. Atas permintaan Dewa Indra untuk menggoda Dewa Shiva agar bisa “menikah”. Kemudian melahirkan putra agar dapat membebaskan dunia dari cekraman asura.
Kesombongan Winayaka, yang cerdas dan gagah berani disempurnakan, melalui simbol pergantian kepala (pola pikir) yang dikuasai kesombongan, menjadi penguasaan pengetahuan suci yang rendah hati penuh kebijaksanaan. Tentu proses ini memerlukan edukasi penyadaran panjang. Demikian pula Wibhisana yang terus berupaya menasehati kakaknya Rahwana agar mengembalikan Dewi Sintha dengan hormat lalu mohon ampun atas kesalahan itu.
Tetapi Rahwana justru menampar balik lalu menyebut Wibhisana sebagai penghianat keluarga dan kaumnya. Tetapi Wibhisana terus menasehati dengan saran logis, etika susila yang menempatkannya sebagai kesatria penguasa ketiga dunia. Saran kebajikan itu tak pernah digubrisnya lalu menendang mahkota Wibhisana dan mengusirnya dari Kerajaan Alengka. Semua putra-putra Rahwana dan para menteri istana tertawa terbahak-bahak menyaksikan keadaan itu. Tetapi Wibhisana tetap tenang justru kasihan melihat kenyataan yang segera akan menghancurkan dirinya sendiri dan kerajaan Alengka.
Dengan meninggalkan kemasyuran istana, keluarga, kemewahan duniawi, Wibhisana pergi mencari perlindungan Sri Rama Pujaan-Nya. Pesan tersirat dapat dimaknai bahwa; Wibhisana membebaskan dirinya dari ikatan gelap material duniawi, siap menundukkan diri memasuki dunia rohani. Mencari pelindung dan Guru Sejati. Sri Rama menerima dengan tulus serta melindunginya, sesuai saran usul Hanuman. Walaupun Dia lahir dalam keluarga asura tetapi Dia taat mengemban dharma. Selalu menyebut dan memuliakan Sri Rama, serta menjalankan dharma sesuai kapasitasnya. Hal itu juga mengisyaratkan bahwa perjuangan dharma tak pernah mengenal lelah, dan rasa takut untuk menyampaikan kebenaran. Walaupun berakibat terkucilkan. Ketika mencapai puncak “keyakinan”, sifat-sifat suci atman terpisah dengan kekuatan asura yang membelenggunya.
Realitas ini menempatkan gelombang energi kebajikan dharma, mesti bersatu sesuai hukum keberadaan-Nya. Upaya menyatukan inilah “salah satu gambaran perjuangan dharma” hingga saatnya benar-benar energi dharma tersatu padukan, agar bisa berjuang bersama menembus kegelapan dunia, kuasa asura itu sendiri. Hadirnya Wibhisana merupakan andil besar bagi Sri Rama untuk mengungkap rahasia kekuatan Rahwana dan para asura lainnya, yang harus diberantas untuk menegakkan dharma di bumi. Akhirnya Wibhisana dikukuhkan menjadi raja di Kerajaan Alengka. Itu artinya perubahan jiwa-jiwa asura menjadi pelindung dan pelayan dharma itu sendiri.
Dirubah melalui melalui Kuasa-Nya, lalu mengubah menjadi insan-insan yang baik dan berguna untuk dirinya dan berguna bagi bangsa dan negara. Mengubah dalam proses perubahan itulah “kehidupan” yang disebut Atma-tattwatma menjadi Sudha Ya Mam Swaha. Memerlukan perjuang panjang tiada henti bagaikan menanam benih di batu karang, jaman Kaliyuga ini. Kesadaran terhadap realitas ini menjadi perjuangan sungguh, sabar tak mengenal lelah. Seperti itulah jalan pembebasan mencapai penyucian diri yang sesungguhnya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments