September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Cinta Dan Welas Asih Yang Sedang Tenggelam”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 11 Juli 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Era kecerdasan yang menyebut dirinya era baru milenial bahkan post milenial saat ini. Semua itu terkondisi oleh ketinggian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, yang telah memberi dan melayani seluas-luasnya kebutuhan jasmani yang bermuara pada selera, menjadi gaya hidup “berselera tinggi”. Sasarannya terus menerus, memuaskan selera insan-insan duniawi, hingga dapat melupakan esensi keberadaannya sendiri. Menawarkan sajian piranti, mewadahi segala aspek kebutuhan selera dengan segala perkembangan mode dengan kekuatan promosi daya tarik yang amat memikat dan menggiurkan.

Kehadiran semua arus budaya itu menjadi selalu merangsang selera, yang amat mengaerahkan. Arus strategi budaya ini memposisikan kekuatannya untuk mengarahkan orang-orang memasuki perangkap pengaruh selera duniawi, hingga menjadikan dunia dalam genggemannya. Lalu siap selalu memuaskan dan memanjakan selera indriya-indriya, napsu, hingga sasarannya terkapar stress tak berdaya. Tetapi Jargon-jargonnya semakin menguatkan egonya dan akhirnya menjadi ego super power.

Rangsangan dan konstruksi ke arah itu selalu menjadi perjuangan, didongkrak energi modal kapital yang luar biasa, menjadi peradaban besar yang mempengaruhi dunia saat ini. Itu artinya mengunggulkan dunia material terstruktur dan terukur kuatitatif, semakin kuat mengikat menjadikan insan-insan semakin terikat.  Akibatnya dari arus maenstreem itu, sebagian besar insan-insan duniawi terpesona bahkan “terjebak” tunduk arus kenikmatannya, lalu menjadi penikmat yang baik, lalu tak terasa menjadi korban kenikmatan itu sendiri.

Semuanya bergerak atas dominasi haus kenikmatan selera, sehingga mengakibatkan cara berpikir dan prilaku segala sesuatu harus diuangkan, atau siap dijual belikan sekehendak hati. Sesuatu yang esensial nan vital yang semestinya “dijaga, dirahasiakan dan dihormati” dibuka luas sedemikan rupa menjadi aset material yang menjanjikan. Untuk menguatkan semua itu diciptakam “hukum” yang dapat melindungi hak-hak asasinya.

Kehausan nikmat selera yang semakin kuat, bagaikan api yang disirami minyak menyala dan berkobar semakin besar, siap melalap apa saja yang disentuhnya. Seperti itulah realitas yang terjadi bagi kebanyakan orang yang telah membiarkan indriya yang dikuasai napsu, lalu menjadi ego yang semakin liar sulit dikendalikan. Akibat dari semua itu pintu neraka semakin lebar terbuka, untuk menelan dan menenggelamkan.

Korban besar nilai-nilai kemanusiaan dibalik arus budaya material itu, patut menjadi pertimbangan yang serius dalam upaya mewujudkan kecerdasan spiritual. Menghadapi gempuran dahsyat permainan hawa napsu yang amat cerdas, yang selalu diperkuat oleh kapital besar dan kecanggihan teknologi mutahir, yang amat sulit dikendalikan. Ragam tipu daya yang memanfaatkan kelemahan teknologi, semakin merebak disegala lini. Arus pergulatan itu menjadi profesi yang menjanjikan, menabrak tatanan seolah-olah tak ada hukum duniawi dan hukum semesta yang bisa mengetahuinya.

Persoalan besar nan gelap ini sudah demikian banyak menelan korban, menciptakan strees sosial yang tak terhindarkan. Akibatnya menjadi beban besar bagi pembangunan mentalitas kemanusiaan itu sendiri.  Artinya manusia telah banyak kehilangan eksistensi dan esensi kemanusiaannya, terjebak hasrat memuaskan diri sendiri dengan mengorbankan banyak orang.

Sifat welas asih atau cinta kasih yang merefleksikan kesadaran toleransi dan rasa persaudaraan hidup berdampingan sirna dari jiwa insan-insan duniawi, karena tidak diposisikan untuk hidup dan berkembang serta dipelihara dalam diri sendiri. Itu artinya semakin meningkatnya kecerdasan, tatapi tidak dijiwai oleh rasa cinta dan kasih sayang yang meneduhkan dan mendamaikan. Reaksi sikap prilaku gerakan semuanya itu, seringkali mendobrak realitas dan stabilitas sosial, terlihat seolah-olah-olah benar tetapi merongrong kebajikan. Selalu menciptakan kegaduhan yang merusak tatanan dan rasa persaudaraan semakin jauh dari rasa damai.

Gambaran dinamika kehidupan dunia ini, sesungguhnya telah dinarasikan oleh Bhagawan Wiyasa, salah satunya ketokohan Sangkhuni yang memainkan ketajaman intrik politik nan licik penuh tipu daya, sebagai senjata utamanya. Membiarkan diri tak tersentuh energi suci kasih-Nya, sehingga suatu ketika dia merasa gelisah, menyesali permainan judi dadu yang menjadikan kebanggaanya.

Permainan judi dadunya tidak lagi bermain di arena judi, tetapi menjadi permainan di ruang terbuka, berubah menjadi perang besar di Kurusetra. Dahulu dia memainkan dadunya dengan cerdik bisa mengendalikan setiap putaran sesuai keinginannya, sekarang terjebak perang dan harus berperang menyelamatkan diri, dengan kemampuan perang. Bisakah dia selamat dari peperangan yang diciptakannya sendiri?. Dahulu bersenjata dadu, sekarang bersenjata panah, yang tak bisa menghindar lagi kalau sudah ditembus oleh panah sakti musuh-musuh yang diciptakannya sendiri.

Memaknai arus budaya mesti dapat direnungi dan diwaspadai melalui narasi nilai-nilai filosofis yang diajarkan para suci leluhur, agar insan-insan kini mampu menjadikan dirinya menjadi insan-insan terdidik dan terpelajar, agar menang menghadapi jamannya. Selalu mewujudkan nilai-nilai cinta kasih dalam setiap prilaku. Menjadi jiwa-jiwa yang Santhi dan penuh welas asih. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!