September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“ SEKOLAH KEHIDUPAN ”

Oleh : I Ketut Murdana ( Kemis : 18 Juli 2025 ).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ragam kisah hidup insan-insan berjiwa besar dalam upaya menghadapi tantangan hidup, melalui ragam prilaku, telah dikisahkan oleh para suci bijaksana, agar insan-insan duniawi dapat menyimak dan terinspirasi untuk menteladaninya guna mencapai “tujuan hidup yang sesungguhnya”. Persoalan besar inilah sesungguh pengetahuan untuk hidup, yang selalu ditempa melalui proses semesta nan Ilahi sedemikian rupa, sesuai ragam alurnya masing-masing. Sadar tak sadar “penempaan” itu terjadi, tidak bisa dihindari oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun pasti terjadi, itulah wujud kebenaran hakiki.

Semua kebenaran itu mengingatkan agar insan-insan duniawi yang hidup, “sadar berproses” dan “diproses” dalam kehidupan ini, menjadi masalah yang sulit dipahami. Sadar berproses dan diproses oleh Kuasa energi kasih semesta yang amat halus, seolah-olah tersembunyi tetapi selalu ada. Keberadaan-Nya menjadi rasa halus yang mengalir meresapi insan-insan pilihan-Nya, untuk mentransformasi, mendeterminasi, mengemanasi, memvibrasikan lalu meresapi jiwa-jiwa dan jasmani lainnya. Energi itu bergulir melalui ragam proses “mempribadi” yang saat ini disebut personal God.

Akumulasi proses-proses yang mempribadi itu, menjadi ruang edukasi, yang dikondisikan oleh sifat kuasa-Nya sebagai Sat Guru mengaliri Sad Guru di dunia material melalui alur dan aliran pengetahuannya masing-masing. Bagaikan sungai-sungai besar yang mengalir dari pegunungan melewati daratan menuju lautan penyamaan dan penyempurnaan. Ketika aliran pengetahuan itu di daratan dikuatkan oleh Raja Raja penguasa ketata negaraan, bersama siswa-siswa yang berminat serius, dalam suatu ruang tertentu yang disebut sekolah, jaman dahulu disebut Pasraman. Sekolah atau tempat melaksanakan proses pembelajaran ini di masa lalu bertempat di lingkungan istana maupun di dalam hutan. Karena hutan tempat pertama kali nenek moyang hidup dan berproses hingga mencapai peradaban besar saat ini.

Rsi Wiyasa dalam Mahabharata mengisahkan di masa lalu, dalam Wana Parwa bahwa hutan merupakan “sekolah kemanusiaan”, karena di dalam hutan tempat Para Guru bertapa, mengajar dan mendidik murid-muridnya untuk memperoleh pengetahuan hidup agar mampu menghadapi masalah-masalah kehidupnya di bumi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sadar pada kekuatan semesta yang melindunginya. Di dalam hutan insan-insan terdidik menghadapi segala macam misteri, kekuatan gaib, binatang buas, kayu-kayu besar, semak-semak, sumber makanan dan minuman, tata cara untuk memperoleh, dan lain sebagainya.

Pandawa bersama keluarga besar putra-putra Asthina Pura, telah melewati pendidikan formal istana di bawah tuntunan Guru Drona yang telah menghasilkan kecerdasan masing-masing sebagai seorang kesatria, baik keunggulan memainkan senjata maupun etika hidup dalam ketata negaraan. Gelombang intrik perebutan kekuasaan yang dimainkan oleh tangan kotor Sangkhuni, bersenjata dadu, memainkan kelicikan penguasa buta. Terus menerus mensugesti dan mempropokasi Duryodhana hingga mabuk kekuasaan, hingga Yudhistira bersama Dewi Drupadi dan adik-adiknya mengalah dan siap kalah dalam permainan judi. Semuanya itu dilakukan untuk menghindari perang saudara perebutan kekuasaan.

Di dalam hutan proses edukasi kerohanian berproses, Yudhistira menelan pahitnya gempuran kemarahan adik-adiknya dan rambut Dewi Drupadi yang terurai, bagaikan ular yang selalu mematuk-matuk hati Yudhistira. Proses edukasi itu melahirkan kualitas kebijaksanaan diri, setelah melewati ujian berat oleh yaksa yang sesungguhnya adalah sifat kuasa Ilahi dharma itu sendiri. Selanjutnya Bima memperoleh restu kekuatan pengabdian dari Bhatara Bayu melalui Hanuman. Demikian pula Arjuna memperoleh senjata sakti Pasupathaastra dari Dewa Shiva, setelah melewati ujian berat dari Dewa Shiva. Selanjutnya memperoleh kutukan dari Dewi Surgawi menjadi banci yang sangat berguna dalam penyamarannya.

Ringkas narasi cerita itu merefleksikan makna, bahwa kecerdasan yang diperoleh dari edukasi formal duniawi, mesti ditingkat melalui proses edukasi spiritual nan Ilahi, agar bisa memperoleh anugrah Dewata, yang mengatur keseimbangan semesta. Itu artinya proses perjuangan insan-insan duniawi agar memperoleh kemenangan yang mendamaikan dunia. Bukan kemenangan yang menghancurkan seperti realitas dunia saat ini. Barangkali menuju ke tujuan seperti itulah, gambaran sesungguhnya tujuan dari sekolah kehidupan yang mesti direnungi dan dilaksanakan bersama-sama. @@@ = Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!