
“AURA KASIH”
“Diantara Keyakinan Sumpah dan Kecerdasan Spiritual”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 30 Juli 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Sumpah besar yang diucapkan oleh Bisma, sebagai wujud Bhakti kesetiaannya kepada ayahnya Raja Senthanu, yang ditinggal oleh ibunya Dewi Gangga sesuai perjanjiannya. Bisma bersumpah “tak akan berumah tangga selama hidupnya dan akan melindungi Kerajaan Asthinapura. Sumpah itu memuluskan keinginan raja menikah lagi dengan Dewi Satyawati, sesuai permintaan ayahnya, kelak putranya yang akan menggantikannya sebagai raja. Atas kesungguhan sumpah itu, Bisma diberi anugrah oleh Raja Senthanu untuk memilih waktu kematiannya sendiri. Nampaknya sifat Bisma telah menurun dari Ibu dan ayahnya yang menempatkan kesetiaan perjanjian di atas segala-galanya. Walaupun godaan dan tantangan dari sumpah itu tak ringan. Dewi Amba menggodanya hingga mengakibatkan kutukan terhadap kematiannya. Demikian pula Ibu tirinya meminta agar Bisma membatalkan sumpahnya untuk berumah tangga, karena adik-adik tirinya Citranggada dan Citraeirya tak melahirkan keturunan. Tetapi Bisma tetap tak bergeming mempertahankan sumpahnya, yang disaksikan oleh dewata.
Selanjutnya setelah kelahiran putra-putra Asthinapura melalui berkat Rsi Wiyasa atas permohonan Dewi Satyawati, Drestharata yang buta bersama permaisurinya Dewi Gandhari melahirkan seratus orang putra disebut Korawa dan Pandu bersama permaisurinya Dewi Kunti dan Dewi Madri melahirkan lima orang putra disebut Pandawa Lima. Dan Widura yang lahir dari seorang ibu dayang diberi nama Widura yang sangat cerdas dalam ilmu ketatanegaraan. Dewi Gandhari diikuti oleh kakaknya Raja Gandhara Sangkhuni bersama-sama sebagai keluarga kerajaan.
Kedua kelompok putra-putra Asthinapura itu terdidik dalam perguruan istana dibawah asuhan Guru Drona. Sangkhuni merasa sangat tidak nyaman atas kehadiran Guru Drona sejak diangkat menjadi Guru istana, tetapi putra-putra Asthinapura merasa sangat senang memperoleh Guru yang sangat mumpuni dibidang ilmu persenjataan. Dibalik pendidikan itu Sangkhuni memainkan perannya selalu menanam benih kebencian kepada putra-putra Pandu, yang ditempatkannya sebagai musuh batu sandungan yang disingkirkan agar bisa menduduki singgasana kerajaan.
Berbagai intrik dan strategi manipulasi dijalankan, membuang Bima ke sungai, lalu memperoleh kekuatan dewata setara kekuatan seratus delapan ekor gajah. Membuat istana kardus lalu membakarnya, atas taktik cerdas dan perlindungan Widura, Pandawa selamat justru memperoleh kesempatan mengikuti sayembara memenangkan Dewi Druphadi. Akibat kedatangan Pandawa itu Kerajaan Asthina dibagi dua Asthinapura dan Kandawa Prasta dibangun menjadi Indraprastha.
Mendengar berita mengembirakan itu, membuat Bisma sangat berbahagia, tetapi Widura berupaya menutupi aib besar itu. Tetapi strategi licik Sangkhuni itu tak berhenti sampai disitu saja, mereka merencanakan permainan judi dadu saat penobatan Yudhistira sebagai Raja di Kerajaan Indraprasta. Gagasan permainan telah berkali-kali ditentang oleh Bisma dan Widura tetapi, akibat taktik licik Sangkhuni bermain sembunyi dengan raja akhirnya judi bisa terlaksana. Kondisi ini telah merongrong sumpah Bisma, untuk melindungi Kerajaan Asthinapura yang amat sulit untuk dibendung.
Akibat permainan judi itu membuat korban dipihak Pandawa, walaupun akibat kemurahan hati Raja Drestharata mengembalikan Kerajaan Indraprsatha. Hal ini justru membuat Duryodhana tak puas, lalu ingin melanjutkan permainan judi lagi. Saat itu strategi licik Sangkhuni dimainkan Diryodhana mengancam raja Drestharata akan bunuh diri bila permainan itu tak disetujui raja. Yudhistira mengalah mengikuti ajakan Duryodhana itu, hingga berakibat Dewi Drupadi hampir ditelanjangi oleh Duryodhana di balai persidangan.
Saat itu Dewi Druphadi meminta kepada raja tentang kepantasan seorang wanita dipakai taruhan judi dan akibat kekalahan, lalu menantu kerajaan ini ditelanjangi di depan umum. Permohonan perlindungan Dewi Druphadi itu kepada Raja Drrstharata, Para Guru istana, menteri dan petinggi kerajaan lainnya tak berbicara satu patah katapun akibat keangkuhan Duryodhana itu. Lalu Dewi Drupadi meminta perlindungan kepada Kakek Bisma sesuai sumpahnya, ternyata juga diam seribu bahasa. Hanya akibat doa tulusnya kepada Sri Krishna, Dewi Druphadi terselamatkan melalui yoga mayanya memperpanjang kainnya hingga Dussasana kelelahan lalu menyerah, akhirnya Dewi Druphadi selamat dari serangan harkat martabat kewanitaannya. Saat Itu sumpah Bisma tak berarti apa-apa melindungi menantu istana yang sedang tertindas harga diri kewanitaannya.
Saat menyaksikan Dewi Druphadi diseret paksa dari ruangannya, oleh Dusasana Bima bersumpah “sebelum dapat membelah dada Dusasana dan meminum darahnya dan membasuh rambut Druphadi yang terurai itu, aku tak akan meninggalkan dunia ini dan tak ada yang mengulangi sumpah ku ini” demikian Bima bersumpah. Sumpah Bisma ini selalu meledak-ledak dalam setiap pertemuan, menunggu kesempatan tiba.
Demikian pula Arjuna bersumpah akan membunuh Jayadratha dalam satu hari hingga matahari terbenam. Sumpah itu sontak diucapkan akibat Abhimanya dibunuh beramai-ramai atas ulah Jayadratha. Mendengar sumpah-sumpah itu Sri Krishna berkata wangsa Kuru ini amat senang bersumpah tanpa memikirkan akibat dari sumpah itu. Kedua sumpah itu berhasil terwujud, akibat Bima dan Arjuna abdi-abdi penegak dharma terlindungi kuasa Sri Krishna menegakkan dharma.
Berbeda dengan Bisma sumpahnya tidak berumah tangga berhasil tetapi melindungi Asthinapura tak berhasil, karena raja Drestharata dan putra-putranya berpihak dan terjebak pada kekuasaan asura, lalu tidak berpihak sepenuhnya kepada Sri Krishna, kuasa Ilahi yang menertibkan dharma di Bumi. Akibat dari semua itu, badannya tertembus oleh ribuan panah-panah Arjuna yang didukung oleh Sri Kandi, hingga menderita dalam rasa sakit jasmani yang panjang. Tetapi jiwanya tenang menunggu perang selesai untuk menyaksikan “kemenangan Pandawa”. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments