September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Konfigurasi Isme Rahwana dan Sangkhuni Era Baru”

Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 09 Agustus 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika terus menerus mengukuhkan kepentingan tertentu, dengan dalih-dalih tertentu pula. Larut membiarkan diri termanipulasi oleh konfigurasi apik arus isme Rahwana dan Sangkhuni di era baru ini. Dapat menciptakan gelombang atmosfir “kuat, cerdas, licik menggelapkan”, menjadi keresahan yang menakutkan di ranah sosial yang berkepanjangan. Lalu sebagian besar masyakat takut berkeluh kesah tentang pathologi sosial, dan tekanan ekonomi yang tersembunyi memprihatinkan. Lalu kasak-kusuk di tempat, senggol sana-senggol sini, untuk menyiapkan sesuatu yang harus dipatuhi, karena enggan terhadap cibiran.

Tekanan-tekanan sosial yang dikemas dan dielu-elukan sebagai pengabdian, pelestari berkedok keajegan budaya tertentu, menjadi senyum sesaat. Selanjutnya seenaknya melanggar etika dan kesantunan sosial, lalu dibenar-benarkan oleh kroni-kroninya. Seperti itulah kelahiran kembali Indrajita di jaman Kaliyiga ini, mendukung kezaliman Rahwana ayahnya itu. Mudah berkelit beragam alasan pembenar yang sesungguhnya semakin memperlihatkan kekonyolannya sendiri.

Di balik kecerdasan olah-olahannya itu, di hati sebagian besar masyarakat telah jernih melihat persoalan, lalu mereaksikan kritik diam yang sulit dicerna. Karena yang dihadapi persoalan tatanan moral nan etis, yang tentu saja lentur pula untuk berkelit. Tetapi semesta melalui kekuatan sosialnya telah mencatat, menjadi karma wasana yang membekas. Semua itu untuk diserah pasrahkan kepada Yang Maha Bijaksana, mohon pengampunan, agar tak berlanjut menular. Ketika menular berarti merongrong menjadi erosi moralitas menghilangnya rasa malu, sebagai ciri kedalaman sikap beretika.

Barangkali seperti itulah perjalanan dan kendali olah prilaku kehidupan, yang sangat terbatas, siapa saja sesaat bisa terpeleset. Tak elok kalau sedikit kesalahan itu mesti dipinggirkan. Tetapi sadarlah bahwa terpeleset bagi seorang raja atau pemimpin sangat besar pengaruhnya terhadap stabilitas sosial masyarakat.  Sesungguhnya sudah semua insan memahami  bahwa seorang pemimpin adalah pengayom rakyatnya, tetapi mempraktekan tugas-tugas mulia itu tak mudah.

Tetapi orang-orang berebut mati-matian ingin menjadi raja. Walaupun kemampuan untuk menduduki singasana raja yang terhormat itu menjadi ternoda. Akibatnya justru mau cuci tangan dan lari dari tanggung jawab menghadapi masalah. Seorang raja tak mesti bersteteman bagaikan obrolan di warung tuak jalanan, stress, setengah mabuk tak tentu arah. Tetapi seperti itulah kualitas raja yang hadir di Jaman Kaliyiga ini. Selalu marah-marah setiap menghadapi masalah, berkomentar ngawur, berkebijakan nyeleneh.

Akibatnya ruang  disharmoni semakin terbuka, membuka jarak diantara superior kemapanan, dengan kesusahan yang dipaksakan agar terlihat mapan. Dinamika realitas ini terus bergulir, entah apa solusinya dan siapa yang diuntungkan. Akibatnya banyak yang keluar mencari solusi sendiri. Bisul bernanah ini perlahan memborok, merontokkan iman berubah pasrah satu persatu menceburkan diri ke dalam jurang. Kerusuhan demi kerusuhan terus berulang-ulang, membingungkan aparat penegak hukum.

Orang-orang asing tak lagi beretika sebagai tamu, tetapi  menguasai di atas kelengahan management, atau karena sengaja dilengahkan, agar asura-asura dapat peluang, lalu disertai  support sajian-sajian kemanjaan daya tarik napsu erotik yang serba boleh. Apakah tikus-tikus akan mati di lumbung, akibat padinya terus diterbangkan burung-burung, entah diberikan untuk siapa. Tak cukup berbuih berteriak di media, bertopeng “ngayah” lalu membiarkan penderitaan mental psikologis berlanjut yang masih banyak di kalangan rakyat. Oleh karena itu tak bijaksana memeras susu pada tubuh sapi yang semakin kurus, karena terikat dikandang. Walaupun di luar kandang tersedia lahar subur menghijau. Apabila tak siap diperas, ya pergi saja ke hutan lain demikian seloroh pemeras susu berdasi itu.

Tetapi itulah kekuasaan yang patut disadari, bukan menguasai kondisi sosial masyarakat untuk diberdayakan, guna mencapai peningkatan kesejahteraan. Tetapi lebih memprioritaskan kaumnya, dan premanisme pendongkraknya saja. Realitas yang tersisa menganga lebar ini, dan selalu tersisa menganga setiap pemerintahan raja manapun, oleh karena itu mesti menjadi perhatian dan kerjasama yang baik, melalui kebijakan vertikal dan horisontal. Bukan sengaja membiarkan masyarakat kebingungan dan dibingungkan kembali oleh pernyataan-pernyataan tak logis nan etis itu.

Beranjak dari realitas itu, semua insan harus kembali pada semangat persatuan dan kesatuan, menempatkan kesadaran dan swadharma masing-masing. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur semangat membangun, memberdayakan sumber energi berpengetahuan cerdas logis nan etis, bersemangat menjiwai swadharma. Mengkondisikan mentalitas dan moralitas seperti ini, bermuara dari pemimpin, yang berbasis sumber, sehingga penempatan kerajaannya selalu di pusat kota. Karena di dalamnya telah terkondisi dan dikondisikan orang-orang bijaksana menjadi penasehat raja.

Apakah orang-orang bijaksana hanya dibiarkan duduk manis seperti Bhagawan Bisma, Kripacarya, Dronacarya dan Widura, yang terdiam seribu bahasa menyaksikan kejahatan yang menusuk-nusuk dadanya?. Atau orang-orang bijaksana sengaja dipinggirkan agar mudah dan bebas mengikuti kemauan raja sendiri…?. Tentu itulah pertanyaan-pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban kata manipulatip, tetapi kejujuran hati nurani seorang raja. Karena nilai-nilai kejujuran dalam arti luas itulah “energi suci pelindung” meresapi jiwa-jiwa setiap insan, yang mesti disadari, dan harus dikomando oleh “raja untuk menyelamatkan serta mensejahterakan masyarakat luas”.

Ketika seorang calon raja yang ingin “menjadi” dan “dijadikan” oleh rakyat mesti berupaya terus menempatkan kesadaran dan perjuangannya ke arah konstruksi dan konfigurasi nilai-nilai kejujuran itu, karena rakyat yang menjadikan pasti mendukungnya, maka kemasyuran terjadi dengan sendirinya. Bukan mengabaikan dukungan rakyat dan meminggirkan dengan kebijakan-kebijakan nyeleneh tak konstruktif. Sesungguhnya itulah yang merongrong menghancurkan secara tersembunyi dan perlahan-lahan. Bagaikan strategi cerdas nan licik Sangkhuni menghancurkan sumpah Bhagawan Bisma, hingga tak mampu melindungi Dewi Drupadi dari hinaan harkat martabat kewanitaannya.

Realitas penelanjangan paksa terhadap Ibu alam semesta lingkungan ini, sekarang semakin menjadi-jadi, bertopeng kesejahteraan material, yang sesungguhnya menyembunyikan kerakusan. Seperti itulah akibat strategi licik Sangkhuni terhadap Duryodhana memerintah Dusasana hadir meresap membutakan hati nurani di era kesejagatan ini, yang patut disadari. Lalu kemana keluh kesah kegelisahan ini mesti ditujukan?. Hanya kepada Sang Pelindung Semestalah doa-doa puja dapat dilakukan, sesuai tuntunan para suci “Sang Penuntun iman” yang tersaji dalam kitab-kitab suci, purana, Itahasa, upanisad dan lain-lainnya. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!