September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Merdeka, Bersih-bersih Diri,  Bersih Korupsi, Rakyat Sejahtera”

Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu : 16 Agustus 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Merdeka dari penjajahan fisik merupakan “kemenangan” yang “membebaskan”, melewati perlawanan dan perjuangan panjang dengan pengorbanan nyawa dan material yang tak terhitung. Jeritan duka dalam luka fisik dan mental yang terjajah, berubah menjadi semangat berjuang bersatu padu melawan penjajahan. Merdeka merupakan upaya mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa di dunia, lalu kedalam berupaya mengisi kemerdekaan sesuai tujuan ideologi suatu negara. Sebagai insan-insan generasi terdidik, tentu memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan bangsanya. Pertanyaan dan jawabannya apa yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara, ditengah-tengah kemerdekaan yang sedang berproses ini mencapai masyarakat adil dan makmur.

Delapan puluh (80) tahun Indonesia sudah Merdeka, banyak kemajuan telah tercapai, patut disyukuri dan dibanggakan. Tetapi hal prinsip yang harus dilawan sekarang adalah musuh di dalam negara sendiri, dan juga di dalam diri sendiri. Menempatkan strategi penjajahan yang bergaya baru, melalui berbagai strategi penguasaan. Mereka menjadi asura-asura yang amat cerdas nan halus mengendalikan kekuasaannya, penguasaan sikap prilaku, keimanan, sosial budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, mode dan gaya hidup dan seterusnya. Akibatnya sebagian besar insan-insan berubah tunduk menjadi hamba-hambanya.

Lalu digerakkan sesuka hatinya untuk merongrong persatuan dan kesatuan, demi tawaran-tawaran nikmat duniawi, paket keimanan surgawi, dalam ragam cara penundukan. Realitas tersebut menempatkan asura menang menguasai pertarungan, memainkan perannya mencapai kekuasaan duniawi. Semua itu bisa terjadi, karena didukung oleh kekuatan material sebagai penentu arus jaman Kaliyuga saat ini. Semuanya ditentukan oleh uang, yadnya, hukum, politik, jabatan, percintaan, kesehatan dan seterusnya bisa berjalan baik karena uang. Maka tokoh-tokoh politik datang ke suatu tempat suci, disambut sangat luar biasa oleh warga. Karena ada uang sumbangan, yang menjawab harapan materialnya.

Entahlah jumlah beaya penyambutan dan donasi yang diberikan seimbang, tentu semua itu sangat pluktuatif. Pertanyaannya apakah asura-asura itu akan selalu menang?, jawabannya adalah “semangat perjuangan” tiada henti berlandaskan kekuatan dharma. Sadar pada kebenaran itu adalah semangat heroik demi cita-cita bangsa. Realitas insan-insan duniawi, saat ini lebih disibukkan oleh kegiatan di dunia material dengan segala resiko dan konsekuensinya, sehingga sebagian besar energi tercurah ke ranah itu. Teramat sulit bersinergi di ruang sosial nan humanis itu, untuk belajar mengisi diri melalui nilai-nilai spiritual nan humanis. Akibatnya menciptakan karakter individual yang semakin menonjol, keramah-tamahan berubah semakin sirna. Kultur persaudaraanpun berubah, dimasa lalu saudara seketurunan berada dalam satu komunitas saja, hingga amat mudah mengenal dan bercengkrama akrab maupun sebaliknya.

Tetapi sekarang siapa yang sealur sesuai profesi, itulah saudara dekat. Oleh karena komunikasi, keluh kesah berbagai macam persoalan terjadi di ruang itu. Akibatnya menjadi insan-insan nomaden era baru di ruang metropolitan, bahkan kosmopolitan. Berubah dari homogen menjadi heterogen. Dalam dinamika seperti itulah bekal nilai-nilai rasa toleransi, sebagai paham transformasi Kebhinekaan menjadi sangat prinsip dan penting bagi setiap insan bangsa ini. Karena melalui ruang ini asura-asura terus menerus menyusup mengadu domba agar bisa menguasainya. Tetapi banyak yang seharusnya menjaga justru membiarkan, demi kepentingan tertentu. Kalau sudah demikian teriakan merdeka bukanlah teriakan semangat heroik demi persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu melalui perayaan tujuh belasan ini, dapat dimaknai sebagai momen pembangkit kesadaran bersama meneriakkan kemerdekaan, sebagai refleksi renungan kedalam dan keluar diri diranah pergaulan dunia. Teriakan “Merdeka”, dilengkapi “Merdeka, Bersih-bersih Diri, Bersih Korupsi, Indonesia Sejahtera”

Teriakan sebagai momen merasakan kebenaran dan bersama-sama memperjuangkan semangat mewujudkan keadilan yang mendamaikan. Mengatasi persoalan besar insan-insan duniawi sangat sibuk berkolaborasi dengan jargon-jargon politik “penentu kekuasaan”, bermodal uang dan suara banyak. Bekal kecerdasan intelektual, mentalitas normatif, iman dan kejujuran bukan menjadi persyaratan utama, yang penting keunggulan kuantitatif. Menjadi judi politik dagang kursi.

Entahlah karakter sumber dan cara memperolehnya seperti apa?. Dinamika itu menciptakan misteri, bisa abu-abu dan gelap gulita, lalu tak sadar bergerak memasuki neraka duniawi. Gerak energi perongrong ini mengabur gelapkan atmosfir, menjadi penyimpangan kebijakan tak terkendali, korupsi, nepotisme, mengeruk paksa sumber daya alam, bukan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi balas jasa politik. Rakyat memperoleh “rajeki” kenaikan pajak berlipat-lipat, tetapi dapat ganti program pemanis. Patut pula dihormati dalam upaya mewujudkan kesejahterakan rakyat, sebagai dukungan atas pilihan yang telah diberikan. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!