
“AURA KASIH”
“DHARMA MENEMBUS DI LORONG SEMPIT”
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 26 Agustus 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Gelombang air hujan badai langit tumpah ruah membanjiri, membersihkan bumi lalu menggenangi daratan, meresap ke tanah memelihara kehidupan. Demikian pula pengetahuan yang “mencerdaskan” dan “penyadaran” mengalir, menyentuh, meresapi, membangkitkan jiwa insan-insan yang “dikehendaki” sesuai ruang dan waktu-Nya masing-masing. Hujan badai dan badai pengetahuan meresapi bumi, menyuburkan dan mencerdaskan insan-insan duniawi. Badai hujan dan badai pengetahuan mengandung sifat dualitas, sebagai penyubur mencerdaskan dan pelebur pralina. Pergerakan kedua kutub itu bergerak bersatu padu, merefleksikan dominasi-dominasi, kekuatan sifat kuasa-Nya mempengaruhi dunia dengan segala isinya, yang disebut jaman atau Yuga.
Pengaruh jaman Kali Yuga saat ini, membuat hutan dharma kebajikan tak terpelihara dan terjaga lagi bahkan terinjak-injak. Menempatkan kapak asura-asura berteknologi super canggih sangat mudah membabat dan menggundulnya. Sigap mengganti dengan hutan beton pencakar langit, yang konon berkonsepsi ramah lingkungan. Lalu menjadi “Trad Max kebanggaan”, yang dimaknai sebagai kemampuan super cerdas di jaman sekarang ini. Demikian pula tatanan dharma kebajikan diobrak-abrik dijauhkan bahkan dipinggirkan, lalu berjingkrak riang gembira di atas penderitaan rakyat. Itu artinya bermanis janji saat memerlukan suara dukungan, lalu sewenang-wenang menguasainya. Akibatnya menjadi hutan belantara parasit yang mematikan.
Berbagai persepsi tanggapan cerdas, mutahir insan-insan dunia merespon dinamika realitas itu sesuai kepentingannya masing-masing. Ada yang merasa rugi dan ada pula yang mampu memainkan kecerdasannya memperoleh ruang berproses mencapai keuntungan dari suasana itu. Pada sisi yang lain terkondisi insan-insan tak merasa bersalah, melanggar hakekat hukum semesta itu sendiri, lalu sibuk saling menyalahkan. Barangkali wajar saja hal itu terjadi, karena diantara atau dibalik ketajaman berpikir indrawi masih ada realitas tersembunyi yang disebut niskala. Akibat ketidak sadaran terhadap kebenaran tersembunyi niskala itu, mengakibatkan prilaku menumpuk kesalahan, menjadi gunung dosa yang terus menggunung, hingga menghalangi sinar matahari menerangi bumi.
Demikianlah Rsi Agustya menasehati Gunung Windya, agar berhenti meninggikan dirinya melampaui gunung-gunung yang lainnya, agar tak menghalangi putaran matahari bersinar menerangi bumi. Lalu Gunung Windya menunduk menghentikan niatnya meninggi lagi. Lalu mengubah kekuatannya tumbuh berjejer ke samping. Secara kosmologi menempatkan keteraturan gunung agar dapat menyebar di mana-mana menyangga peresapan air hujan, lalu memberi energi mineralnya untuk kesejahteraan makhluk hidup di dunia.
Pada sisi yang lain lahir, tumbuh dan berkembang kesadaran komunitas bahkan menjadi kesadaran kolektif, melalui bersih-bersih lingkungan yang bersifat fisik dan juga bersifat ritual menjadi konsepsi-konsepi gerakan kesadaran penyeimbang harmoni membangun bangsa. Secara vertikal mensyukuri atas semua aliran berkat-Nya. Pada sisi yang lain terlalu sibuk menata konsep dan jualan konsep, hingga menjadi aturan di rak buku. Lupa mengkondisikan sikap mental, kemudian lari dari tanggung jawab. Akibatnya lingkungan yang indah, asri nan suci, didobrak oleh asura-asura cerdas, kaya dan kuat, yang dipelihara sembunyi-sembunyi. Walaupun terang benderang “berbungkus aturan”.
Aturannya benar tetapi pelaksanaannya yang tak pernah benar, tetapi benar untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Akibatnya berubah menjadi ruang-ruang jingkrak-jingkrak napsu birahi berbungkus apik. Berpromosi luas, halus manis menyentuh elit-elit yang konon berselera tinggi. Mendesak kawasan sakral dan tempat-tempat suci, berbatas tembok tinggi terjaga Dwarapala berbadan tegap. Siap menghadapi siapapun yang mengganggu kenyamanannya. Benteng pertahanan ini sulit ditembus kekuatan hukum duniawi, tetapi tak mungkin luput dari “hukum hakim” semesta raya yang bergerak amat halus.
Berbeda dengan para suci pertapa di masa lalu, tempat belajarnya di alam semesta yang hening, jauh dari penduduk. Guna menjaga keheningan tapannya agar tak terganggu, diciptakan mitos-mitos untuk menakut-nakuti agar konsentrasi pertapaan berjalan khusuk nan hening. Hingga saat ini menjadi artefak bersejarah yang “memendam energi suci”, bervibrasi menyentuh jiwa insan-insan tertentu untuk menyadari realitas tersembunyi itu. Refleksi vibrasi suci itu, hingga saat ini sangat menarik minat sebagai obyek wisata spiritual dan yatra-yatra suci lainnya.
Pergeseran ruang aktifitas dalam kontek perubahan sosial, mengakibat tempat belajar pengetahuan material dan Spiritual berada dalam suasana hiruk pikuk hutan perkotaan. Karena transformasi psikologis dan kekuatan asura-asura berubah wujud, berasimilasi cerdas, selalu berambisi menguasai hutan perkotaan. Konsentrasi hening nan kosmosentris, bergeser menjadi metropolitan sentris. Konsentrasi hening menerobos, menembus belantara, lalu terhimpit intrik intervensi memarginalkan. Realitas yang patut disadari agar siap menguatkan kesabaran, berinteraksi dinamis mencapai keheningan rohani.
Realitas dinamis itu menjadi literatur hidup, menstimulasi indrawi dan non indrawi, dura darsana, dura srawana, dan sura dira, meresapi energi dharma menjadi realitas sublim lalu mensublimasi, tak pernah padam dalam jiwa insan-insan duniawi. Hakekat nilai-nilai esensial itu meresapi hujan badai dan badai pengetahuan kecerdasan serta kesadaran merasuki penguatan keyakinan prilaku dharma. Lalu memformulasi proses energi dharma itu agar terus bangkit bervibrasi mensejahterakan.
Tautan esensial nan universal, berimplikasi kilas balik dalam setiap lini kehidupan, patut disadari untuk menemukan ruang vibrasi bertransformasi, mempribadi untuk penyelarasan, mensejahterakan mampu menciptakan kedamaian di ruang sosial. Memaknai dinamika situasi alur terobosan energi dharma itu, menempatkan kesadaran humanis personal nan kolektif, meresapi energi dualitas, mengharmoni sadar posisi masing-masing menjadi Vrata Jnana yang sungguh-sungguh. Ketika sudah demikian terobosan energi dharma menemukan alurnya, hingga saatnya diberi kekuatan besar oleh putaran Yuga itu sendiri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments