
“AURA KASIH”
“SARASWATHI, KECERDASAN TERKENDALI KEIMANAN”
Oleh : I Ketut Murdana (Kemis : 04 September 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kemajuan ilmu pengetahuan yang didukung oleh kecanggihan teknologi yang super canggih, mampu mencapai kebenaran logis terukur, “Menembus batas” yang tak terbantahkan. Demikianlah kerangka pikir ilmu pengetahuan menempatkan posisi dan esensi kebenarannya. Pada sisi yang lain tak dapat diabaikan dan mesti sejalan adalah kebenaran moralitas yang tak terukur, bersifat kualitatif. Diantara kedua esensi kebenaran itu, “tentu ada kebenaran yang menyebabkan” segalanya hidup dan bergerak terpelihara, lalu sirna pralina. Semua itu menjadi sumber penciptaan segala aspek yang memberi dan mengisi kebutuhan hidup lahir dan batin menjadi “akibat”. Itu artinya “kebenaran yang menyebabkan” itu hadir mengalir esensial meresapi amat halus, sulit dibayangkan, “tetapi digunakan saja”, merefleksi sebaga “akibat”.
Kebenaran moralitas merefleksikan etika, berdimensi flural, ragam cara kesepakatan berprilaku, menyelaras dalam ruang komunikasi kesantunan publik. Bestruktur intrinsik lokalitas bervibrasi ekstrinsik menjadi tata krama pergaulan luas. Menciptakan interaksi saling memberi dan menerima, meresap lalu merefleksi rasa toleransi mewujudkan rasa damai, terkondisi kaedah-kaedah menciptakan rasa keadilan bersama.
Kebenaran yang memuliakan harkat martabat ini, telah mencapai puncaknya di masa lalu pada jaman Treta Yuga. Sekarang sedang mengalami gradasi nan erosi deras, menurunkan harkat nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Meninggikan sifat-sifat asuranya, lalu meninggalkan dan berbalik memusuhi dharma, melahirkan “kekuasaan” buta nan distruktif.
Sadar terhadap kebenaran etika, kualitatif nan flural itu, mengangkat martabat berperan menguatkan kebenaran logika, mewadahi, merefleksikan daya tarik indah simpati dan mempesona. Sebaliknya juga bisa merobohkan prilaku di ranah interaksi sosial, bila mengabaikan kaedah-kaedah etika komunikasi di ranah publik yang benar dan menyegarkan. Etika komunikasi itu teramat penting disadari, untuk menciptakan suasana segar, mensugesti semangat toleransi mewujudkan rasa nyaman, damai nan rasa adil. Betapa penting memahami psikologi sosial ini, menata pikiran, perkataan dan bicara yang baik dan benar serta menyejukkan. Terutama ketika berhadapan dengan kondisi sosial yang sedang bergejolak.
Berkenaan dengan semua itu, siapa yang menciptakan keadilan itu?, tiada lain yang patut diyakini adalah Tuhan, dengan ribuan sebutan-Nya, hingga salah satunya disebut Sang Maha Adil, yang didambakan lewat doa-doa suci agar berkenan turun ke dunia sebagai “Ratu Adil”. Tetapi setelah diturunkan “anugrah kuasa penegak keadilan” itu kepada insan-insan duniawi, terutama kepada insan pemohon dengan berbagai tapa brata perjuangannya, hingga mampu memperoleh anugrah itu.
Tetapi setelah memperoleh anugrah itu, sebagian besar mengubah dan menyalah gunakan kekuasaan itu, menjadi sewenang-wenang. Akibatnya meresahkan dan memelaratkan rakyat, merusak dan memperkosa Ibu Alam Semesta. Akibat kesalahan itu, lalu dilebur pralina memasuki neraka duniawi. Pengulangan demi pengulangan akibat dosa-dosa itu, belum bisa menjadi edukasi moral spiritual, lalu terus diulangi. Bahkan semakin parah, merusak mental moralitas humanis, hingga Ibu Pertiwi Alam semesta raya semakin rusak parah. Barangkali hukum alam yang dijiwai putaran jaman menjadikan insan-insan duniawi larut, lebur arus kelamnya jaman itu sendiri.
Bagaikan “air jernih nan murni” turun dari langit, menyentuh gunung dan alam semesta, lalu mengalir, berputar melayani ragam kebutuhan hidup ciptaan-Nya. Lalu berubah semakin kotor berlimbah ke hilir, menanggung beban kewajibannya. Kemudian Ibu Pertiwi tanah dan lautan Samudra luas menerima “akibatnya”. Kemudian dengan Kemaha kuasaan-Nya di daur ulang menjadi energi yang berguna lagi. Proses kerja semesta mendaur ulang serta membersihkan semesta raya dari pulusi besar itu, mengakibatkan korban besar yang dimaknai dari sudut kepentingan substansi tertentu bagi insan-insan terdampak itu sendiri. Sampah plastik beban kotor itu membutuhkan waktu yang amat lama untuk mendaur ulang.
Oleh karena itu teknologi bukan harus pintar menciptakan, tetapi juga harus mampu mengendalikan ciptaannya itu. Melayani kerja semesta agar tidak merusak kehidupan itu sendiri. Jeritan-jeritan sensitivitas nan ekologis kosmologis, berjuang mepertahankan tak mampu meredam perkosaan yang terus meraja lela. Tetapi itulah wujud kesadaran untuk berjuang bersama-sama memelihara Ibu Semesta kita, sesuai kemampuan dan sadar atas keterbatasan. Itu artinya sadar diri bergerak berbakti kepada Ibu Alam Semesta, dalam putaran waktu hidup dalam kehidupan dunia yang tak pernah berhenti. Kalau kehidupan itu berhenti, maka kehidupan itu tak ada lagi. Maka saat kehidupan itu, mesti tumbuh kesadaran untuk melayani kehidupan itu sendiri, merefleksikan bhakti yang sesungguhnya.
Demikianlah salah satu kisah Dewa Shiva saat menugaskan Sakti-Nya Dewi Parwathi untuk melaksanakan tugas mengatasi masalah-masalah dunia, atas kekuasaan asura. Saat itu Dewi Parwathi tak mau lagi membunuh asura-jahat yang mengganggu kedamaian dunia. Karena merasa tidak etis, setelah menginjak dada Dewa Shiva sendiri, agar berubah dari Dewi Mahakali menjadi Dewi Parwathi kembali. Saat itu Dewa Shiva tersenyum manis mendengar jeritan ketakutan nan bhakti Dewi Parwathi, lalu menjawab; hai Dewi-Ku, “apabila Engkau tak mau lagi menyelesaikan masalah asura-asura itu, berarti dunia ini akan berakhir”. Mendengar wejangan suci yang amat bermakna itu, Dewi Parwathi terperanjat, sadar pada dirinya sendiri. Lalu mengenang perjuangannya melalui semangat melewati, berkali-kali kelahiran hingga bisa diterima dan bersatu menjadi sakti-Nya. Lalu Dewi Parwathi berteriak histeris penuh semangat turun kebumi mengejar dan melawan untuk membunuh asura-asura yang menyengsarakan umat manusia di bumi.
Narasi purana ini mengingatkan bahwa secara terbatas hidup di bumi ini, selalu berhadapan dengan masalah baik dan buruk, yang berada dekat dan meresap mempengaruhi diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat, negara dan bangsa. Dapat diketahui dan disadari, di ruang mana masalah itu menyentuh yang mesti dielesaikan. Ketika itulah swadharma bergerak berproses mencapai dharma sejati. Saat itulah kualitas diri yang penuh rahasia, bergerak menerobos, menyelaras, menyatu mencapai Yoga, merasakan esensi Karma Yoga yang sesungguhnya. Secara perlahan akan terbuka dan dapat dirasakan kualitas dan herarkhi kebenarannya. Kualitas karma itu menempatkan harkat dan martabat yang mempribadi, mencapai teladannya.
Saat itulah kemampuan memerankan diri, memainkan esensi kekuatan ilmu pengetahuan, teknologi, moralitas dalam ruang sadar sinergisitas memaknai keberagaman mencapai harmonis, sejahtera dan damai. Semua itu sebagai refleksi nilai-nilai esensial dalam kehidupan duniawi yang meresap ke dalam diri sendiri, lalu bervibrasi dalam ruang sosial yang mendamaikan. Ketika sudah demikian kecerdasan yang terus meningkat, terkendali penyempurnaan oleh keimanan yang suci merujuk “sebab” dan mengendalikan “akibatnya”.@@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments