September 10, 2026
News

KISAH JERO MANGKU I MADE SUDIANA, DARI PELAYAN HIBURAN, ANTAR MAYAT, HINGGA PELAYAN UMAT

Penulis, I Komang Pasek Antara

AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Tidak banyak yang tahu, hari ini, Kamis setiap tanggal 11 September ditetapkan sebagai Hari Radio Nasional. Juga tanggal tersebut merupakan hari ulang tahun RRI (Radio Republik Indonesia) didirikan zaman kemerdekaan RI tahun 1945. Ikut menyambut merayakan Hari Radio yang merupakan media informasi, pendidikan, dan hiburan yang sangat populer pada zaman kemerdekaan sampai sebelum ada media teknologi komunikasi saat ini. Penulis sempat berbincang-bincang dengan sosok yang profesinya melekat dengan radio sebagai media hiburan top pada “jadul” (zaman dulu). Dia adalah Jero Mangku I Made Sudiana  yang biasa disapa Jero Mangku (JM) Dian, kelahiran Banjar Pekandelan Amlapura itu, kini telah lanjut usia  67 tahun.

Masa remajanya era tahun 1970-an lalu menggeluti dunia hiburan yang sangat populer masa itu profesi penyiar radio di Karangasem, tepatnya di kota Amlapura. Menarik cerita suami dari Ni Ketut Tri Susilawati. Selain pernah berprofesi pelayan hiburan menjadi penyiar radio, juga pelayan hiburan masyarakat, operator film bioskop dan bahkan pernah profesinya pelayan pengangkut mayat sopir ambulans rumah sakit dan kini sebagai pelayan umat status Jero Mangku

Bagaiman ceritanya?. Tutur awalnya, dimulai dari kegagalan sekolah SMA di Singaraja tahun 1976 lalu. Jalani hobi penyiar radio satu-satu hiburan populer masa itu yang kini nyaris memudar. Sebgai penyiar tak dipungkiri banyak kenangannya dengan para pendengar baik di kota maupun pelosok desa. Saat itu cuap-cuapnya di studio mengasuh acara sastra puisi dan bahasa Bali.

Katanya JM Dian, banyak fans berat setianya dari desa-desa langsung datang ke studio ketemu dirinya ingin kenalan. Dia pertama bergabung menjadi penyiar radio milik Pemerintah Kabupaten Karangasem yang dikenal dengan nama RKPD (Radio Khusus Pemerintah Daerah) di kota Amlapura. Awalnya tempat studio radio RKPD ada di areal Kantor Bupati Karangasem, Jalan Ngurah Rai. Lanjut beberapa kali studio pindah tempat.  Studionya di Perguruan Rakyat Saraswati Amlapura, sebelah utara Lapangan Candra Bhuwana (sekarang Taman Budaya Candra Bhuwana).

Kemudian pindah lagi ke Wisma Agung Jalan Gajahmada, dan terakhir ke Gedung Kesenian, Jalan Gajahmada (kini Gedung Mall Pelayanan Publik) sampai studio berhenti beroperasi sejak musibah gempa bumi landa Karangasem tahun 1979 setelah gempa Seririt, Buleleng tahun 1976. Terakhir dia bergabung menjadi penyiar radio RBS (Radio Broadcasting Service) Amlapura, kini Radio SWIB Amlapura di Jalan Untung Surapati Amlapura.

Sembari jalani hobi di udara penyiar, dia beradu nasib mengais rejeki ke dunia yang juga tidak jauh dengan dunia hiburan, menjadi operator film bioskop yang saat itu hiburan film sangat populer selain televisi. Sebagai operator film bioskop, JM Dian kerja di perusahaan film bioskop Wisata Theater bertugas di tanah kelahiran Amlapura. Saat itu gedung bioskop Amlapura Theater ada di Gedung Kesenian Amlapura di Jalan Gajah Mada, kini Mall Pelayanan Publik. Juga. Terkadang dirinya bertugas putar film “misbar” (gerimis bubar) ke desa-desa.

Tugasnya di film tidak jauh dari dunia cuap-cuap di mic, menjadi petugas mobil calling di jalan raya menginformasikan kepada masyarakat film yang akan diputar. “Ya saudara-saudara saksikan hari ini diputar dengan 3 kali show. Silahkan ajak keluarga Anda dan teman-teman menyaksikan film,” ucapnya  ketawa 😀😀mencoba mengulang ingatannya saat calling masa itu.

Bahkan katanya JM Dian, dirinya pernah diadu sesama petugas calling se-Bali, dan unggul meski sarana sound system sederhana tapi mampu tampilkan suara eho bergema. “Saya tidak pakai alat elektronik khusus hanya pakai mulut saja,” tuturnya tertawa haaaa. Selain calling sebelum film diputar dirinya tugasnya merangkap jaga periksa tiket masuk penonton di pintu masuk, juga periksa rol demi rol film yang akan diputar, bila ada rusak langsung disambung pakai lem khusus aseton.

Pengalaman profesi operator film bioskop tersebut dilakoni JM Dian berpindah-pindah tugas di beberapa kota di Bali, bahkan melanglang buana sampai ke luar Bali di Mataram, Nusa Tenggara Barat gedung bioskop Rinjani Theater di Mataram. Sembari kerja film, waktu pagi sampai siang dia memanfaatkan kerja sambilan bantu keluarga jualan beras.

“Rindu profesi film bioskop, kepengin rasanya saya mengulang kenangan masa remaja itu. Bagaimana saat itu era tahun 1970-1980-an film-film laga Hongkong seperti David Chiang, Chen Long, Tilung, Chen Kuan Tai dan lainnya. Juga film-film bintang remaja Rano Karno, Yesi Gusman dan lainnya saat itu ngetop selalu membludak gedung penuh ditonton usia remaja, bisa semalam diputar sampai 3 kali show,” katanya  mengenang hidup masa mudanya di dunia hiburan film.

Pengalaman menarik lainnya JM Dian. Saat memasuki masa berumah tangga tahun 1987 sebagai abdi negara kontrak harian di beberapa instansi Pemerintah Kabupaten Karangasem. Bapak 2 orang anak dan 3 orang cucu ini, pernah berprofesi sopir mobil ambulans kesehatan di RSUD Karangasem, tugas pelayanan angkut antar mayat/jenazah dan pasien sakit gawat darurat.

Selama 4 tahun jadi sopir ambulans, banyak sekali cerita niskala penuh mistis dialami JM Dian. Salah satunya kejadian gaib diceritakan kepada penulis ketika dirinya ngantar mayat tengah malam hari dari rumah sakit ke rumah duka. Di tengah-tengah jalan Sanghyang Ambu, Bugbug, Karangasem, mobil ambulans dihadang oleh sekor ayam. Seketika itu mobil dihentikan, kemudian JM Dian dan penumpang lainnya persaannya bercampur antara berani dan takut. Sudah diklakson ayam tetap tidak mau minggir. Akhinya dirinya turun dari mobil meminta agar ayam tidak menghalangi mobil tetapi ayam tidak mau minggir.

Akhirnya dirinya mengeluarkan ucapan ancaman “paling kamu akan jadi kian kasa atau jadi bade”. Seketika ucapan JM Dian itu keluar, ayam jadi-jadian lenyap menghilang. Masih banyak cerita mistis mengerikan lakoni sopir ambulans tidak diceritakan lengkap, diantaranya bawa pasien korban kecelakaan dan kriminal. Kini memasuki lansia (lanjut usia) purna tugas dari pemerintahan, JM Dian selain keseharian ngemong cucu, sejak tahun 1999 mengabdikan dirinya “ngayah” niskala sebagai pelayan umat menjadi pemangku dan bergabung dengan Paiketan Pemangku “Jnana Siddhi” Desa Adat Karangasem dan PSN (Pinandita Sanggraha Nusantara).

Juga menekuni kidung-kidung rohani pesantian bergabung dengan Seke Santi Gita Ydanya Desa Adat Karangasem. Aktif di udara penyebar informasi melalui organisasi ORARI dan RAPI Karangasem. Demi jaga kesehatan tubuh, dirinya aktif olahraga bergabung dengan grup lanjut usia GLBK (Grup Lansia Bangkit Kembali) markas di depan Stadion I Gusti Ketut Jelantik, jalur sebelas  Jalan Veteran Amlapura. @@@ CMN.

Facebook Comments

error: Content is protected !!