
“AURA KASIH”
“CINTA DAN WELAS ASIH”
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu, 14 September 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Mewujudkan jiwa-jiwa yang berkekuatan cinta kasih saat ini, merupakan kewajiban rohani utama bagi insan-insan yang mendambakannya. Ditengah-tengah erosi moralitas yang semakin tergerus penggelapan hawa napsu. Bagaikan air jernih mengalir dari hulu ke hilir semakin kotor berbau menyengat. Lalu hujan badai menghanyutkan ke lautan samudra luas mendaur ulang kembali. Itu artinya, insan-insan duniawi telah memberi beban, bahkan beban berlebihan untuk diproses Pralina oleh lautan. Menyadari realitas putaran kosmologis itu, sudah semestinya bagi insan-insan teredukasi pengetahuan jasmani dan rohani, berprilaku baik dan benar serta terkendali atas keteraturan kosmologis itu sendiri.
Berkenaan dengan itu, keteraturan merupakan sistem kerja semesta menciptakan keadilan, indah dan mendamaikan. Rujukan keadilan yang mendamaikan itu, mesti selalu menginspirasi prilaku, terutama bagi insan-insan yang telah “terbuka dan dibuka” kesadaran rohaninya untuk menembus belantara hutan bergunung terjal, yang gelap gulita itu. Berupaya terus memasuki, menerobos, menemukan celah-celah sinar suci kehidupan yang cerah. Gambaran simbolik nan methaporik ini, mengindikasikan, bahwa seperti itulah realitas yang dihadapi bagi jiwa-jiwa pembangkit pengusung dharma sejati, yang penuh cinta dan welas asih.
Sadar akan realitas yang dihadapi merupakan kebangkitan pengetahuan hidup, agar mampu berproses menghadapi situasi jaman, dengan harapan mencapai kemenangan. Saat itu doa-doa tulus menyertai, mengkoneksi energi suci Keilahian-Nya. Demikian pula tonggak-tonggak kemenangan dharma yang dihormati itu, telah disadari menjadi ketetapan prilaku ritual, menggemakan semangat perjuangan untuk mencapai kemenangan dharma itu kembali. Sebagai jawaban prilaku hidup yang bermartabat.
Berkenaan dengan itu, apakah wujud dari jawaban kemenangan dharma itu?, demikianlah pertanyaan itu “mesti dijawab” dengan hasil perbuatan yang berpengetahuan dharma, yang bersifat material jasmaniah untuk mencapai kebahagiaan rohani, sesuai profesi masing-masing. Itu artinya kesadaran dan perjuangan itu lahir bergerak mempribadi, lalu bervibrasi menjadi kesadaran kolektif. Lalu semakin terkondisi menjadi persahabatan rohani dharma. Kemudian bervibrasi lalu bersatu padu semakin meluas, menjadi “kemenangan besar”, yang mensejahterakan dan mendamaikan.
Kemenangan inilah yang sesungguhnya disebut kemenangan dharma atau kemenangan dewata, menghadapi asura adharma. Secara psikologis kemenangan ini, dirasakan meresap kedalam diri bagi setiap insan terutama bagi pelaku-pelakunya. Dalam kontek dinamika inilah persoalan besar selalu bergulir, bergerak bersama-sama ingin saling menguasai. Diantara sifat kebajikan dharma dan sifat keburukan asura adharma. Dalam dinamika itulah berproses, memerlukan perlawanan, penyelarasan, dalam ruang terbatas dan tak terbatas, terkendali “putaran Kalpa” penyempuraan untuk mencapai, kebijaksanaan yang Santhi dan welas Asih.
Dalam putaran waktu dan hari-hari yang terjangkau, memasuki putaran Maha Kalpa yang disebut Catur Yuga itu, kehidupan berada dan disempurnakan semesta. Menciptakan karakteristik jaman itu sendiri. Walaupun terkadang amat sulit untuk dijangkau, dan mampu merasakannya. Tetapi pengetahuan suci telah menyiapkan anugrah untuk memasuki realitas berdimensi itu, di ruang mikro dan makro yang metafisis niskala itu sendiri. Perwujudan esensinya riilnya merefleksikan hukum kerja, meresapi kesadaran insan-insan duniawi menghadapi ketidak sadarannya. Semua itu untuk memenuhi dan menyempurnakan keinginan jasmani dan membahagiakan rohaninya.
Perjuangan panjang insan-insan duniawi inilah menorehkan pengetahuan dalam prilakunya mengkonstruksi jamannya. Menjadi warisan artefak seni budaya yang bersifat spiritual nan indah mengagumkan. Semua itu mengisyaratkan kualitas “pengetahuan” insan-insan duniawi mengkonfigurasi karakter martabat jamannya masing-masing. Martabat itu menjukkan kualitas insan-insan duniawi mengkonstruksi jamannya. Bacaan historik ini amat penting, untuk menempatkan sadar posisi, dalam ruang terjangkau, menembus memasuki ruang metafisika nan niskala itu, merefleksi kesadaran berkarma jasmani dan rohani.
Menyikapi kesinambungan realitas itu, sadar menempatkan berkarma dalam putaran Kalpa sebagai “putaran yang maha adil” menggerakkan energi kosmik nan dualitas itu, hingga hukum sebab dan akibat dapat dirasakan kebenarannya. Ketika “sadar posisi” dalam kesadaran berkarma ini tercerahkan, maka proses penyempurnaan terjadi dengan sendirinya. Artinya insan-insan duniawi yang telah memerankan dirinya dalam proses berkarma sesuai pengetahuan semesta yang mencerahkan itu.
Maka jiwa insan-insan duniawi, akan selalu bergerak dan berkarma untuk mencapai pencerahan itu. Akibat dari semua itu lahirlah budaya religius nan suci, yang mengisi dunia dengan kesucian peradaban. Dengan demikian bagian-bagian dunia, sebagai badan jasmani Ibu Alam semesta yang bersifat “Maya” diisi seni budaya berhiaskan kesucian, terkoneksi sebagai persembahan yang memuliakan-Nya.
Dalam proses perjuanganlah jawaban kebenaran yang membahagiakan itu dirasakan. Bagaikan mendulang logam mulia dibawah pegunungan, ditemukan dengan proses yang amat berat. Berbeda dengan pemodal menikmati logam mulia itu sebagai aset, atau martabat duniawinya. Bagi insan-insan berbudi luhur, berupaya terus mempersembahkan kewajiban suci keluhurannya kepada semesta raya, adalah cara dan jalan memuliakan hidupnya. Dampak daripada semua itu, mewariskan nilai-nilai religius berbungkus artefak seni dan budaya.
Lalu dipelihara oleh alam, lalu saatnya dikembalikan lagi, untuk mengedukasi insan-insan duniawi. Baik dimensi kreatif penyuguhan rasa keindahnya, meresap kedalaman nilai-nilai spirit, maupun dimensi terbalik penghancuran oleh para asura-asura itu. Semua itu menjadi catatan perjuangan nilai-nilai hidup yang berbasis cinta dan welas asih, sebagai refleksi Bhakti yang beranugrah “Santhi asih”. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments