September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Bhakti Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis, 02 Oktober 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM) = Partisipasi Bhakti menciptakan karma Jnana dalam segala lini, melalui ragam profesi, bagaikan akar-akar yang selalu tumbuh menguatkan kesuburan pohon kehidupan sejati itu sendiri. Menyuburkan rasa damai dalam diri sendiri, sadar bertoleransi yang diresapi pengetahuan cinta kasih dalam kehidupan bermasyarakat yang heterogen nan dinamis. Dalam istilah filsafat disebut melawan dan menundukkan sifat-sifat buruk asura dalam diri sendiri yang disebut “kesatria Jnana” dalam ruang Ksetrajna yaitu pergulatan di dalam diri. Pergulatan untuk mencapai kemenangan inilah ritual prilaku hidup yang dihidupkan oleh anugrah pengetahuan-Nya. Dengan berbagai istilah dalam ruang lingkupnya masing-masing untuk membangun kesadaran diri. Semua itu bermakna bahwa sifat kuasa-Nya meresap tersembunyi dalam diri sendiri.

Lalu dihidupkan oleh respon aktif dalam ruang penjelajahan di alam semesta sebagai edukasi pendewasaan, merasakan nikmat rasa kebenarannya yang disebut Jnana Buda Siwa. Upaya menyuburkan melalui sadhana yang bersifat material nan rohaniah agar selalu berbunga, berbuah manis menyehatkan dan membahagiakan. Alur narasi psikologis itu, merupakan kewajiban yang sesungguhnya. Itu artinya merefleksikan Bhakti dalam sikap berprilaku yang dijiwai keyakinan yang mantap, “sadar penyempurnaan diri melalui pengabdian”. Menikmati indah warna-warni budaya dan harum semerbak bunga-bunga tumbuhan alam semesta raya yang menyegarkan dan mendamaikan jiwa.

Menikmati buahnya membebaskan rasa lapar nan haus jasmani dan rohani. Lalu biji-bijinya dilepas terjatuh ke tanah, disirami air hujan, dihanyutkan lalu tertanam. Dihidupkan oleh energi Ibu Pertiwi Yang Maha itu, hingga selalu bisa tumbuh mensejahterakan kehidupan ini. Begitulah kehidupan terpelihara sepanjang jaman.

Memaknai realitas naturalistik kehidupan itu, tentu bisa mengedukasi, agar insan-insan duniawi tak terlena dalam kesibukan angan-angan ilusif, penuh harapan, yang sering kali membingungkan, akhirnya terjebak dalam keresahan. Kepincangan psikologis yang tak terhubung cinta kasih nan suci ini, terjadi semakin menggunung, membingungkan dijiwai kecerdasan sifat-sifat asura. Melahirkan insan-insan lupa diri, berkarakter Sangkhuni yang tumbuh semakin subur. Lupa sumber dan kabur dari jalan hidup sejatinya. Hidup bekerja mengandalkan kepercayaan gerak  rekayasa olah pikir, bagaikan kuda liar. Menjadikan pendekar mabuk intelektual hantam kromo. Dampak dari semua itu, rasa damai tak mengalir memberkatinya, karena tak tersedia tempat dihatinya. Akibatnya selalu haus validasi, lalu berebut panggung dan kekuasaan material duniawi yang sewenang-wenang. Lalu berganti saling menguasai. Berkenaan dari realitas itu, sifat dan sikap hidup berjiwa asura, pintar mendekonstruksi realitas untuk kekuasaan yang mengaku cerdas dan ilmiah, tetapi menghancurkan. Istilah saat ini disebut management konplik, berkarakter identitas. Selalu mengkonstruksi konflik untuk bermain yang mengakibatkan daya penyembuhan yang sangat lama. Menjauh dari sifat ke Ilahian walaupun selalu berteriak-teriak “kebenaran”. Bertopeng religiusitas dan sikap kritis yang konon demokratis, tetapi hanya sesaat untuk singgasana tertentu saja. Saat lupa bertopeng lalu menggantung topeng-topeng itu, kembali terlihat wajah aslinya “ya” ternyata Rahwana. Ketika itu energi semesta diam-diam penuh rahasia bekerja melebur perlahan memasukan ke neraka duniawi, lalu lahir jaman baru.

Rangkaian narasi dari semua itu, menciptakan kekuasaan dan kemasyurannya berumur pendek. Dielu-elukan saat berkuasa, membenarkan segala keputusannya, karena energinya bisa mengalir dari kuasa itu. Ketika tak cerdas bermain dan tak bisa mengikuti permainan itu lalu tersisih menjadi barisan sakit hati. Pada sisi yang lain melahirkan sikap hidup berjiwa kesatria yang teredukasi jiwa-jiwa luhur mohon perlindungan kepada Tuhan. Mengatasi segala bentuk kepincangan yang di tuangkan melalui doa-doa perlindungan untuk negeri dan bangsa.

Barisan sakit yang tidak puas selalu ngoceh sana sini, sok alim berbicara kebenaran dan religius. Berkoar-koar tentang hukum karma, tetapi lupa dan selalu melabrak rambu-rambu saat menyetir. Menunjukkan kemabukan yang semakin meresahkan. Oleh karena itu, setiap ruang permainannya menggelapkan atmosfir keteraturan negeri. Ada di dalam negara, tetapi selalu merusak mental anak-anak bangsa yang mengakibatkan kepincangan sosial yang tak menentu. Barangkali ini wujud keadilan hidup sifat-sifat manusia dan asura menggelora dalam setiap jaman yang patut disadari.

Apabila kehidupan ini disadari melalui karakteristik putaran jaman itu sendiri, setetes minyak dan sekeping kayu bakar yang dipersembahkan untuk menghidupkan api suci memuliakan-Nya, menjadi ritual Agni Hotra. Disertai lantunan doa-doa berpengetahuan suci, membesarkan api semangat berenergi suci, menembus menerangi kegelapan, menjembatani kesadaran di dunia material menuju kesucian di dunia rohani.

Itu artinya berjalan di jembatan penghubung kehidupan yang berkesadaran jasmani mencapai tujuan hidup rohani yang membahagiakan, guna mencapai kebebasan abadi. Semua pengetahuan suci yang diturunkan ke bumi menuntun ke arah pencapaian itu, ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga kita semua selalu berada dalam semangat menyadari perjalanan panjang penyempurnaan hidup itu. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!