
“AURA KASIH”
“MENGENAL MUSUH DALAM DIRI SENDIRI”
Oleh : I Ketut Murdana (Senin: 06 Oktober 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Musuh yang dianggap selalu memusuhi itu, yang bergerak di luar sana merupakan egergi gelap menjadi bayangan menakutkan. Bayangan menakutkan itu “menyelimuti kesadaran”, memburamkan kecerdasan hati nurani menciptakan keraguan, yang terus meragukan. Akibatnya segala sesuatu yang telah terkondisi baik, diragukan dan terus ditelisik untuk diragukan. Ketika lepas kendali terhadap rujukan selaras harmoni. Bersikukuh membenarkan keraguan itu sendiri. Bergerak bersimbiose dengan isme panatisme kontras nan radikal, menciptakan isu yang konon berbekal kemampuan intelektual akademik, berteknologi canggih dan disupport energi material berkekuatan politik kekuasaan, saling menjungkalkan.
Energi gelap itu selalu ingin menggelapkan dan menguasai kesadaran, hingga semakin tenggelam dalam kegilaan ketidak sadaran diri. Reaksi energi ini bergerak terus, menjadi “musuh yang dianggap teman” menguasai hati nurani. Lalu keluar bersinergi membesarkan arusnya, untuk menguatkan gerak pembenarannya. Didongkrak oleh energi politik berkekuatan asura, berkekuatan balas dendam, membesarkan kekuatan egoistik yang menggunung.
Kalau sudah demikian kesadaran semakin tertutup, oleh ketidak sadaran memasuki ruang maya asura menguasai diri masing-masing. Pancaran energinya mengakibatkan “pembutaan”, buta etika dan tata susila, buta rasa malu, buta kebenaran, buta hati nurani, lalu berprilaku membabi buta. Kecerdasan berenergi negatif los penyelarasan ini, menciptakan kesenangan yang menghancurkan. Melupakan hukum kodrati yang bekerja amat halus nan alamiah tersembunyi. Merasa bangga tertawa terbahak-bahak ketika “merasa menang” memojokkan lawannya, mengekspresikan kesombongan intelektual yang semakin kandas dari tujuan penyadarannya.
Baru merasa menang saja sudah bangga, apalagi bisa menang, tentu tak terbayangkan. Bukankah kemenangan itu tak selalu kekal, besok ada penantang yang lebih kuat lagi pasti bisa mengalahkan. Ketika itu energi akan bergelora, mencari jalan penyelamatannya sendiri. Akibat ketiadaan kesadaran terhadap realitas intrinsik nan ekstrinsik itu, dapat “mengaburkan” kebenaran, sehingga yang berbeda dan berlawanan, selalu dianggap sebagai musuh yang harus dilawan. “Keharusan” cara berpikir ini berakibat semakin kabur dan semakin runyam, memperjuangkan permusuhan.
Lalu diyakinkan oleh ajaran pembenaran tunggal yang menciptakan kabut yang semakin keruh. Barangkali dinamika inilah realitas jawaban jaman Kali Yuga, bermakna mengedukasi dalam ruang keadilan-Nya. Sesungguhnya amat mudah dirasakan, ketika memusuhi sesuatu, musuhpun akan datang menyerang. Bukankah realitas ini setiap saat tersaji di hadapan insan-insan duniawi, dipasilitasi media-media komersial, memetik keuntungan dibaliknya. Berkedok kebebasan yang semakin liar bergerak sesuai alurnya masing-masing. Bukan ikut bersama-sama mengkonfigurasi menyelaraskan permusuhan menjadi semangat persatuan, saling mengisi dan saling memberi untuk kedamaian bersama penghuni dunia. Gelombang gelap tsunami ini patut diwaspadai, agar tak tergerus larut tercebur ke dalamnya.
Hitam dan putih dianggap dan disikapi sebagai perlawanan yang ingin saling memenangkan dan menguasai. Bukan sebagai upaya penyelarasan harmoni. Memerdekakan semua sifat dalam sikap hidup penyempurnaan. Ketika pemahaman ilmu pengetahuan material duniawi dan pengetahuan rohani spiritual berhenti pada substansi energi dualitas itu, besar dan kecil, mayoritas dan minoritas, maka yang hadir adalah dinamika konflik dan radikal kukuh memandang kekuatan masing-masing paling benar. Akibat dari semua itu yang “berbeda” adalah tidak benar dan harus dilawan.
Ketika sudah demikian, perang dunia pun akan terus berkembang. Melahirkan budaya perang dan budaya persenjataan. Bukan melahirkan budaya estetis indah mendamaikan, tetapi meresapi esensi nan vital kebergunaannya. Lalu mengukuhkan kepatuhan format, kulit dan busana, akibatnya menjadi benturan sana sini yang amat merepotkan. Lalu menjadi konflik yang tak pernah padam. Walaupun semua itu memerankan nilai-nilai edukasi spirit nan holistik tetapi amat sulit dimaknai untuk menghasilkan perubahan yang mendamaikan. Karena tak dimaknai dari sisi toleransi indah mendamaikan, tetapi ingin menguasai melalui topeng-topeng dan teriak-teriak kedamaian.
Akibat dari semua itu bertendensi pemaksaan makna, lalu kemurnian semakin kabur. Kekerasan semakin meningkat menjadi kekuatan politik kekuasaan di dunia material. Dunia rohani yang mendamaikan tinggal kata-kata. Kedamaian hanyalah kata-kata slogan tanpa makna perjuangan sungguh mencapainya. Konsep-konsep adi luhung hanyalah konsep tak bertransformasi menjadi tindakan optimal penyelamatan. Karena tak ada keyakinan teguh menyikapi nilai-nilai kebenaran semesta itu, melalui pengendalian diri yang baik dan benar.
Teori segudang, akal bulus tak sehatpun semakin liar menguasai. Lalu bertengkar saling menyalahkan, karena lebih banyak menjadi maling, oknum polisi pengamanpun harus berubah jadi maling terjebak nikmat kepalsuannya sendiri. Semesta barangkali sudah saatnya membuka aib-aib tersembunyi, yang disembunyikan atas kekuasaan, penguasa-penguasa asura. Saatnya sekarang sibuk menambal, menyumpal ragam borok, kebocoran, kerangka wadah yang semakin rapuh, saatnya roboh tak berdaya, ketika waktu praline-nya tiba. Membuka napas kesegaran jaman baru yang damai.
Sadar melebur dan merubah diri melalui perjuangan yang penuh keyakinan tulus, di jalan penyempurnaan diri, adalah jalan yang berpengetahuan hidup yang sesungguhnya. Karena berada dalam kesungguhan, maka keberhasilannya menjadi sungguh-sungguh membahagiakan. Saat itulah “kebenaran” tuntunan alam semesta rasa meresapinya. Walaun ragam belantara misteri menghadang, tetapi tetap tenang dan tersenyum menghadapi, karena semua itu adalah persahabatan yang membuka mutiara-mutiara, lalu menjalinnya menjadi untian yang indah mendamaikan. Ketika sudah demikian dinamika “lebur” tanpa kata, tanpa pertanyaan, bagaikan air sungai lebur di air samudra luas tak terbatas. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments