
“AURA KASIH”
“NIAT TERPANGGIL“
Oleh : I Ketut Murdana (Rebo : 15 Oktober 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Suatu ketika “niat” untuk hadir ke suatu tempat suci itu muncul, barangkali karena “dimunculkan”. Lalu niat itu menyentuh pikiran, semakin bergema menggerakkan tenaga, merancang langkah lalu menentukan waktu melangkah bersama. Menjadi suatu kesepakatan, terkomando semangat yang dijiwai kesadaran berkarma. Semuanya lahir, hadir muncul menjadi jalan untuk menembus misteri, menemukan cahaya Ilahi yang mencerahkan. Gelora ini merefleksi semangat menggelora membebaskan diri dari “ketidak berdayaan”. Ketidak berdayaan yang seringkali menjadi “kabut gelap” yang menggulung kesadaran, hingga tak berkutik lalu menjadi pembenaran yang terus dikondisikan yang dianggap benar.
Dinamika realitas yang terus menggelap ini, menjadikan kekuatan dharma dalam diri semakin redup. Mengakibatkan rasa persaudaraan berubah menjadi musuh yang terus menerus menguatkan kebencian. Menciptakan kepincangan sosial yang menegangkang, mengakibatkan stress sosial berkepanjangan. Kelimpahan material menciptakan kehausan yang semakin haus, tak terkendali. Lalu berebut saling menguasai, hingga aturanpun diciptakan untuk menguasai. Berebut menduduki singgasana, bukan untuk menciptakan rasa damai, tetapi memuaskan napsu pribadinya saja.
Keresahan rakyat yang semakin menjerit dibungkus dengan janji-janji manis, menjerat lehernya dengan pajak yang semakin meningkat. Pajak menjadi banyak koruptorpun semakin gendut dan merajalela. Kemana rakyat itu harus berlindung, hanya kepada Bapak dan Ibu Alam Semesta mohon perlindungan-Nya. Sesuai dengan sabda suci Ilahi, “ketika dharma kebenaran terinjak-injak dalam diri dan dalam kehidupan dunia, AKU akan hadir menegakkan dharma kembali di dunia. Kebenaran sabda suci ini, tak mudah dijangkau, terutama memahami proses kerja-Nya, waktu-Nya, dimana dan bagaimana.
Tetapi apabila setiap orang menempatkan kesadarannya pada prilaku kebajikan, siap menghadapi misteri gelap yang menghadang, maka secara perlahan rasa kebenaran itu akan dirasakan membahagiakan. Ketika itu terjadi proses pembebasan perlahan-lahan telah terjadi dengan sendirinya. Itu artinya niat yang muncul memanggil, mengantarkan pada obyek-obyek yang terjangkau menghubungkannya kepada sesuatu yang tak terjangkau, menyatu dalam nikmat kebahagiaan.
Para suci Leluhur telah menanam pondasi suci spirit itu, dengan sebutan Acintya yang memandang dunia tak terbatas, mesti ditembus melalui prilaku berkesadaran suci dari kesadaran duniawi yang terbatas. Dari kesadaran ritual menuju kesadaran spiritual. Dari edukasi pengisian pengetahuan suci yang menyadarkan, lalu bergerak mengabdikan diri, menyentuh realitas semesta merasakan kebenaran sifat kuasa-Nya yang meresapi yang mengangkat dan membebaskan. Walaupun kebenaran realitas ini masih sulit dipahami, terutama bagi yang baru terbuka kesadarannya.
Bahkan bisa juga menjadi pembuli dan penghina bagi yang belum tersentuh kesadarannya. Dalam kontek inilah tersaji realitas pembuka ruang proses indrawi, menjadi penguat kesadaran dan keyakinan bagi yang telah dibangunkan niat kebajikannya. Oleh karena itu Dialah sifat yang meresapi, dan memanggil melampaui kebiasaan duniawi. Wujudnya terkadang mengagetkan menyentak hati nurani dan pikirannya. Lalu gelisah menanyakannya, hingga bisa berproses panjang menemukan Guru di luar dirinya. Ketika telah bertemu edukasipun berjalan, lalu bisa saja tumbang kembali, apabila keragu-raguan dibiarkan menguasainya. Saat seperti itu pula panggilan niat untuk melakukan sesuatu yang benar untuk penyempurnaan diri, berhenti ditempat lalu terkubur lagi.
Oleh karena itu, tak mudah memahami hidup dalam penyempurnaan untuk mencapai kesejatian diri. Kesulitan itu, akan menjadi mudah menggaerah, ketika selalu taat menjalankan tuntunan-Nya. Saat itulah jawaban alam semesta mendeterminasi diri-Nya menjadi realitas yang meresapi semua prilaku, hingga mudah terlaksana sebagai jawaban yang sesungguhnya. Lalu hadir rasa syukur penuh keyakinan sebagai jawabannya. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan, Rahayu.









Facebook Comments