
“AURA KASIH”
Bhakti Sundharam, Penyempurna Yang “Meng-Indah-kan”
Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu : 18 Oktober 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM).
Bhakti Sundharam merupakan jalan Bhakti melalui salah satu sifat kuasa-Nya yang indah, “meng-indah-kan” jiwa menuju penyelarasan sifat-sifat yang Maha Indah, yang disebut Sundharam. Dalam konsepsi filosofis kekuatan-Nya terpadu dalam wujud Tri Sakti. Sundharam merupakan salah satu dari kekuatan Sakti-Nya yang terindrawi, meresapi rasa, menjadikan rasa indah atau rasa estetis, hingga bisa melihat mendengar obyek-obyek estetis lalu merasakan, meresapi dan merefleksikan. Disamping aspek-aspek lainnya yaitu: Satyam dan Shivam.
Sundharam merupakan wujud visual nan indrawi dan meresapi wujud rasa kejiwaan yang indah membahagiakan. Sifat-sifat dan energinya hadir dalam diri setiap insan sebagai pencipta, penikmat dan pecinta yang memberi daya hidup kreatifitas hingga terus berkembang. Hadir terus meng-indah-kan rasa personalitas, lalu dipersembahkan menjadi karya seni yang bersifat simbolik dan filosofis. Menjadi taman indah nan estetis bersifat indrawi (material) yang membahagiakan rohani (spiritual).
Menarasikan hakekat keilalahian hingga mudah diresapi oleh masyarakat luas. Dalam posisi ini seni nan indah Sundharam mentranformasi sifat-sifat ke-Ilahi-an bersifat “ulang-alik”, hingga perlahan meresapi jiwa-jiwa setiap insan. Ketika itu unsur Satyam telah mencapai tahapan-tahapan penghalusan prilaku kebenaran, lalu tumbuh berkembang menjadi kejiwaan yang bijaksana (Shivam). Alur dinamika itu berproses panjang, penuh keyakinan, pengorbanan yang tulus ikhlas.
Semua itu sebagai upaya atau sadhana merefleksikan tuntunan melalui Sad Guru, para suci Leluhur yang dikehendaki-Nya. Persoalan yang dikehendaki-Nya inilah amat rahasia, tetapi itu ada dan berkembang, karena itu anugrah kejiwaan yang bertransformasi personal. Melalui keberadaan itulah, edukasi pengisian diri bisa berjalan sungguh-sungguh, lalu belajar mengabdi hingga saatnya mampu mengenal dan melaksanakan misi hidup dalam kehidupan itu sendiri.
Namun dibalik itu semua, virus kebutaan hati nurani terus mengaburkan merongrong, melumpuhkan keyakinan lalu diam dalam nikmat angan-angan pemuasan napsu egoistik, menjadi insan-insan lupa diri. Realitas yang amat memprihatinkan dan menakutkan ini, bergelora setiap saat. Apakah hal ini bisa mengedukasi penyadaran diri, atau turun membiarkan diri tenggelam ke dalamnya?, jawabannya adalah pilihan yang menjadi identitas diri.
Ketika alur tersebut di atas dilihat dari konsepsi teoritik atau ilmu, maka hasilnya adalah kepuasan logis. Karena demikian luas dan tak terhingganya, maka alur edukasinya menjadi aliran berpikir untuk memaknai dalam kontek “mencari menemukan dan memberi”. Lalu lahirlah cabang-cabang ilmu pengetahuan. Kehadiran yang terus berkembang itu, mempelajari semua aspek kehidupan. Melayani kebutuhan dan menyempurnakannya. Ragam wujud pengetahuan yang esensial meresapi itu, demikian luas, terkondisi pada satu alur satyam itu sendiri.
Memposisikan pengetahuan teruji kebenaran terukur kuantitatif nan logis. Dalam sifatnya memberi itulah kebijaksanaan (Shivam) mesti hadir menyelaraskan dengan harmoni rasa nan indrawi, untuk menguatkan kendali konteksitas dan koneksitas kebenaran, untuk bisa menyelaras dengan unsur jiwa lainnya. Ketika kerja penyelarasan itu tumbuh berkembang, mengakibatkan segala unsur kejiwaan itu tenang dan damai. Saat-saat seperti itulah segala sesuatu terasa indah membahagiakan. Seperti itulah hadirnya Sundharam bangkit berproses dalam diri sendiri, lalu terhubung dengan kuasa-Nya Yang Maha Indah. Realitas kejiwaan yang hidup bergerak itu, di dalam diri berinterfenetrasi di alam semesta di luar diri sendiri.
Kondisi rasa yang intensif berlanjut ini, merefleksikan kuatnya keyakinan. Melahirkan tindakan penyelaras yang dituangkan menjadi konsepsi hidup bernilai dan berkekuatan spirit nan filosofi hidup. Menjadi keselarasan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, antar manusia dan dengan alam semesta beserta segala isinya, yang disebut Tri Hita Karana dalam ajaran Weda.
Ketika ajaran itu, diam dan didiamkan terkurung apik dalam rak buku, atau mempelajari suatu pengetahuan hanya didiamkan, tentu tak akan pernah menyuguhkan nilai sundharam. Oleh karena itu menyentuh dan membangkitkan mutiara-mutiara pengetahuan yang tersirat penuh rahasia di dalam diri, dan yang tersurat di luar diri adalah jalan penyelamatan dan penyempurnaan diri menjadi jiwa-jiwa yang Sundharam. Dalam kontek itulah wujud Bhakti Sundharam yang menghidupkan nilai-nilai keindahan, kebenaran dan kebijaksanaan, menjadi persembahan sebagai wadah penyempurnaan yang siap disempurnakan oleh vibrasi kesempurnaan-Nya. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments