September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MENGHORMATI GURU”

Oleh : I Ketut Murdana (Rebo : 22 Oktober 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Insan-insan duniawi yang telah disadarkan oleh pengetahuan, untuk berprilaku mencapai kesadaran jasmani dan kesadaran rohani. Sadar dan belajar agar mampu menghormati dan menghargai pengetahuan yang mengalir dari Sat Guru melalui Sad Guru. Mengalir meresapi jiwa dan raga yang menempatkan dirinya siap mewadahi lalu menjiwai pengetahuan itu untuk dilaksanakan. Pengetahuan bukan sekedar dibaca, tetapi menjiwai bacaan itu, lalu menghubungkan dengan realitas dan pengalaman hidup, hingga dapat merasakan kebenarannya.

Kebenaran yang terkondisi dan terkonfigurasi, dari membaca, melaksanakan dalam suasana metodologis nan humanis, memasuki berbagai dimensi sosial, merupakan harmoni penyelarasan. Saat itu memerlukan konstruksi dan kendali rasa emosional meresapi esensi menemukan makna sesungguhnya. Karena dimensi sosial dalam ruang karakter psikologis tertentu, menentukan cara pandang dan cara hidup yang berbeda-beda. Pemahaman ini menempatkan diri pada sadar situasi dan sadar rohani yang dijiwai sifat welas asih atau cinta kasih menjadi rasa persaudaraan yang berasal dari sumber yang sama. Tumbuh menjadi jiwa-jiwa toleran yang semakin berkembang.

Walaupun kesadaran rasa persaudaraan ini, amat sulit ditembus. Karena masih dibatasi oleh panatisme skat-skat keangkuhan. Tetapi kesadaran menempatkan rasa persaudaraan itu, memudahkan sambung rasa, menciptakan rasa toleransi saling menghargai. Bukan tolol ransi yang saling menghancurkan, merupakan sifat yang berlawanan selalu hadir, menentang, menantang lalu menguatkan mencapai kebijaksanaan. Ketika sudah demikian jiwa-jiwa itu telah dicerahkan sinar suci pengetahuan, hingga mencapai sifat welas asih membahagiakan.

Menumbuhkan dan menjadikan jiwa-jiwa seperti itulah perjuangan yang sejalan dengan tuntunan-Nya, melalui tuntunan pengetahuan penyempurnaan jasmani dan rohani. Saat itulah sifat-sifat dan kekuatan halus pengetahuan itu meresapi perlahan. Lalu dirasakan kebenarannya, menjawab “kebutuhan sesaat” maupun “jawaban panjang jalan kehidupan itu sendiri”. Jawaban sesaat itu, barangkali untuk memberi kehangatan gaerah, untuk berproses panjang dalam penyempurnaan itu. Saat itu kesadaran terbatas disadarkan untuk memasuki kesadaran yang tak terbatas yang disebut “prama” itu sendiri.

Alur besar nan hakiki inilah jalan penyempurna yang ditentukan oleh Sang Penyempurna, hingga langkah demi langkah selalu menggaerahkan kerinduan mencapai kesempurnaan itu. Bagaikan gaerah air sungai dari gunung turun ke daratan menuju lautan penyamaan rasa yang diberi oleh Sang Maha Rasa, dalam wujud lautan samudra luas. Ketika tanda-tanda alam semesta ini, dapat dimaknai sebagai spirit edukasi, maka Dia akan hadir sebagai Guru Semesta. Oleh karena itu tak ada ruang kosong tanpa makna edukasi. Pengertian dan pemahaman ini mesti hadir bagi insan terdidik dan teredukasi.

Menjadikan kecerdasan memandang, memaknai, menyikapi dan mengabdikan diri untuk mewujudkan kedamaian. Melahirkan sikap prilaku Bhakti dalam pengabdian. Menggerakkan, merencanakan, melaksanakan, mendoakan, dan mendukung konfigurasi energi yang terorganisir menjadi kesatuan jiwa dan raga, siap mengabdi dengan segala resiko menjadi pelayan dharma. Bagaikan wujud Dewa Ganesha, yang digambarkan sebagai putra Dewa Shiva yang paling cerdas. Cerdas pengelihatan, cerdas pendengaran, cerdas pikiran, cerdas olah rasa menjadi jiwa-jiwa besar bijaksana, siap mengabdikan diri atas tugas yang dilimpahkan oleh Ibu-Nya Dewi Parwathi dan Ayah-Nya Dewa Shiva.

Jalan panjang edukasi ini merupakan proses penyempurna, mengikhlaskan diri pada kewajiban pelayanan yang pada saatnya menjadi totalitas kesungguhan. Saat itu Sat Guru, meresapi jiwa semesta raya hadir menuntun meresapi jiwa-jiwa abdi-Nya, lalu memberkati limpahan kebahagiaan yang tiada tara. Menggaerah semangat hidup untuk selalu meningkatkan pelayanan. Saat itu pula ruang dan masalahnya terbuka semakin luas. Oleh karena itu Dia-lah pembuka pintu keluasan-Nya sendiri. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!