
“AURA KASIH”
“Memaknai Dharma Dalam Dimensi Dualitas”
Oleh : I Ketut Murdana (Selasa:28 Oktober 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Dimensi pemahaman tentang kebenaran esensial yang disebut dharma itu, ketika dikaitkan dengan realitas duniawi saat ini. Seringkali menimbulkan pertanyaan. Dari sebagian yang memandang sebagai kebenaran umum dan pandangan dari yang telah meyakini lalu bergerak berjalan untuk memperjuangkan lalu menembus hambatannya. Dari sebagian yang menempatkan kebenaran dharma itu sebagai suatu realitas kebanyakan, menjadikan “pandangan logis”, terukur kuantitatif. Artinya apa yang dilaksanakan orang banyak itu adalah “kebenaran”. Dalam konteks ini, kebenaran dharma diwadahi didefinisikan dalam ruang berpikir tertentu, lalu disepakati.
Tentu dalam kontek itu ada kesepakatan terstruktur untuk mencapai tujuan. Kesepakatan mencapai tujuan, seringkali menjadi preming suatu kebenaran. Saat itu kekuasaan dalam arti personal mempribadi, lalu meluas bermain dengan segala sepak terjangnya, untuk mencapai “tujuan kekuasaan”. Saat itu penyelarasan atau kontradiktifpun terjadi, yang menimbulkan rasa suka dan kecewa. Lalu yang merasa diuntungkan atau dihargai akan selalu bersemangat, demikian sebaliknya. Saat itulah muncul pertanyaan, apakah kebijaksanaan hadir menyikapi atau justru membiarkan napsu dan ego yang menghancurkan. Saat itulah kebenaran dharma menguji untuk menemukan kemurniannya.
Tujuan “kekuasaan” dan “kemurnian” inilah menjadi persoalan besar, apakah mengangkat derajat insan-insan, duniawi melindungi, mengkondisikan mencapai tujuan hidup sesungguhnya?. Berkenaan dengan tujuan itu, kekuasaan menempatkan sepenuhnya keyakinan untuk penyempurnaan derajat kemanusian itu sendiri. Itu artinya kekuasaan yang selalu memposisikan religiusitas dan spiritualitas dimaknai sebagai sinar Ilahi sebagai penggerak kekuasaan, yang maha adil. Lalu ego tertunduk terlatih dari latihan memposisikan gerak prilakunya, menyeleras dengan lingkungan sosial dan semesta raya. Untuk mencapai damai harmoni penuh cintah kasih.
Dalam persoalan besar inilah sistem kekuasaan bermain, dengan tujuan hidup sesungguhnya, berinteraksi di dunia sosial dan hakekat alam semesta. Saat itu pemimpin yang dipercaya bisa dipandang sebagai pengendali kebenaran dan kebijaksanaan, sekaligus menjadi suatu pertanyaan kualitas kejiwaan seseorang yang mesti ditokohkan sebagai pemimpin, penegak keadilan. Sebagai Kuasa Ilahi menegakkan keadilan, yang teramat sulit dijangkau, tetapi ada dalam kesadaran bergerak melayani Demikian sebaliknya yang menetang pemimpin dengan kekuatan logis berupaya mengaburkan dan menutup kebenaran itu.
Kedua ranah itu memiliki ruang gerak kuasanya masing-masing yang amat sulit dipahami bagi rakyat kebanyakan. Terkadang keduanya terlihat benar, diantara yang dikuatkan dan yang menguji. Ketika dilihat dari sudut esensial nan konstruktif itu, kebenaran dharma melingkupinya. Walaupun memahami amat sulit, memerlukan kecerdasan, kesabaran dan keyakinan perjuangan sungguh berlindung kepada Yang Maha Adil.
Saat itulah apabila kebenaran dharma hanya dipandang sebagai kekuasaan, maka kebenaran dharma memasuki wilayah permainan dan dharma kebenaran dipermainkan. Bisa menjadi topeng-topeng memanipulasi situasi, hingga berubah makna. Akibatnya kebenaran dharma dibingungkan oleh kekuasaan, yang berakibat membingungkan masyarakat luas. Saat-saat seperti inilah kebenaran dharma dikaburkan dan mengaburkan. Artinya nilai kebenaran dharma telah berada di ruang tapsir dan makna tafsir yang berhadapan dengan esensi kemurniannya. Dalam gerak dinamika sosial itu esensi kebenaran dharma bergerak dinamis nan herarkhis meresapi semua tingkatan tatanan. Hingga pada saatnya pengabdi-pengabdi dharma menemukan nilai-nilai esensialnya menjadi nilai cinta kasih yang mengangkat dan membebaskan. Diantara pengabdi atau pelayan dan juga penentangnya. Bagaikan kabut yang menutupi bulan dan bintang, saat turun menjadi hujan, lalu bintang-bintang terlihat bersinar cemerlang.
Dengan demikian kabut gelap berproses menjadi berguna mensejahterakan, bebas dari tugasnya menunggu proses dari yang berkuasa membebaskan. Saat itulah Sang Penguasa Penegak Dharma hadir membebaskan. Pencarian inilah proses kehidupan yang dicari, dan dicirikan oleh semangat perjuangan sungguh, untuk menemukan atau ditemukan. Inilah rahasia Ilahi sesuai hukum karma, yang terbuka pada saatnya.
Artinya terbuka melalui proses penyadaran panjang penyempurnaan karma itu sendiri, atas tuntunan sifat ke-Ilahi-an yang mengalirinya. Semua itu adalah jawaban yang disebut berkat yang membahagiakan. Berkat yang membahagiakan itu, menempatkan kedua aspek yang melaksanakan pengabdian dan yang menentang menemukan penyempurnaan kewajibannya masing-masing dalam ruang kesempurnaan itu sendiri. Saat itulah DIA mengangkat menyempurnakan, menghadirkan cinta kasih yang maha murni. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments