September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“DAYA CIPTA SENI MENEMBUS BATAS”

Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu : 03 Nopember 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Daya cipta seni mengalir mengekspresi, dalam ruang dan waktu, menembus batas kesadaran realistik nan natural, memasuki ruang dan pola kreasi, di dunia rohani indah membahagiakan. Saat itu kesadaran estetik memasuki ruang kesadaran spiritual, membuka ruang kontemplatif intuitif semakin luas. Pencapaian rasa bahagia membahagiakan ini, menempatkan seniman pelaku berada di jalan “karma yoga” yang sesungguhnya, merujuk jiwa semesta raya. Lalu saatnya mengalir menjadi anugrah membahagiakan sebagai puncak pencapaian menjadi persembahan “Bhakti Sundharam”.

Walaupun mencapai kebenaran mencapa Satyam, Shivam dan Sundharam ini tak mudah, karena “harus” mengarungi perjalanan panjang proses pemberdayaan, penyadaran penyempurna yang terus menerus dipenuhi keyakinan yang tulus, memaknai tuntunan-Nya. Bergerak dalam ruang edukasi formal dan edukasi semesta yang berlanjut penuh liku. Seperti itulah hukum proses kerja kreatif di dunia. Artinya kesadaran sikap berkesenian memasuki dunia spirit penyempurnaan diri, bukan hanya berhenti dalam kenikmatan estetik illusif nan imajnatif saja, lalu lenyap ditelan waktu sesaat. Lika-liku merupakan proses pengendapan, meresapi aspek kejiwaan pendakian estetik memasuki nilai-nilai spiritual nan religius. Jawaban ini hadir dan selalu hadir setelah proses berlalu, saat itulah pencapaian nikmat bahagia, lalu lahir inspirasi yang terus berlanjut dengan semangat baru.

Dengan demikian alur penciptaan adalah esensi salah satu wujud pengabdian dalam kehidupan itu sendiri. Kesadaran memahami realitas intrinsik itu, bahwa ada realitas dibaliknya, di dalamnya atau di atasnya dan dibawahnya. Reaksi psikis semua itu, selalu membuka ruang, dan terus terbuka, karena terbuka dari ruang estetik nan “purna”, agar sadar memasuki kesempurnaan estetik, di ruang “prama estetik”. “Dia”-lah yang mengangkat, menyatukan dalam penyatuan rasa estetik tanpa wujud indrawi, atau “membebaskan wujud indrawi” memasuki sifat esensialnya dalam kondisi interfenetrasi yang selalu ulang alik.

Nilai-nilai rasa nan esensial mendeterminasi, sifat dan energi, menyempurnakan kembali wujud indrawi, bergerak ke dalam diri insan-insan “teredukasi”, menjadi pengalaman estetik dan pengalaman spiritual yang mengalir, meluas dan bergelora. Kebenaran itu hadir di ruang tersembunyi, hening, mengalir, membangkitkan, menghidupkan, menyelaras tanpa disadari, mewujudkan rasa damai mensejahterakan.

Jenjang proses penyempurnaan indrawi inilah tahapan pencapaian estetik, menyadari elaborasi Satyam, bergerak membijaksanai melalui mencapai kesadaran estetik yang selalu menggaerahkan. Bagaikan seorang anak merindukan ibunya, lalu mencari dan mencurahkan ragam ekspresinya. Demikian pula kreator seni mencurahkan semua kerinduan estetik kepada Ibu semestanya sendiri. Bagaikan air hujan turun dari langit bergerak melalui selokan, sungai menuju lautan luas penyatuan dan penyempurna oleh Bapak Semesta dalam wujud sinar matahari, mencapai hakekat penyempurnaannya.

Ketika kesadaran kreatif dari insan-insan kreatif selalu menempatkan diri dalam kesadaran kosmik seperti itu, maka “Dia”-lah pengalir, pembuka jalan lalu menemukan “tujuan guna” memasuki esensi yang disebut “nirguna” estetik itu sendiri. Akibat dari semua itu, ruang estetik menjadi transformasi kosmik, mengalir, meresap, lalu meruangi wilayah estetik. Membuka kehidupan ciptaan baru, merawat, menjaga memaknai memasuki sifat keabadiannya. Catatan peristiwa mensejarah inilah telah dihadirkan para kreator ragam seni menyempurnakan dirinya di seluruh dunia.

Kosmik selalu berubah tetapi secara esensial abadi, seniman dari jaman purba membaca realitas kosmik dan dimensi perubahannya, lalu memposisikan diri, hingga mampu melekatkan daya cipta seni menghias kosmik, sebagai persembahan ragam bentuk dan ragam fungsi. Berdialog dalam suasana interfenetrasi methaporik yang terus menjelajah. Memang seharus seperti itu, ketika kesadaran tumbuh untuk mengenal kebesaran-Nya. Saat ini seni telah dijiwai oleh kesadaran sikap daya cipta kesemestaan itu, lalu menempatkan kewajiban persembahan agar berada dalam hidup ke-abadian-Nya. Persembahan kreatif nan estetik itu, meng-abadi dalam ruang kesemestaan, lalu mengedukasi bagi insan-insan pembaca penelahnya sendiri.

Akankah semua insan kreatif menempatkan kesadaran edukatif kreatif penciptaan merujuk kepada ke-abadi-an itu?, disinilah ruang kedalaman dan kesadaran estetik dijiwai nilai-nilai spirit bergerak bergelora hidup. Siapakah Dia itu?, dialah Sang Kreator unggul yang diunggulkan anugrah yang berproses, meluhurkan dirinya dalam daya cipta seni, merefleksikan anugrah-Nya kembali ke bumi dalam “suasa pemberdayaan” dalam pengabdian. Itu artinya “Dia” berada dalam keberadaan di dunia material yang terjangkau. Walaupun tak banyak yang menjangkaunya, tetapi vibrasi suci-Nya bisa dirasakan dalam wadah jiwa yang terbatas.

Menyadari “realitas baru” akibat tercipta hubungan sambung energi, diantara realitas dan non realitas ini, menempatkan daya cipta sebagai “kesadaran dan memurnikan kesadaran”. Itu artinya upaya meluaskan kesadaran terbatas, lalu terbuka dalam ruang tak terbatas sebagai,”ruang” penyatuan. Disitulah tercipta ruang aksi dan reaksi kreatif nan kontemplatif semakin memurni mencapai kemurnian itu sendiri. Saat itu kreatif bebas wujud, mengosongkan aktifitas kreatif, berkonsentrasi dalam suasana kejiwaan, bergerak menyatu dalam kontemplasi “kesunyian hening” membahagikan. Semua itu menyatu dalam “prama estetik”, merasakan kebenaran meresapi Keilahian-Nya yang membahagiakan.

Berkenaan dengan itu daya cipta seni merupakan jalan pengembaraan estetik spiritual, mengantarkan dan menyempurnakan ilusi-ilusi, inspiratif nan imajinatif, dalam ruang penyatuan rasa damai membahagiakan. Ketika sudah demikian melalui daya cipta, sang kreator mencapai kesejatian diri, daya cipta seni mencapai Yoga. Artinya batas kesadaran jasmani mencapai kesadaran rohani yang damai mendamaikan, memancarkan vibrasi cinta kasih. Menyentuh jiwa-jiwa insan dalam suasana gelombang jiwa yang sama. Realitas ini merupakan kualitas psikologis daya cipta yang mencipta dan yang mengapresiasi terhubung mencapai kesamaan rasa estetik, religius, spiritual yang harmoni membahagiakan. Mencapai kesadaran diri melalui daya cipta seni yang damai mendamaikan.  @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!