
“AURA KASIH”
“MENYAKSIKAN TARIAN HOAK”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 05 Nopember 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Berbeda seniman dan kreator ragam seni, menari dalam dunia panggungnya masing-masing. Merasakan getaran estetik yang membahagiakan, bervibrasi estetik, merasuki jiwa-jiwa estetik masyarakat luas. Terus bergerak perlahan menyentuh, menyambung mentransformasi, melayani daya cipta dari kuasa Penciptaan itu sendiri. Menjadi pelayan Sang Pencipta melahirkan tarian seni budaya mengisi, melengkapi, menyempurnakan hikmat hidup estetik membahagiakan.
Menempatkan semangat pelayanan kepada Sang Maha Pencipta, lalu meresapkan pengalaman estetik nan spiritual, halus menerobos keheningan kosmos. Lalu berinterfenetrasi saling menerobos meresap kembali kedalam diri sendiri. Semua itu merupakan jalinan hidup yang selalu terhubung dengan sifat kuasa-Nya. Akibat dari semua itu, penyerahan diri dalam kejujuran sikap berkarya seni, lalu berekspresi menarikan adalah sikap pelayanan, karena “DIA” selalu melayani dengan Kuasa Kemahakuasaan-Nya. Sadar menempatkan posisi diri dalam kejiwaan seperti itu, merupakan upaya menyiapkan diri dan jiwa semakin besar mewadahi anugrah yang berakibat meluaskan vibrasi estetik membahagiakan.
Ketika wadah jasmani dan jiwa itu diisi terus oleh kekuatan “sentuhan suci” kuasa itu, maka jiwa semakin besar mewadahi nilai-nilai kehidupan dalam dimensi gerak dualitas yang selalu bergerak dinamis. Termotifasi kesadaran mengenal memberdayakan, lalu mewujudkan nilai-nilai kebijaksanaan. Saat itulah tarian serapan nilai-nilai kosmik terkondisi, lalu bervibrasi indah membahagiakan. Oleh karena saat itu energi kosmik yang tersebunyi hadir mengalir membesarkan dan menguatkan keyakinan. Menjadi anugrah membahagiakan.
Berbeda dengan tarian hoak yang viral menguasai panggungnya sendiri. Didukung penari yang berintelektual tinggi, dengan segala ketinggian ego pengakuan prestasinya. Menyusun saluran tematik pendramaannya sendiri. Bertopeng ragam wujud, tetapi saatnya, selalu kentara karena selalu bertema mengukuhkan diri lalu menyudutkan, membuli, personal lawannya. Bersikap los etika kesantunan publik, mengaburkan gelapkan “kebenaran”. Semangat mencari pemain dan penonton, tetapi penontonpun barangkali kurang tertarik. Karena suguhan tematiknya yang tak edukatif humanis. Menggerahkan intensitas kejiwaan diranah humanis kesantunan publik.
Guru Wisesa dengan segala jasa dan kekurangan serta kesalahannya, yang patut dihormati justru dihinakan, seperti Sri Krishna dihina terus oleh anaknya sendiri. Tentu berakibat dusta yang menghancurkan, mulai dari keburukan citra diri, kehormatan lalu sisanya adalah gelap gulita dalam penjara neraka. Media sosial yang semestinya diisi dengan citra ilmu pengetahuan, perbuatan dan prestasi baik, yang memberi sedikit nilai kebajikan kepada bangsa adalah kemuliaan. Bukan memformulasi kekecewaan atas kekalahan, yang seharusnya diperbaiki agar bisa lebih berdaya guna.
Tetapi justru berpura-pura jujur ditengah-tengah catatan noda yang semestinya dihapus, oleh perbuatan baik dan benar. Tetapi terlalu banyak menempatkan dirinya pintar, lalu menghujat berkata-kata kotor tak beradab. Apakah itu tarian yang sedang menguasai panggung, seperti itu patut ditonton?. Lalu serangan balik, tantang menantang merasa benar dan kuat, berkompetisi dinamis dipanggung publik menjadi “tarian kabur makna”, los kesopanan publik. Ada sesuatu realitas psikologis tersaji yang patut dimaknai yang memandang bahwa; “lebih senang menghancurkan orang lain, dari pada sadar memperbaiki dan berbenah diri”.
Memaknai semua itu kewaspadaan patut ditingkatkan, agar tercerna esensi dasar dibalik itu semua. Itu artinya samudra luas telah menyajikan materi pilihan, yang mencerdaskan. Apakah pilihan itu, tarian hoak asuraisma, atau tarian indah Ilahi semesta yang membahagiakan. Saat itu pengendapan dan ketajaman panah-panah kemurnian mementangkan busur, lalu tepat pada pilihan dan pelayanannya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments