
“AURA KASIH”
“HIDUP YANG HIDUP”
Oleh : I Ketut Murdana (Rebo : 21 Januari 2026)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Nikmat dalam kepuasan napsu duniawi, terus menerus melayaninya, hingga membiarkan dan melupakan jiwa nan suci terkungkung gelap dalam diri sendiri. Akibatnya sinar suci yang menuntun, membangkitkan, mengangkat, mencerahkan terabaikan. Itu artinya wadahnya (Vrata Jnana) tertutup. Akibatnya edukasi prilaku yang mencerahkan ke arah “hubungan suci” itu tak terjadi. Pengetahuan suci kebenaran itu tak hadir menerangi, karena tak ada upaya sadar untuk mengenal, mempelajari lalu memaknai menjadi prilaku baik, benar, bijaksana untuk mencapai kebahagiaan sejati.
Ketidak sadaran terhadap hakekat hidup sejati itu, menjadi sikap acuh tak acuh, maka disebut “hidup” tetapi “tak hidup”. Artinya hidup di dunia jasmani saja, yang dikuasai indriya-indriya napsu bilogis saja. Tetapi tak dihidupi atau dijiwai oleh energi suci yang mengantarkan edukasi penyempurnaan hidup, menjadi insan hidup berpengetahuan jasmani dan rohani. Keduanya menjadi kesatuan penyempurna mencapai “pencerahan”. Ke arah itulah “jalan kebenaran berpengetahuan suci” yang diajarkan para leluhur dari jaman ke jaman. Sadar terhadap anugrah Ilahi itu, yang menyertai esensi kehidupan ini, lalu mengedukasi diri sepanjang ayat, merupakan hakekat penyempurnaan itu sendiri. Dengan pengertian lain “meluhurkan diri melalui ajaran leluhur”. Bukan sibuk menyebut leluhur, tetapi setiap saat membuli dan menghina orang-orang yang belajar meluhurkan dirinya.
Barangkali leluhur itu dimaknai dari “sudut” pandang tertentu saja yang “menyudut” lalu hanya siap “menyudutkan” saja. Seperti itulah ciri-ciri jaman Kaliyuga yang patut diwaspadai dan disadari. Oleh karena itu, bagi yang benar-benar belajar, bulian dan hinaan itu sesungguhnya merupakan sahabat sejati, sebagai energi pembangkit, bagaikan awan yang dihempas angin di malam hari. Saat itulah sinar bulan terlihat cemerlang menyinari bumi. Dengan demikian gerak dualitas yang dinamis itu, mesti dijiwai kesadaran yang pengetahuan suci, mampu melahirkan kebijaksanaan. Kebenaran inilah yang patut dimaknai bersama-sama menyelaras harmoni mencapai kedamaian Santhi dan welas asih.
Bukan sama-sama kukuh dan angkuh mempertahankan sesuatu yang dianggap benar, tetapi belum tentu benar sesuai hukum Ilahi semesta raya. Bagaikan lautan tak pernah menolak air sungai manapun, baik kotor, bersih, amis apapun jenisnya itu. Memperjuangkan kebenaran mencapai ketinggiannya adalah upaya sadar sebagai insan berpengetahuan. Apabila berakibat ingin saling merobohkan, maka “kebenaran itu akan berumur pendek”. Menyadari kebenaran masa lalu dengan masa kini, untuk menyempurnakan masa depan adalah “kesepakatan bijak” dalam arti seluas-luasnya. Ketika sudah demikian konflik horisontal dapat dihindari. Kecerdasan yang menyelaras menciptakan kedamaian bersama inilah sedang bermasalah, karena kecerdasannya tak dijiwai kesucian hati nurani. Akibatnya konstruksi dan konfigurasi kebijakan yang diangankan selalu ingin menang sendiri demi keunggulan kelompok komunitasnya saja. Pandangan universal sekedar topeng bicara, menjadi substansial dan liar. Ditunggangi politik asura, menciptakan konflik, dan memelihara menjadi “kebenarannya”.
Mewaspai resapan kekuatan halus, yang disebut “maya” itu, suatu keharusan yang lahir dari keheningan jiwa insan-insan pelaku dharma itu sendiri. Di dunialah tempat semua insan itu berproses. Berproses melayani hawa napsu yang menjerumuskan atau berproses melayani kebajikan dharma mencapai kebebasan. Semua itu ada di dalam diri sendiri dan berinteraksi dinamis di ranah sosial. Dualitas inilah pilihan, tetapi pengetahuan suci mengajarkan berjalan di jalan dharma itu sendiri. Mengenal dan menjalankan karma yang sesungguhnya, menuju hidup bermartabat yang berdaya guna.
Terjebaknya kesadaran diri, di jaman Kaliyuga ini, menciptakan disharmoni dan disvalue. Merenggangkan dua kutub yang semakin lebar. Dimensi ekspresinya, para pemimpin besar, cerdas, dan kuat, terlalu asik dan sibuk berdebat saling menyalahkan, lalu mengkondisikan pendukung menguatkan apa yang dianggap benar, lalu berperang ingin menindas yang lainnya. Pemimpin agama yang seharusnya hadir mengkondisikan insan-insan menciptakan selaras harmoni kemanusiaan, justru lebih sibuk mengukuhkan keunggulan diri, mendogma, merendahkan insan lainnya. Lalu berubah menjadi alat politik kekuasaan, hingga menjadi penjajahan spiritual. Perdebatan kecerdasan teks yang tak dijiwai kesucian hati nurani menjadikan hiruk pikuk alur pikir, memburamkan esensi kemurniannya.
Karena esensi yang sesungguhnya tak tersentuh karma Jnana, karena disitu kebenaran dapat dirasakan. Akhirnya berkutat pada teks, dijiwai keangkuhan hapalan baca, luput prilaku karma, akhirnya menjadi perdebatan kebenaran yang emosional tak pernah padam. Akibatnya melupakan tanggung jawabnya mengayomi rakyatnya. Rakyat dianggap loyal, ketika siap mendukung keinginan. Lalu diangkat menjadi “ahli”, membebani uang rakyat. Kemampuan unggulannya yang penting brani ngomong, entah apa yang diomongin. Akibatnya agar kelihatan pintar, yang pintar dan teruji harus dibuli dan direndahkan.
Salah dan benar bukan menjadi pertimbangan, yang penting menang. Lalu tantang menantang, mencapai tenar dipermukaan. Seperti itulah kemampuan yang “laku” sekarang. Akibat menjadi kemenangan yang menghancurkan. Karena Alam Semesta Raya penuh cinta kasih, pasti melindungi umat-Nya yang tersakiti.
Berkenaan dengan dinamika itu, maka memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi, untuk memahami dan memaknai realitas, agar tak terperosok jauh ke dalam kegelapan dunia ini. Maka dari itu, kesadaran mendekat dan menguatkan keyakinan memuja dan memuliakan-Nya adalah jalan yang berpengetahuan atas tuntunan-Nya, sebagai Sat dan Sad Guru. Memperoleh tuntunan-Nya adalah berkat yang mengantarkan jiwa untuk mencapai pencerahan. Menjadi “hidup” berkesadaran “hidup”. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments