March 14, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“SENI REFLEKSI KESADARAN ESTETIK DAN KESADARAN SPIRITUAL”

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis, 26 Pebruari 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni adalah proses penjelajahan dan ekspresi yang tiada henti, berganti aktor dalam setiap waktu. Menempatkan identitasnya dalam catatan perjalanan sang waktu yang mensejarah. Itu artinya seni bergerak dalam ruang keabadian. Mengakibatkan seni berada dalam sifat keabadian itu sendiri. Karena seni hadir dalam setiap waktu yang digerakkan oleh kreatifitas manusia, hadir mengindrawi dengan daya tariknya masing-masing.  Lalu dicintai oleh orang banyak. Mampu berdialog menembus lintas budaya.

Seni hadir membangkitkan gerak emosional menjalar memasuki, meresapi ruang tak terbatas, berinterfenetrasi dengan angan-angan di dalam diri, berproses menemukan jawaban indrawi yang bernalar imajinatif di ruang kreatif. Perlahan menempati kesadaran estetik lalu menjelajah memasuki, meresapi rasa lalu menempati kesadaran diri insan-insan duniawi. Dalam posisi ini, seni sebagai sifat dan energi penghalusan rasa, napsu dan ego sebagai proses, mengantarkan kualitas renungan, untuk mencapai penyatuan dalam hening (yoga). Mencapai rasa indah dalam keheningan semesta, yang amat membahagiakan. Saat itu seni telah mengangkat dan membebaskan ikatan emosional nan indrawi memasuki esensi kesemestaan, yang santhi dan welas asih.

Kesadaran diri yang mewilayahi kesadaran kreatif, membuka ruang menjadikan wahana ilmu pengetahuan lain, sekaligus menempatkannya menjadi taman indah  mengagumkan. Di taman itu pula tersaji paduan penyelarasan berbagai unsur ilmu pengetahuan, yang “mengajak” dan “memberi” kepada seni dan memperindah semesta. Demikian pula sebaliknya seni yang memberi kepada pengetahuan lainnya, hingga seni ditempatkan sebagai kemurnian dirinya sendiri dan memasuki pengetahuan lainnya. Dalam upaya mentransformasi kegunaan maupun daya tarik wujud-wujud substansialnya.

Akibat dari semua itu seni mengindrawikan narasi  pengetahuan keindahan yang ada dalam diri setiap insan. Dari sifat yang abstrak tak nyata, agar menjadi realitas yang terindrawi hingga lebih mudah dipahami. Peran besar seni ini, menempatkan diri amat dekat dengan persoalan nilai-nilai religius keagamaan dan nilai-nilai spiritual. Wujud seni bagaikan lembaran mata uang melibatkan atara pengalaman estetis dan pengalaman spiritual. Keduanya adalah satuan esensi, tetapi menimbulkan reaksi di ruang persepsi pengetahuan yang berbeda. Kedua unsur saling melengkapi dan menyempurnakan. Nilai-nilai estetik seni menyegarkan suasana hati nurani, disempurnakan oleh nilai-nilai spiritual,  membawa pada sumber kita semua yaitu Sang Pencipta Agung (Kalyana Sundharam) sebagai pemberi dan penyempurna segalanya. Saat itulah kesadaran estetik menjadi kesadaran spiritual yang “menyatu” dalam “penyempurnaan”.

Seni memperindah simbol-simbol ketuhanan,  sebagai obyek-obyek puja, ritual dan segala piranti termasuk rias diri indah dan cantik para pemuja-Nya. Semua itu menjadi seni spiritual, berubah dan berkembang, mensejarah dalam kehidupan. Menjadi budaya sarat nilai dan makna. Melalui upaya penyimbolan itu, seniman pekerja seni terkondisi proses pendakian keimanan yang sungguh. Membedah gunung untuk dijadikan kuil dan candi yang menakjubkan. Menyusun batu-batu besar ratusan tahun dijadikan piramid dan candi-candi besar. Mengukir batu-batu besar dijadikan arca puja yang luar biasa, menjadi artefak seni religius yang mengagumkan.

Dibalik itu semua datang asura-asura penghancur peradaban seni budaya, berdalih keyakinan tertentu. Itu artinya asura yang tak memahami kompleksitas keutuhan jiwa-jiwa universalnya, akibatnya mudah  terdogmatisasi hingga menjadi panatisme berlebihan. Seni yang bersifat harmoni dan cinta kasih sirna dalam dirinya. Akibatnya lahir jiwa-jiwa keras radikal, menciptakan perang yang tiada henti. Seperti itulah hukum energi dualitas, selalu hadir bergerak dinamis, selalu ingin menguasai, amat sulit menyelaras menciptakan kedamaian. Akibatnya selalu merasa terganggu dengan orang lain, hingga sulit merasakan ketenangan dan damai.

Proses kerja seni keimanan itu, menempatkan pembangunan tempat suci Candi, Kuil hingga puluhan tahun, bahkan ada yang dikerjakan ratusan tahun. Ketika itulah proses kerja mencapai “penyatuan”  berjiwai keyakinan yang sungguh (Karma Yoga). Keunggulan proses kerja itu, kini telah berubah akibat menurunnya keyakinan masuk ke dunia suntuk material penuh ambisi. Merusak alam, merusak diri sendiri, merusak orang lain dianggap kebenaran. Menciptakan budaya caci maki di ruang publik tak ada rasa malu. Itu artinya kebekuan rasa estetik dan kebekuan kesadaran spiritual semakin membeku, hingga kecerdasan yang dikuasai ego semakin bergerak liar. Dinamika kecerdasan ini, sedang bergelora meresahkan rakyat dan menyibukkan pemerintah. Berkenaan dengan dinamika itu, betapa pentingnya menguatkan kesadaran estetik yang dijiwai kesadaran spiritual, menciptakan rasa damai santhi dan welas asih. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!