September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“JIWA-JIWA YANG BANGKIT MENGENAL KEWAJIBAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin, 18 Mei 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Jiwa-jiwa yang sedang bangkit bergairah, bergelora untuk menemukan “obyek cinta kasih” untuk berlabuh sebagai “pujaan, memuliakan dan penyatuan”. Dambaan itu merupakan kesadaran yang bergerak, menggerakkan langkah, dengan segala konskwensinya. Semua itu disebut “pengorbanan” tulus ikhlas yang beragam wujud. Demikian pula air menciptakan sungai untuk berjalan menuju samudra luas, Ibunya sendiri. Sambil melayani makhluk yang tersentuh di ruang pergerakan itu. Air terus bergerak menuju sumbernya, sepanjang jaman. Demikian pula insan-insan duniawi yang terpanggil disadarkan bergerak mencari Ibu dan Bapak Semesta Ilahi, yang melahirkan semuanya. Demikianlah pengetahuan suci diturunkan, untuk mencapai kebenaran hakiki itu.

Pergerakan untuk mencapai kebenaran itu merupakan hukum Ilahi penyempurna hidup, merefleksi menjadi kewajiban utama, yang patut diutamakan. Dibalik semua itu persoalan besar nan kontras terjadi dan terus juga berkembang, hingga menciptakan jaman Kaliyuga. Menumbuhkan kesadaran prilaku yang terus bergerak kepada “kebenaran” itu, melalui pengetahuan material dan spiritual, merupakan hakekat hidup yang sesungguhnya. Dalam pengetahuan suci weda disebut filsafat tindakan. Menyatukan pikiran, perkataan dan prilaku menjadi satuan konfigurasi semua unsur jiwa dan raga bergerak terus menyempurnakan diri. Itu artinya hidup bergerak naik menghening mencapai “hening”, menyelaras dengan hukum Sang Waktu, yang menjadi “usia jaman”.

Tindakan yang berpengetahuan itulah tindakan yang tertuntun di dalam diri setiap orang, yang merefleksi menyentuh menembus situasi di ruang sosial dan misteri alam semesta dalam arti luas. Sadar mengkondisikan kebenaran ini, menjadi keyakinan yang kuat pikiran dan rasa yang cerdas, serta jasmani yang sehat dan kuat, menjadi senjata yang tajam dan sakti menembus segala rintangan. Saat itulah pengalaman merasakan sesuatu atas proses itu, menjadi pengetahuan yang amat mempribadi, yang pada saatnya bisa memberi kepada insan lain yang memerlukan.

Melalui tindakan itu proses aktualisasi diri menguatkan keimanan, merasakan kebenaran transformatif yang membahagiakan. Karena sudah saatnya memberi kepada insan yang telah siap menerima. Saat itu kebenaran berproses, perlahan membuka menembus ruang gelap di luar diri, yang disebut “pelayanan”. Kemudian energi suci semakin membesar, perlahan menundukkan kesenangan, napsu, dan ego, berubah menjadi energi semangat berguna  membangun diri sendiri dan memberi kepada yang membutuhkan. Saat itulah tujuan hidup sesungguhnya berjalan terus menyempurna, “sabar” dan “desiplin” menghadapi tantangan.

Kebenaran ini refleksi dari pengalaman, menjadi konstruksi teks yang mengingatkan sekaligus mengantarkan jalan penguat, membebaskan keragu-raguan. Bagi insan-insan yang terkondisi kesadaran atas panggilan jiwanya masing-masing. Walaupun bagi kebanyakan orang terkadang amat sulit memahami nilai-nilai kebenaran yang bergerak itu. Oleh karena itulah “guru” dan “kesadaran belajar” sungguh amat diperlukan. Bukan edukasi pahat, bila digetok baru menggigit, membiarkan sikap apatis, acuh tak acuh terhadap ajakan situasi yang mengantarkan ke jalan perbaikan.

Tetapi  itulah realitas tanpa kesadaran, menjadi  bayang-bayang yang tak tentu arah, berjalan bagaikan mimpi-mimpi di tengah-tengah realitas duniawi yang penuh kompetisi. Bergerak tanpa tuntunan pengetahuan suci kehidupan. Akibatnya selalu menjadi obyek jajahan spiritual bertopeng kebajikan. Akibatnya kesadaran diri selalu terkubur bungkam seribu bahasa. Karena sengaja “dibiarkan” menjadi “pembiaran dogmatik” untuk dikuasai, lalu tak sadar “membiarkan” diri tunduk pada kekuasaan itu, hingga menjadi lahan kekuasaan “spirit-spiritan” sumringah meriah di kulit, kosong prilaku kebajikan.

Seperti itulah kegelapan yang menggelapkan, yang sedang menggelora di jaman Kaliyuga ini. Dibalik kebangkitan kebajikan dharma yang sedang tersembunyi menerobos di ruang sunyi. Mengapa disebut tersebunyi karena sedang berproses di dalam diri insan-insan yang terpanggil dan siap melaksanakan kewajibannya di “ruang sunyi”. Artinya bebas validasi dari rekaman media di ranah sosial yang  sedang diuji kebenarannya.

Barangkali seperti itu, kerja kebenaran dharma di bumi. Bagaikan kisah Sri Rama pergi ke hutan, mengalah atas asutan asura yang berwujud Mantara, menagih janji kepada Raja agar Barata menjadi raja. Saat itu kesadaran berkorban demi kesetiaan kepada ayah (raja) agar tak berdosa karena perjanjian itu. Dalam perjalanan selama di dalam hutan proses kerja penyempurnaan diri, dan kuasa pembebasan, dan sahabat pendukung dharma terwujud, melalui Kuasa Semesta, hingga mampu menumpas Rahwana. Seorang raja asura yang amat sakti menguasai tiga dunia,  dunia jasmani, dunia rohani dan dunia kesucian Ilahi. Menciptakan kehancuran yang maha dahsyat tak terampuni, akhirnya disirnakan dari bumi.

Berkenaan dengan realitas dan narasi Itihasa itu, jiwa-jiwa itu dibangkitkan dan dijadikan melalui edukasi panjang untuk mengenal kewajiban lalu menjadi misi hidup yang dijalankan dengan penuh semangat dan tulus ikhlas. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!