
“AURA KASIH”
“Mengenal Potensi Membangun Kesadaran Diri”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 11 Juni 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Potensi diri merupakan bekal hidup sejak lahir, yang disebut talenta atau bakat. Talenta itu memiliki dua sifat, yaitu: bersifat jasmani yang lebih memposisikan kemampuan personal insan-insan ke arah pengetahuan yang merefleksikan mensejahterakan di dunia material. Selanjutnya talenta yang bersifat rohani, yaitu berkemampuan khusus, mengarahkan personal kepada edukasi penyempurnaan diri secara rohani. Kedua sifat itu bergerak dan berkembang saling memberi dan saling menguatkan. Penguatan itu merupakan edukasi mendasar di dunia material, lalu perlahan menyempurnakan diri, secara rohani.
Semua itu secara esensial, sesuai ajaran Agama Hindu merupakan bekal hidup, sebagai “Karma Wasana” yang mesti diterima, dijalankan dan disempurnakan. Semua itu tak bisa berkembang dengan sendirinya, tetapi berproses panjang, melalui edukasi yang intensif, untuk mencapai kematangannya, hingga bervibrasi luas. Dalam bahasa Bali disebut ber-“taksu”. Kematangan di dunia material didewasakan oleh edukasi yang bersifat pengetahuan, dan teknis menyangkut ruang praksis berpiranti dan berteknologi hingga mampu berpasaran luas. Artinya potensi itu menjadi kemampuan jasmani dan rohani yang ditandai kemampuan olah pikir logis di dunia material. Selanjutkan dikuatkan oleh kecekatan praksis, managemen dan promosi pendukung kekuatan kreatif, agar bisa menggema di dunia material.
Tumbuh dan berkembangnya potensi ini, didorong kuat dari dalam diri sendiri, hingga gerak insan yang bersangkutan siap menjelajah dan mencari terus ruang berkiprahnya. Misalnya talenta seni, subyek bersangkutan merasa tertarik dan bergerak ke arah pendewasaan talenta itu. Semuanya itu tentu perlu mendapatkan dukungan terutama orang terdekat yaitu orang tua dan keluarga dekat lainnya. Apabila dorongan itu diarahkan ke obyek yang lain, karena suatu hal bahwa talenta tertentu itu kurang keren atau dipandang tak menjanjikan secara material. Maka talenta itu dikondisikan ke bidang lain.
Akhirnya terjadi dualisme yang bergerak di dalam subyek bersangkutan. Di satu sisi kecerdasan di dunia material yang menjadi harapan. Dan pada sisi yang lain ada gerak talenta yang membutuhkan ruang gerak. Tak jarang subyek bersangkutan lari dari situasi eksternalnya menuju gerak talentanya sendiri. Pada akhirnya harapan hidup di dunia material juga terjawab dan juga bisa memberi. Seni tak bisa memberi material kepada masyarakat, tetapi memberi rasa indah yang mendamaikan jiwa-jiwa yang menikmati. Saat itulah energi material mengalir dengan sendirinya.
Tetapi ada juga penganut isme kemunafikan yang memandang seni adalah “penyesatan”. Nusantara memiliki keunggulan seni budaya adiluhung, memberi daya hidup bermartabat, patut disadari, dijaga, dilestarikan, dikembangkan yang memberi kepada dunia. Bukan hanya estetika tetapi juga nilai kesyahduan estetik nan religiusitas yang mengedukasi. Barangkali inilah perlu penyadaran yang bijak, tentang dinamika dualitas kehidupan yang selalu hadir bersama-sama ditengah masyarakat dunia.
Pada sisi yang lain ada pula “potensi kejiwaan tertentu”, sebagai talenta yang bersifat rohani bangkit pada saatnya, bergerak amat rahasia dalam diri insan-insan tertentu. Insan-insan yang bertalenta rohani ini disebut insan “berkemampuan khusus” (inner power) dalam pemahaman di Bali disebut “Melik”. Banyak insan-insan yang memiliki kemampuan khusus itu, lalu mengalami sesuatu yang tak dialami insan lainnya. Reaksi prilaku insan berkemampuan khusus itu, mengekspresikan berbagai karakter dan persoalan hidup yang terkadang membingungkan. Ada yang hancur segala usaha perekonomiannya. Dibelit hutang. Ada yang ditimpa ragam penyakit-penyakit aneh yang menyusahkan, ada kekacauan keluarga, susah mencari pekerjaan, susah mendapat jodoh, dibenci banyak orang, kebingungan dan lain sebagainya. Realitas serupa yang membingungkan itu, menggerakkan insan-insan untuk menemukan jalan keluar mengatasi persoalan itu. Ragam masalah ini dalam pemahaman psikologis spirit disebut dinolkan (0) oleh “kekuatan rahasia” itu sendiri.
Realitas ini hadir rahasia, bergerak sebagai energi “penghancur sementara”, yang terjadi di luar nalar. Dinamika ini amat sulit untuk dipahami, karena bergerak di ruang sunyi. Akibat dari semua itu, lahirlah ragam persepsi yang memandang, sebagai pengaruh kekuatan mistik jadi-jadian, ada pula memandang sebagai misteri alam yang tak terkondisi, ada yang pula memandang sebagai hukum karma yang amat sulit juga dipahami dan cara menyelesaikan. Ada pula yang suntuk melamun dengan bayang-bayangnya lalu “menyerah” dianggap “pasrah” dan lain sebagainya. Gerak reaksi dinamika itu, seringkali membingungkan, bahkan membuntukan. Akibatnya amat sulit memperoleh atau menemukan jawaban yang jelas.
Akibat dari semua itu, ada pula yang menggunakan cara-cara yang tak normatif, tipu daya lalu menciptakan dosa baru yang terus menyusahkan. Akibatnya terperosok dan semakin kelam memasuki neraka duniawi. Adapula yang bersyukur menemukan orang bijak yang menuntun, hingga misteri buram itu, perlahan “dicerahkan”, lalu diarahkan pada jalan “pencerahan”. Saat itu kesadaran diri perlahan berkembang semakin kuat, merasakan proses demi proses hingga merasakan “kebahagiaan”. Perubahan pola hidup berubah menjadi lebih baik, lalu bervibrasi kepada yang lain tanpa disadari. Saat itulah insan-insan yang “bermasalah” seperti tersebut datang juga dengan sendirinya, ingin memperoleh kejernihan dan ketenangan rohani. Saat itulah insan-insan memahami, sebagai panggilan hati nurani untuk memperbaiki diri yang disebut penyempurnaan rohani mencapai “pembebasan”.
Nampaknya seperti itulah wujud nyata “penebusan” hutang karma tersembunyi yang membungkus jiwa atau atman. Kemana arah penebusan itu, tentu sadar tak sadar melalui orang-orang terdekat dan juga ditimpa kejadian-kejadian alam yang tak dapat dihindari. Barangkali realitas gerak energi semesta pralina ini, menyucikan jiwa-jiwa dari kesuntukan di dunia material yang mengelgelapkan, hingga perlahan berpancaran. Wujudnya adalah “kesadaran diri” yang menyadari hidup dan berkarma sebagai “penyempurnaan” mencapai “pembebasan”. Kemudian berkembang mencapai kecerdasan spiritual yang mendewasakan rohani merefleksikan prilaku arif dan bijaksana.
Demikian sebaliknya, bisa saja gugur dan menghancurkan karena berjiwa asura “pemalas” membiarkan jiwa membeku dalam kegelapan. Persoalan yang dihadapi banyak insan-insan duniawi adalah, belum mengetahui dan belum memahami gerak potensi diri itu, akibatnya menjadi hidup ngambang lalu bergerak ikut-ikutan menjadi pengikut dan ikut-ikutan. Walaupun juga perlahan juga bisa teredukasi kesadaran itu sendiri. Seperti itu realitas “kasih” yang mesti diperjuangkan oleh insan-insan duniawi, sebagai upaya sadar dan reflektif terus tiada henti sepanjang hayat, mengenal dan memperjuangkan Potensi diri.
Berkenaan dengan itu membangun potensi diri merupakan wujud sadar diri, sebagai kelanjutan karma masa lalu, diperkuat dan disempurnakan saat kehidupan ini. Saat itulah ajaran reinkarnasi dapat disadari kebenarannya, melalui Karma Wasana, lalu disempurnakan saat ini untuk mencapai kebebasan. Menjadi kesadaran berlanjut dari masa lalu, masa kini dan harapan masa depan yang bebas dari segala dosa. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments