
Mulut; Panca Indra yang Paling Berbahaya: Maka Jaga dan Kendalikanlah Sebaik Mungkin
SASULUH URIP (Cahaya Kehidupan)
Tubuh manusia bukan sekadar kumpulan daging dan tulang. Di dalamnya terdapat pintu-pintu kehidupan yang menghubungkan dunia luar dengan batin manusia. Setiap pintu memiliki fungsi, makna, sekaligus tanggung jawab. Mata bukan hanya untuk melihat, telinga bukan sekadar untuk mendengar, dan mulut tidak hanya digunakan untuk berbicara. Semua Panca Indra dapat menjadi jalan menuju kebijaksanaan, tetapi juga dapat menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan apabila tidak dijaga dengan baik. Di antara Panca Indra itu Mulut-lah yang paling berbahaya, bagai pedang bermata dua, maka Jaga dan Kendalikanlah dengan baik.
Telinga: Pintu Ilmu
Dua telinga adalah pintu masuk pengetahuan. Melalui telinga, manusia dapat mendengar nasihat para bijaksana, petunjuk kebenaran, dan ajaran yang membawa kedamaian. Namun, telinga juga dapat menjadi jalan masuk bagi kebohongan, fitnah, dan hasutan.
Apa yang terus-menerus kita dengarkan perlahan akan membentuk cara berpikir dan karakter. Jika telinga lebih sering menerima kebenaran, hati akan semakin mencintai kebenaran. Sebaliknya, bila telinga dibiarkan akrab dengan kebohongan, lambat laun kebohongan akan terasa sebagai sesuatu yang biasa.
Hidung: Penjaga Kehidupan
Dua lubang hidung mengingatkan manusia akan anugerah terbesar, yakni napas kehidupan. Setiap tarikan dan embusan napas adalah tanda kasih Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Napas bukan milik manusia. Kita hanya meminjamnya selama masih diberi kesempatan hidup. Karena itu, tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Setiap saat Sang Pencipta dapat mengambil kembali napas yang dipinjamkan-Nya.
Mulut: Pintu yang Paling Sibuk dan Paling Berbahaya
Di antara seluruh Panca Indra…, mulut adalah pintu yang paling sibuk sekaligus paling berbahaya. Dari mulut lahir doa yang naik ke hadapan Tuhan, tetapi dari mulut pula dapat keluar fitnah yang menghancurkan kehidupan seseorang.
Mulut dapat mengantarkan seseorang memperoleh kehormatan, kepercayaan, bahkan rezeki. Namun, mulut juga dapat menjadi sumber permusuhan, dosa, dan penyesalan. Satu kalimat yang lembut mampu menenangkan hati yang gelisah. Sebaliknya, satu ucapan yang kasar dapat melukai hati lebih tajam daripada sebilah pisau.
Mulut hampir tidak pernah beristirahat. Ia digunakan untuk makan, minum, berbicara, tertawa, menghibur, memohon, dan berdoa. Namun, melalui mulut pula seseorang dapat memaki, menghina, memfitnah, menyebarkan kebencian, bahkan memecah belah persaudaraan. Karena itu, mulut adalah pintu kehidupan yang paling penting untuk selalu dijaga dan dikendalikan.
Ucapan adalah Cermin Hati
Mata hanya melihat. Telinga hanya mendengar. Namun, mulut mengucapkan apa yang tersimpan dalam pikiran dan hati. Ketika kata-kata telah terucap, tidak ada seorang pun yang mampu menariknya kembali. Banyak persahabatan berakhir karena satu kalimat. Banyak keluarga retak karena satu ucapan. Tidak sedikit orang yang membangun nama baik selama puluhan tahun, tetapi kehilangan kehormatannya hanya karena satu perkataan yang keliru.
Cara seseorang berbicara juga sering menentukan bagaimana orang lain memperlakukannya. Ucapan yang jujur, santun, dan penuh hormat akan membuka banyak pintu kebaikan. Sebaliknya, perkataan yang kasar, angkuh, dan menyakitkan dapat menutup banyak kesempatan yang sebenarnya terbuka.
Jagalah Lisan, Jagalah Kehidupan
Makan memang kebutuhan, berbicara pun adalah anugerah. Namun, jangan jadikan mulut sebagai tempat bersemayam hawa nafsu. Jangan jadikan lidah sebagai alat untuk merendahkan atau melukai sesama. Mulut ibarat pedang bermata dua. Ia dapat menjaga kehormatan, tetapi juga dapat melukai diri sendiri. Jika menginginkan hidup yang damai, penuh berkah, dan dihormati, mulailah dengan menjaga setiap kata yang keluar dari mulut. Sebab ucapan adalah cerminan isi hati, dan sering kali manusia lebih dikenang karena lisannya daripada karena penampilannya.
SALAM NGOLAH PIKIR – NGOLAH UCAP – NGOLAH RASA – NGOLAH LAKU. SADAR DIRI – TAHU DIRI – TAHU BATAS. *** CMN=Andi.









Facebook Comments