
“AURA KASIH”
“Kebenaran Dharma Bekerja Di Ruang Tersembunyi”
Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu. : 18 Juli 2026)).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Saat respon gelombang bayang-bayang spirit yang menyentuh hati nurani, membangkitkan, lalu menggelora “mencari jawaban”. Keraguanpun hadir menyeruak, ingin mengaburkan keyakinan itu. Lalu membuat hati nurani gundah gelisah menemukan jawaban. Semakin diragukan semakin menggelisahkan. Lalu kembali kepada keyakinan menemukan jawaban di ruang sunyi, samar-samar bercahaya. Saat itu keraguan yang terkadang logis, menggoda keyakinan. Ketika pergolakan itu memenangkan keyakinan, maka pintu menuju jalan kebenaran terbuka dan “pengorbanan” untuk mencapai kebenaran itu terjadi, terarah mencapai guna dan tersucikan oleh kemuliaan tujuan. Demikian sebaliknya bila dibiarkan tak terlaksana, maka kekuatan bayang-bayang itu hanya menjadi catatan yang menggoda dan mengganggu saat kesunyian hati nurani. Bisa saja tumbuh bermacam-macam alasan pembenaran sekedar membungkan, mengubur tetapi tak pernah bisa dikubur. Keadaan ini menempatkan kemalasan sebagai pembenaran, yang diperkuat oleh logika material. Seperti itu catatan jiwa membutuhkan “karma” yang “mencerahkan”.
Ketika itu terlaksana, kebenaran mulai berkembang bersama keyakinan. Selanjutnya berupaya mengikhlaskan material dan langkah hingga keyakinan menguat, lalu kesadaran mengikuti dan semakin terbuka serta mempolakan rencana hingga menetapkan langkah. Seperti itu prekuensi gelombang rohani bekerja, untuk menajamkan keyakinan, menyelaras menemukan obyeknya di alam semesta maupun di masyarakat luas, di dalam diri setiap insan hingga benar-benar menjadi pengalaman yang membahagiakan.
Bagi insan-insan yang tersentuh “gelombang” rohani itu, berupaya terus mencari untuk menemukan kebenaran tersembunyi di ruang sunyi. Berupaya belajar menteladani putaran Sang Waktu, perjalanan Para Suci Leluhur, sadar dalam keterbatasan. Sebagai upaya memaknai, melebur larut dalam edukasi Karma Jnana penyempurna kehidupan di bumi. Karena di bumilah tempat kebenaran itu berproses. Dalam dirilah (jagat alit) tempat semua itu dirasakan bergerak, yang paling dekat dan terasa kebenarannya atau sebaliknya. Tetapi kebenaran itu “sunyi”, sering kali abstrak, dan semakin abstrak, karena tak dipedulikan dan terabaikan menjadi ketidaksadaran diri yang semakin kelam. Realitas itu terjadi, ketika jiwa tak tersentuh edukasi, lalu tenggelam tenggelam tak sadar diri.
Ketika itu keraguan semakin kuat, mesti ditembus “niat suci” yang diyakini bahwa “pasti ada sesuatu disitu”. Keyakinan menjawab “Dia”-lah yang tersembunyi di ruang sunyi itu, “menarik” dan “menyentuh”, bekerja sesuai hukumnya. Saat itu gaya tarik energi sesuatu itu semakin menguat, lalu siap menguatkan dan menetapkan keyakinan menjadi rencana prilaku. Ketika itu gaya tarik subyek dengan obyek sesuatu itu, semakin menggema menarik-narik langkah dan jiwa untuk “menyentuhnya”. Saat itu perlu dukungan material dan moral menemukan “esensi” dari sesuatu itu, yang disebut menggali kebenaran tersembunyi. Para suci menyebutnya mutiara-mutiara terpendam dan tersembunyi. Dalam dunia material menemukan realitas harapan ini disebut “energi terbarukan”. Sesuatu yang tersembunyi itulah yang dicari, lalu dilaksanakan untuk menemukan kebenaran obyek, bertranformasi sesuai tujuan kehidupan jasmani dan rohani. Semuanya itu dilandasi keyakinan penuh keikhlasan.
Saat itulah gelombang berubah menjadi energi yang bergerak menyentuh panca indra dan terindrawi meresap seluruh raga. Lalu dirasakan menggetarkan menyentuh jiwa, mengakibatkan rasa haru membahagiakan, hingga air mata menetes mengalir membasahi. Bahkan bisa disertai tangisan haru histeris yang tak tertahankan. Saat itu paduan cinta kasih terjadi dengan sendirinya, antara subyek dengan obyek “mencapai penyatuan”. Gerak pikiran saat itu terkadang luput memahami, karena ada di gelombang rasa halus hingga pengalaman itu “tak bisa dimengerti”. Ketika itu orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang aneh, lalu berseloroh bahkan dengan logika akal pikir. Melontarkan pendapat membuli bahkan menghinanya, karena tak mengalami, karena kebenaran yang dipahami sebatas membaca dan mendengar lalu menyimpulkan “tentang kebenaran”. Artinya pengetahuan “tentang kebenaran” , bukan kebenaran yang dialami sebagai proses berkarma. Akibatnya seringkali menghakimi kebenaran orang sesuai pengalaman membaca, melalui “teori-teori tentang kebenaran” entah siapa yang menemukan. Kapan ditemukan, situasi jamannya seperti apa. Tentu patut menjadi kajian tersendiri, diantara esensi dan refleksi varian budayanya.
Seringkali insan-insan yang merasakan pengalaman itu, tak mengerti lalu bertanya-tanya, tetapi belum ada jawaban. Jawaban itu datang setelah pikiran sesaat tertunduk rasa hening suci, lalu lebur menyatu di dalamnya. Saat itu jawaban pengalaman itu hadir sebagai “pemahaman” lalu berekspresi oh…oh…oh…itu ya. Dalam kitab suci disebut “Tat”, itu adalah “kebenaran yang dirasakan”, pancaran dari kebenaran yang dituju dan ditemukan menjadi pengalaman rasa yang mempribadi.
Saat itulah kebenaran pengalaman yang dirasakan dan itulah kebenaran rasa yang mempribadi, yang bisa disebut pengalaman spiritual (personal God). Sulit dibayangkan orang lain ketika tak dialami, dan belajar memahami. Ketika ingin untuk melontarkan dan mendiskusikan pengalaman itulah memerlukan “Guru” yang mengalami lalu mengarahkan kejalan yang benar menjadi tujuan hidup sejati.
Ketika salah arah dan tujuan, maka buntu dan sesatlah tujuan mencapai kebenaran-Nya. Ketika itulah ruang maya memanipulasi menjebak dan menggagalkan. Karena itulah lintasan Maya yang mesti dilewati. Artinya menembus keragu-raguan yang digambarkan sebagai “titi ogal-agil” dalam Purana dan Itihasa. Persoalan besar nan halus inilah sulit dibayangkan ketika insan-insan dunia belajar kerohanian tanpa guru. Artinya tanpa Guru Sat dan Guru Sad yang “berwenang”. Berwenang bukan sebatas ritual, tetapi kewenangan dari Kuasa-Nya yang mengalir tersembunyi, sulit dipahami bagi kebanyakan insan-insan terutama di jaman Kaliyuga ini. Kebenaran itu diyakini dipahami sebagai anugrah Ilahi, meresapi jiwa insan-insan yang dihendaki.
Anugrah inilah tersembunyi (nyineb wangsa-bahasa Bali) dalam diri insan-insan yang dihendaki, yang disebut hadirnya jiwa-jiwa besar sebagai pengayom. Segala bentuk perbuatannya diberkati energi suci kebenaran, sinar suci pengetahuan dan kekuatan alam semesta raya, hingga segala yang dikerjakan mencapai kesuksesan. Akibat kesuksesan itu, mengakibatkan para asura selalu terusik, lalu terus membuli, menghina, dan meniadakannya. Tetapi tetap tenang menghadapi semua tantangan, karena yakin dilindungi kekuatan semesta raya. Justru melalui anugrah perlindungan semesta itu, gempuran asura itu mesti ditembus untuk mencapai kemenangan yang damai, santhi dan welas asih. Hingga benar-benar mampu merefleksikan anugrah Keilahian yang penuh kasih itu sendiri.
Bahwa “Dia” mengajarkan kebenaran sejati (Dewa Rena). Karena yang diperjuangkan mengutamakan kesejahteraan masyarakat luas. Bukan suntuk menjelaskan teori, lalu nyungsang, menghancurkan tatanan kebhinekaan. Kebenaran ini amat sulit dipahami, karena kebanyakan insan-insan telah dipenuhi ilmu pengetahuan logika dan kekuatan yang dijiwai napsu material berkekuatan asura. Kebenaran tersembunyi inilah ditentang bahkan ingin dimusnahkan, karena mengganggu gerak kekuasaan para asura rakus. Dinamika realitas itu, kini sedang bergelora, hingga keadilan amat mahal.
Sudah semestinya insan-insan menyadari perjuangan bersama menghadirkan “kebenaran yang memurnikan kesadaran” itu sendiri. Membangun peradaban kemuliaan manusia, sadar pada dirinya sendiri, memberi kepada negara dan bangsanya. Ketika itulah “Ibu Semesta” dimuliakan melalui karma yang berpengetahuan suci, menjadikan sadar terhadap sumber yang memberi dan melayani seluruh kehidupan. Kebenaran yang benar-benar realistis itu, dikaburkan oleh pengetahuan egoistik mementingkan diri sendiri, lalu semakin kabur yang menciptakan kegelapan tujuan hidup sejati. Itu artinya “kebenaran sejati” hadir tersembunyi berkekuatan Ilahi memanggil, menjadikan, membebaskan segala bentuk kegelapan untuk mencapai “kemenangan”, yang membebaskan. Itulah proses kehidupan yang menyempurna dalam “kebenaran tersembunyi”.*** CMN. Semoga Menjadi Renungan, Rahayu.









Facebook Comments