September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“BANGKIT BERSAMA MENJALANKAN DHARMA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 24 Juli 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Tak mudah menjalankan dharma, ditengah-tengah kebisingan dan hiruk pikuk hawa napsu yang mengabur gelapkan hati nurani. Ketika posisi keberadaan jiwa hati nurani, larut dalam gelombang situasi seperti itu, kebajikan dharma sulit dibayangkan, disentuh, apa lagi melaksanakannya. Gelora realitas itu, kini sedang menggulung menjadi misteri yang semakin menggelapkan. Itu artinya kekuatan energi dharma redup tak menyentuh mengaliri, hati nurani.  Karena tak tersedia wadahnya di dalam diri, hingga tak ada energi yang menguatkan di ruang sosial. Berkenaan dengan itu, mulai dari dalam diri sendiri, yang menempatkan kualitas kesadaran diri seseorang.

Ketika dilihat dari sudut pandang keseimbangan kosmologis, merupakan realitas kabur dan gelap itu, menjadi “sasaran” atau “musuh” dharma kebajikan, yang mesti dipralina, lebur untuk mencapai perubahan menuju kebajikan yang berguna. Oleh karena itu energi dan sifat-sifat dharma kebajikan itu, bergerak melalui proses edukasi panjang, dibangkitkan, disempurnakan, diberi dan diisi untuk dijadikan “Sidhi-sidhi sakara”, menjadi Guru Gamaya, yaitu dijadikan oleh “kuasa tangan suci Keilahian Guru Sejati”, hingga kebenaran terbuka dan meresapi.

Ketika kebenaran itu terjadi dan dirasakan bergerak dalam diri sendiri, maka pekerjaan  di dunia material dan spiritual berhasil baik membahagiakan. Lalu terus berkarma mengutamakan kebajikan dharma dalam tingkatan kualitasnya masing-masing. Saat itulah beban kehidupan terangkat semakin ikhlas dan ringan menghadapi masalah. Saat itulah proses pembebasan terjadi. Artinya beban berat hawa napsu kegelapan terkikis habis perlahan, hingga sifat-sifat dharma kebajikan semakin besar, jiwa semakin besar mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah besar dengan baik, benar dan bijaksana.

Dalam ritual digambarkan “menek daun Bingin” (bahasa Bali-mencontoh kerimbunan dan kebesaran daun beringin yang meneduhkan). Dalam Itihasa, Hanuman digambarkan mampu mengangkat Puncak Gunung untuk memperoleh obat daun Latta Mahausadi, guna menyembuhkan Laksamana. Saat bangkitnya jiwa-jiwa besar itulah insan-insan bergerak semangat bekarma mengabdi di jalan dharma. Karena yang dilihatnya adalah kewajiban yang menjadi misi hidupnya. Walaupun tak mudah mengenal kebenaran hidup seperti itu, di jaman sekarang ini.

Dalam proses edukasi pengisian dan penyempurnaan itu, menghadirkan persoalan besar, yang seringkali mengganggu keyakinan. Terperangkap logika sosial, yang nampak rasional dan benar. Karena setiap gerak proses mengandung resiko, yang terkadang sulit dibayangkan. Dampak dibalik semua itu terjadi kemalasan, kebosanan, keraguan, dan sejenisnya, lalu kabur menghilang masuk ke sona yang dianggapnya “nyaman”. Dikuatkan berbagai alasan pembenar. Lalu nyaman sesaat dalam pembenaran yang menghasilkan “kebingungan”.

Walaupun hati nurani yang seringkali berteriak agar didengar oleh pikiran, tetapi pikiran yang telah terkondisi keraguan terus membungkamnya, hingga hati nurani diam seribu bahasa dalam kebekuan yang “sulit dicairkan”. Tetapi apabila dibiarkan, saatnya masalah itu akan datang lagi, karena putaran waktu adalah bersubstansi pada putaran karma pahala baik dan buruk harus diterima, tak dapat dihindari oleh siapapun.

Ketika karma buruk yang diterima sebagai “penebusan” saat masih hidup terabaikan, maka akan selalu datang, sesuai putaran waktu, menjadi masalah yang semakin membesar. Lalu tanpa disadari, perlahan terbungkus gelap gulita lagi, seperti itulah kerja hukum semesta. Apabila rumah sehari saja tak dibersihkan, maka debu kotornya akan menumpuk, menempel lalu mengaburkan warna aslinya. Demikian pula kejernihan hati nurani akan mengabur terus, bila dibiarkan larut tertutup napsu indriya duniawi. Realitas itu pasti terjadi, demikian seterusnya.

Ketika sadar terhadap realitas kosmologis itu, berkarma baik adalah refleksi sifat-sifat dharma, dikuatkan tumbuh berkembang hingga bervibrasi. Bukan instan lalu merasa “menjadi”. Bisa saja merasa “menjadi cerdas”, larut dalam bayang-bayang ilusi imajinatif. Terbang tinggi tak menyentuh bumi, menjadi “keyakinan langit”. Ciri-ciri kebenaran ilusif itu, sekarang berkembang pesat bervalidasi. Menggetarkan sesaat lalu menghilang tak menyentuh kesadaran. Menciptakan keimanan kwatitatif berkarakter keras, kasar dan menekan, semakin menjauh dari tatanan etika dan tatasusila kesantunan publik. Akibatnya menjadi asura premanisme sibuk berkoar-koar tentang kebajikan, hanya mencari kesalahan demi popularitasnya.

Banyak orang-orang pintar, cerdas menyusun narasi dan berbicara “tentang kebenaran” entah kapan menyentuh kebenaran. Akibatnya amat tumpul ketika berhadapan dengan godaan hawa napsu. Lalu luluh lantak menjadi koruptor yang tak tahu malu. Lalu sibuk membenarkan dengan pembelaan mati-matian, lalu dianggap pahlawan kebenaran. Ketika belum menempati jabatan tertentu kritiknya luar biasa, hingga kabur antara kritik, bulian dan caci maki, berkedok kebebasan berpendapat berdalih demokrasi. Setelah mampu merebut kekuasaan korupsinya jauh lebih buruk dan lebih dahsyat, barangkali karena telah memperoleh pengalaman dari yang sebelumnya, sehingga menjadi koruptor yang lebih cerdas berteknologi super canggih, bertopeng ajaran agama.

Sangat pintar berkelit, menutupi dan menunggangi.  Aturan dan undang diganti untuk menguatkan semua itu. Bajunya diganti lalu sifat asuranya menjadi lebih rakus dan lebih bengis lagi. Undang-undang kekuatan pengetahuan pengisi otak saja, semua itu bisa dibaca dan didengar dimana-mana, melalui sajian teknologi canggih yang luar biasa. Kelihaian metodologis sajian audio visual, refleksi kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi melayani semua aspek kehidupan. Akibatnya hanya menjadi pengetahuan mengetahui, memerlukan ruang edukasi tersendiri agar sampai mampu mengubah dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Kepada dirinya sendiri lalu kepada orang lain yang mendengarkan.

Akibatnya menjadi insan konsumtif bahkan berubah menjadi robot-robot “berakte kelahiran”, dan “berkatepe”.  Sajian teori kebenaran kebajikan dan cara melaksanakan sudah luar biasa tersedia. Pada sisi yang lain sajian dan suguhan serta rayuan manis nikmat hawa napsu sungguh-sungguh menggoda. Bagaikan rayuan kecantikan Dewi Mohoni, saat menggoda Rsi Sukracarya untuk memperoleh Air Suci Amritham yang dipegangnya, agar bisa dibagikan kepada Para Dewa. Sesungguhnya Dewi Mohoni merupakan wujud Lila dari Yoga Mayanya Sri Krishna. Upaya mengoda Rsi Sukracarya itu berhasil dilakukan hingga para Dewata memperoleh keabadian.

Nilai positif dari rayuan gombal itu menyelamatkan dunia melalui penegakan kekuatan Ilahi Dewata. Tetapi saat ini kekuatan Dewata yang meresapi jiwa-jiwa para raja, benar-benar sedang terperosok godaan rayuan asura, lalu berubah menjadi raja-raja asura rakus. Menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri memelaratkan rakyat. Korupsi besar-besaran, merusak dan memperkosa alam tak habis-habisnya. Melindungi dan memperkuat diri melalui dukungan asura premanisme. Dipelihara, dilindungi, dibiayai, dimudahkan niat-niatnya hingga menjadi asura manja tak mengenal aturan dan rasa malu. Lalu berbicara kebenaran dan kesucian sesuai cara berpikirnya, sibuk senggal senggol, mengukuhkan keinginan yang dibenarkan, untuk kepentingan kekuasaan rajanya saja. Akibatnya mengerikan jiwa masyarakat, keberhasilan itu dianggap sebagai kemenangan.

Barangkali inilah yang disebut takdir jaman, sebagai edukasi dan upaya membangkitkan pengetahuan suci, bangunnya kesadaran untuk mengubah takdir yang menyengsarakan dan menyesatkan. Sadar dan bangkit berjuang menghadapi gemuruh hawa napsu dan kesesatan jalan berpikir dan berprilaku adalah jalan menuju kemuliaan yang mengubah dan melepaskan ikatan takdir yang amat kuat dan rahasia itu. Ketika kesungguhan perjuangan itu terjadi, maka merekalah menggerakkan perubahan jaman untuk mencapai kemenangan yang mendamaikan itu. Sadarkah kita sebagai insan yang konon paling sempurna diantara semua makhluk yang memiliki Tri Pramana yaitu Sabda, Bayu dan Idep untuk menyempurnakan diri?. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!