
AURA KASIH. “Seni Dipandang dan Memandang”
Oleh: I Ketut Murdana
Aneka wujud seni selalu hadir dihadapan kita dari zaman ke zaman. Keindahan dan “keunikan” wujudnya lalu meresapi rasa estetik, membangkitkan kesenangan, menggaerahkan semangat hidup, menyenangkan bahkan mampu menumbuhkan kebahagiaan. Kehadiran wujud seni itu bisa “dipandang” dengan berbagai cara pandang, agar mampu meresapi nilai-nilai yang tersaji; wujud indrawinya serta rangkaian nilai yang dinarasikan.
Proses perwujudan seni tidak terlepas dari keterlibatan subyek senimannya, maka realitas “kebenarannya” mesti pula “dipandang” sebagai kualitas personal, yang mengadopsi, meresapi nilai-nilai sosial kemasyarakat yang selalu berhubungan dengan spiritualitas dalam ruang-ruang kosmologisnya. Melihat realitas kebenaran penciptaan dan sajian nilai-nilau serta ruang-ruang kosmologis serapannya, maka seni dapat “dipandang” sebagai upaya “memandang” nilai-nilai subyektif personalitas, menjelajah memasuki nilai-nilai universal.
Nilai-nilai universal hakiki yang tersembunyi dalam setiap individu, menjadi gagasan vital, lalu terekspresi menjadi wujud karya yang indah menyentuh, menyadarkan kebenaran melalui rasa estetik serta jeunikan sajiannya.
Realitas kebenaran ini mengakibatkan pada sisi atau pihak lain “memandang” seni juga sebagai “wahana”, karena sajian estetik dan terobosannya memasuki nilai hakiki kehidupan semesta ini. Pada sisi yang lain maksudnya adalah bahwa selain estetik yang mengagumkan (ngelangenin), terkonfigurasi juga nilai-nilai “lain” yang dinarasikan, hingga keindahan menarasikan mengakibatkan orang-orang lebih mudah mengenal dan “memandang” nilai-nilai kehidupan yang amat abstrak itu. Akibatnya mampu berprilaku kebajikan dalam setiap langkah hidupnya.
Kebenaran ini menempatkan seni bisa “dipandang” sebagai upaya “penyadaran” terhadap realitas baru yang ilusif nan estetik. Semuanya itu mengantarkan kepekaan rasa estetik membuka sensitifias rasa syahdu nan halus terhadap alam semesta beserta segala isinya. Ketika kepekaan rasa ini bisa bervibrasi luas pada masyarakat, maka pemerkosaan terhadap alam semesta (Ibu Pertiwi kita sendiri), pasti terhindarkan.
“Memandang” dengan pandangan inilah lahir “seni lingkungan” yang telah dilakukan oleh para leluhur sejak dahulu kala, walaupun nama dan gerakan dilakukan sekarang oleh pecinta-pecinta lingkungan yang amat membanggakan.
Dengan demikian seni “dipandang” sebagai wujud rasa estetik yang membahagiakan, dan seni juga “memandang” realitas kebenaran universal menjadi perjuangan yang telah mensejarah. Oleh karena itu “ber-seni” adalah “ber-juang”, “ber-nilai” dan “ber-jaya”.
Semoga menjadi renungan dan refkeksi.









Facebook Comments