
“AURA KASIH”
“PERUBAHAN ADALAH SIFAT HAKIKI”.
Oleh: I Ketut Murdana
“Perubahan Menciptakan Keragaman dan Perbedaan”.
“Perbedaan Melahirkan Kesadaran Kepada Kebesaran-Nya”
“Kesadaran Kepada Kebesaran-Nya Menciptakan Rasa Indah dan Damai”. Tidak ada apapun yang tercipta di dunia ini tetap tanpa perubahan. Pertama “perubahan” itu ditentukan oleh Yang Maha Kuasa dengan sistem kerja yang amat halus, meliputi semua sistem kehidupan dan juga terkadang amat keras serta mengerikan. Itu artinya perubahan atas kehendak-Nya. Tidak ada satupun yang lahir di bumi tanpa kematian dalam batas waktu takdir-Nya sendiri.
Kedua ditentukan oleh manusia dengan kekuatan daya cipta dan perbuatannya, untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani maupun rohani atas anugrah Yang Maha Kuasa. Itu artinya karma menentukan takdir manusia sebagai “anugrah”. Apa wujud takdir itu?, tentu jawaban itu akan sangat jelas dirasakan oleh manusia dalam mengarungi swadharmanya. Perbuatan manusia yang melewati batas kesadaran dan toleransi semesta, seringkali mengacaukan tatanan situasi. Barangkali inilah sifat Kuasa-Nya sebagai Penghacur yang amat sulit disadari hadir dalam diri insan-insan tertentu. Akibatnya menjadi kehancuran, lalu tercipta sesuatu yang baru, bisa memberi dan memenuhi berbagai harapan hidup.
Dua wujud kuasa ini menentukan gelombang kehidupan menjadikan hidup dan berdaya guna bagi masing-masing insan duniawi. Wujud budaya masing-masing insan inilah keragaman dan perbedaan yang ditentukan oleh ruang dimana dia dilahirkan dan kuasa Sang Waktu untuk memberi hidup dan membesarkan budaya itu. Lalu menjadi tradisi budaya yang diwariskan dan siap diwarisi oleh kelompok-kelompok tertentu.
Bila tidak sesuai dengan situasi dan perubahan jaman maka budaya tradisi itu tinggal nama dalam catatan atau ingatan tanpa pengikut. Itu artinya budaya telah lebur, entahlah wujudnya meresap pada budaya yang baru atau tidak. Tetapi setidak-tidaknya telah menjadi pondasi psikologis bagi budaya berikutnya. Bila tradisi itu memberikan kontribusi dan daya hidup material dan spiritual budaya tradisi itu pasti dijaga dan dilaksanakan, walaupun dengan berbagai tantangannya.
Dengan demikian budaya adalah cara hidup komunitas tertentu yang sering disebut tradisi kecil, karena hanya hidup di suatu wilayah. Tetapi dalam ranah pergaulan budaya-budaya itu, juga mencirikan esensi kehidupan lalu tercipta budaya pergaulan atar bangsa, misalnya nilai-nilai kebijaksanaan dalam memelihara alam semesta, sebagai rumah kita bersama. Upaya-upaya ini melahirkan tradisi besar yang menjadi kesepakatan atar bangsa, misalnya perserikatan bangsa-bangsa yang mampu melindungi hak hidup masing-masing bangsa di bumi.
Sadar bersama memelihara alam semesta dan hak hidup bersama di bumi, itu artinya esensi dasar menghormati semua ciptaan-Nya dan “memuliakan” Sang Pencipta, sebagai Pemelihara, Pelebur, Pemusnah dan Pembebas Abadi. Penyadaran diri dan perjuangan terus menerus bergolak di bumi, melalui pengetahuan material dan pengetahuan spiritual nan suci. Ada yang kokoh, tulus ikhlas memegang dan melaksanakan prinsip ajarannya hingga merasakan nikmatnya rasa damai di bumi. Dan juga ada yang mengabaikan hingga “terabaikan” pula dari rasa damai itu sendiri hingga berubah menjadi pengusung sifat-sifat makhluk lainnya. Realitas ini patut disadari hingga karma kebajikan dapat dan memperoleh peluang untuk didharma bhaktikan.
Ketika pengusung nilai kebajikan dan pengabdian ini semakin banyak tumbuh di bumi maka, budaya tradisi yang semata-mata bersifat material menjadi kokoh dan kuat serta tulus menjadi budaya tradisi yang berpengetahuan suci yang bisa mendamaikan kepada siapapun yang “tersentuh”. Edukasi dan pembinaan nilai-nilai kemanusiaan ini sesungguhnya amat serius dibutuhkan saat ini, agar bisa menghadapi tantangan dunia material yang amat cepat. Tugas besar inilah sesungguhnya tradisi besar sebagai esensi universal yang mendamaikan, aktivitasnya bisa didukung oleh tradisi manapun di bumi. Bagaikan sungai yang selalu menuju lautan samudra. Semoga menjadi renungan dan refleksi.









Facebook Comments