November 3, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“RASA ESTETIK DAN SENI, BAYANG-BAYANG KEBENARAN”

Oleh  : I Ketut Murdana

Kualitas rasa indah yang mengalir secara hakiki dalam diri setiap orang, adalah “kebenaran” esensial nan vital. Bangkit, hidup dan berkembannya rasa estetik inilah mengantarkan kepekaan indrawi menyaksikan obyek estetik wujud alam semesta beserta segala isinya. Ketakjuban, kesahduan, kekaguman menjadi rasa tarik menarik antara subyek dan obyek yang menjadi endapan pengalaman estetik. Rasa tarik menarik terhadap ketakjuban itu, menimbulkan rasa senang, nikmat bahagia, sehingga ingin selalu mengenang dan mengulangi rasa kesahduan itu, entahlah pada obyek itu sendiri maupun obyek-obyek lainnya.

Bagi para wisatawan yang telah tersentuh rasa damai dari obyek-obyek estetik itu, selalu ingin menikmatinya terus, hingga membuat rumah, Villa, Restoran, serta ecowisata lainnya. Dalam kontek ini rasa estetik yang bergelora di dalam diri seseorang merindukan keindahan semesta yang merupakan sumber dari segala sumber yaitu “Ibunya sendiri” Yang Maha Indah (Sundaram). Realitas ini menempatkan jiwa manusia sadar tidak sadar telah mendekat pada belaian kasih Ibu Semesta.

Sesungguhnya betapa besar  kerinduan yang tersembunyi itu menggerakkan hasrat estetik lalu mengumpulkan material hingga bisa pergi kemana-mana mendekat pada Ibu Semesta nan Sundaram yang penuh kemurnian yang membahagiakan itu. Ada beberapa teman penulis berbicara, saat-saat kesibukannya menggerakkan roda bisnisnya, seringkali terjadi kesumukan bahkan ketegangan akibat kompetisi sehat atau juga tidak sehat.

Realitas ini menggerakkan hatinya untuk pergi ke Bali, menikmati keindahan alamnya, budayanya serta keramahan penduduknya yang masih terpelihara baik di pedesaan. Menyaksikan realitas ini setidak-tidaknya ada tiga (3) aspek utama yang memberi energi supra yaitu: energi Ibu Semesta (Sundaram-mendamaikan), energi Seni Budaya (menghibur-menenangkan-membangun daya kreatif) dan enegi Humanis (esensi kesamaan rasa yang memurnikan-tattwamasi).

Kehadiran mereka itu membawa energi material untuk merawat, memelihara, menyuburkan dan seterusnya agar bisa memberi kenikmatan bagi wisatawan dan juga orang-orang penyedianya. Pergulatan dan dinamika persaingan inilah seringkali melupakan asupan energi kepada penyedianya, hingga seringkali terjadi kepincangan sosial, bahkan kerusakan lingkunganpun tak terhindarkan.

Rasa estetik dalam ranah ini diawali  bayang-bayang nikmat kesahduan estetik yang membahagiakan lalu menjadi prilaku ekonomi, menempatkannya pada “kebenaran pengetahuan material” (Karma Kanda) yang menjadi pondasi kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh siapaun.

Seni menempatkan hakekat penciptaannya terhadap nilai-nilai esensial kesahduan estetik, membawanya kedalam bayang-bayang imajinasi (wujud bayang) dan juga  realitas indrawi nan realistik natural. Artinya, wujud bayang imajinasi adalah wujud imajiner yang banyak menempati ruang dan varian wujud estetik, misalnya: wujud seni horor, di Bali ada topeng Celuluk.

Sebelumnya tersaji dalam catatan sejarah, bahwa wujud realistik natural mengawali proses imajiner itu, mulai dari primitif, Klasik lalu berproses dalam perjalan waktu, muncul aliran-aliran Realisme, Naturalisme, Impresionisme, Ekspresionisme, Abstrak dengan berbagai sajiannya dan seterusnya itu. Perjalan sejarah penciptaan seni itu, menempatkan seniman menangkap “bayang-bayang” menjadi wujud “bayang-bayang indrawi”. Kemudian diakui oleh masyarakat akibat “ketinggian” atau “keunikan bayang-bayangannya”. Dengan demikian tersaji “kebenaran baru” yang tersaji akibat proses kreatif pengejaran bayang-bayang yang tiada henti. Bila berhenti berarti berhentilah penciptaan seni itu. Barangkali disinilah proses kreatif penciptaan seni berada pada posisi Sadguna Brahman.

Pertanyaannya apa lantas bayang-bayang itu, inilah yang patut direnungi dan dijawab oleh ilmu lain. Ketika mengejar bayang-bayang itu, dikaitkan dengan sumber bayangan itu sendiri, maka dalam “tahapan tertentu” bayangan itu akan “tertuju dan berhenti pada tempat-Nya sendiri”. Hingga tidak ada lagi apa-apa atau imaji-imaji dan lain sebagainya, yang terjadi adalah “kebahagiaan yang tiada tara” bagi penemunya sendiri. Barangkali di sinilah alam Nirguna yang menjadi tujuan bagi setiap insan di dunia ini. Ketika sudah demikian penciptaan seni telah menjadi “kebenaran” yaitu “kebenaran Spiritual” (karma Jnana).

Dengan demikian gelora rasa estetik menjiwai penciptaan seni mengantarkan kerinduan dalam penyatuan pada sumbernya, walaupun dalam sekejap, merasakan kebenaran yang membahagiakan yang tiada tara.  Semoga menjadi renungan dan refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!